CAFÉ MUSÉE JACQUEMART ANDRÉ, PARIS

Siapa bilang berkunjung ke museum itu membosankan? Apalagi jika di dalamnya ada butik keren dan café yang memanjakan pengunjungnya dengan berbagai makanan, minuman, dan dessert yang lezat. Setidaknya itu yang saya rasakan ketika berkunjung ke café musée Jacquemart André di Paris.

Cuaca yang cerah mengiringi langkah saya menapaki jalan yang menanjak menuju ke museum megah nan mewah penuh koleksi lukisan dan patung-patung berharga karya seniman terbaik di dunia. Bayangkan! Di museum ini ada Rembrandt, Jacques Louis David, Canaletto, Bernini, Jean Honoré Fragonard, Sandro Botticelli, dan masih banyak lagi mahakarya spektakuler dari seniman berbakat. Penggemar seni dan lukisan pasti terpuaskan dahaganya akan keindahan…

Sebelum masuk ke museum saya memutari seluruh bangunan yang awalnya adalah rumah milik pengusaha kaya raya Perancis, Édouard André dan istrinya Nelie Jacquemart yang berprofesi sebagai pelukis. Pada tahun 1913 rumah beserta seluruh koleksinya diwariskan pada Institut de France untuk dijadikan sebuah museum.

Dari langkah pertama memasuki gerbang hingga berakhir di pintu keluar pengunjung dimanjakan dengan selera tinggi yang penuh kemewahan. Seluruh taman dan jalan yang melingkar dihiasi dengan patung-patung karya seniman terkenal. Bangunan dan halamannya yang luas membuat saya sejenak lupa bahwa sedang berada di tengah kota Paris!

Setelah puas berkeliling, saya menuju ke satu-satunya café yang berada di bagian samping museum. Café bernama sama, Jacquemart André adalah café yang sangat indah dan menakjubkan. Café ini bahkan masuk ke dalam Top 10 Museum Cafes and Restaurants in Paris. Sebuah pengakuan bergengsi yang membanggakan…

Desain café Jacquemart André mengambil tema klasik dengan dominasi warna merah hati pada furniture, tirai, dan lampu-lampu yang menghiasi seluruh ruangan. Dindingnya dipenuhi lukisan dan beberapa patung ikut diletakkan sehingga menambah kesan artistik pada interior café. Spot dari café ini adalah sebuah tungku pemanas ruangan yang terbuat dari batu pualam berkualitas terbaik. Di bagian atasnya terdapat lukisan besar yang sangat indah dan menakjubkan.

Café Jacquemart André merupakan interpretasi dari selera yang sangat berkelas dari pemiliknya, Édouard André dan istrinya Nelie Jacquemart. Berbeda dengan café dan restoran mewah lainnya di kota Paris yang banyak meniru desain dan kemewahan istana Versailles tetapi tidak ada (atau sangat jarang) yang diisi dengan lukisan-lukisan terbaik mahakarya dunia seperti yang terdapat pada café musée Jacquemart André.

Di tempat ini pengunjung dapat melihat sebuah perbedaan, seperti apa yang benar-benar classy, atau yang sekedar berdesain mewah tapi tanpa berisi barang-barang berkelas. Sebagai contoh, 1 lukisan di museum ini saja dapat membuat beberapa cafe berdesain mewah sekaligus!

Di café ini saya mendapat meja makan yang berada di bagian terindahnya. Saya bahagia sekali dapat duduk dengan latar belakang lukisan raksasa yang spektakuler dan patung pualam yang cantik. Bakalan foto-foto terus deh disini hehehee…

Beberapa pelayan dengan sigap segera mendampingi dan mencatat pesanan untuk saya. Setelah itu ada lagi seorang pelayan yang standby dan siap memenuhi apapun yang saya butuhkan. Pelayanan yang baik, ramah dan menyenangkan… Tak salah jika café ini masuk jajaran top 10 café terbaik di Paris.

Saya memesan menu makan siang dan dessert yang menurut saya paling lezat. Di café ini memang tidak banyak pilihan makanan. Dan yang jelas ini café, bukan restoran, brasserie atau bistro yang mengkhususkan diri pada makanan. Pada umumnya cafe hanya menyajikan makanan ringan saja. Jadi, pada saat makan siang harus dipilih yang paling enak dan mengenyangkan. Kecuali bagi anda yang sedang diet yaa… Beda lagi ceritanya…

Sambil menunggu makanan datang, seperti biasa saya suka berpikir, berpikir, dan berpikir memaknai yang terjadi disekeliling saya… hehehe…

Kali ini yang hinggap di kepala saya tentang mahakarya yang popularitasnya diakui dunia, diperebutkan para kolektor, dan menghias museum-museum terkenal dunia.

Saat ini sangat sulit untuk mendapatkan lukisan dari pelukis terkenal yang terjamin keasliannya, kecuali lewat balai lelang yang sudah diakui kredibilitasnya. Melalui balai lelang pun harus lewat berbagai prosedur, termasuk memberikan jaminan dan aneka persyaratan lainnya. Begitu pula sebaliknya, jika ingin melelang benda antik dan berharga pun wajib memasukkan benda tersebut beberapa bulan sebelumnya untuk di cek oleh kurator dan orang-orang yang ahli di bidangnya hingga kemudian dibuatkan sebuah katalog yang memuat seluruh data dari barang-barang yang akan dilelang.

Motivasi para pengikut lelang pun beragam. Ada yang memang kolektor betulan, dan ada pula untuk tujuan investasi karena setiap tahun ada pertambahan nilai dari barang tersebut. Apalagi jika terlelang jauh diatas target, dan itu sering terjadi pada benda antik dan lukisan karya seniman ternama.

Bagi negara yang tidak memiliki aturan ketat, sangat mungkin terjadi balai lelang dijadikan tempat untuk pencucian uang dan menghindari pajak. Identitas bisa disamarkan atau dialihkan pada pihak lain bukan? Terkadang sulit mengidentifikasi apalagi jika barangnya berbentuk perhiasan.

Saya salut dengan kolektor lukisan dan barang antik yang rela berburu ke seluruh dunia untuk mendapatkan impian mereka. Salah satunya adalah pemilik museum ini, Édouard André dan istrinya Nelie Jacquemart.

Dalam hati saya berpikir, apakah mereka mempunyai kepuasan tersendiri karena memiliki lukisan langka yang diperebutkan banyak kolektor? Yang pasti, tentu ada kebanggaan luarbiasa dapat memilikinya…

Hakikat kebahagiaan itu bukan pada masalah berapa banyak orang bisa mengoleksi barang berharga. Diatas itu semua, kembali lagi pada kepuasan, ketenangan dan rasa bersyukur yang akhirnya mendatangkan kebahagiaan lahir batin. Pada akhirnya, semua perburuan lukisan dan barang antik tersebut bahkan disumbangkan agar dapat dinikmati oleh masyarakat umum. Itulah yang disebut kebahagiaan hakiki, yaitu ketika memberi lebih menyenangkan daripada mendapatkan.

Tak terasa sudah 1 jam saya berada disini. Seluruh makanan yang super lezat telah habis… Andai tak kekenyangan rasanya ingin menambah sepotong cake-nya. Saya lalu memberi apresiasi berupa pujian tentang betapa enaknya cake yang saya makan sambil bertanya dimana selain disini saya dapat menemukannya? Tak disangka pelayan yang baik hati memberi saya sebuah kartu nama untuk mendapatkan cake tersebut. “Merci beaucoup! C’est très gantile…”

Setelah membayar seluruh bill makanan saya pun pamit dan beranjak menuju ke butik yang terletak di samping museum. Butik ini menjual beragam souvenirs, kado dan berbagai alat keperluan rumah tangga.

Seluruh barangnya memiliki desain yang cantik dan menarik dengan motif dan warna yang menawan. Butik yang cukup luas ini pun ramai dipenuhi pengunjung. Jika saja tidak memiliki jadwal lain, rasanya ingin berlama-lama disini. Akhirnya saya bertekad lain hari akan kembali lagi dan memilih waktu sore hari agar lebih leluasa. Au revoir, la belle musée! C’est superb… J’adore!

Musée Jacquemart-André

158, Boulevard Haussmann

75008 – Paris, France

PADA SEBUAH CAFÉ

Aku melihatnya duduk sendirian… Menatap cangkir kopi dalam diam… Wajah yang demikian tampan, dan semakin rupawan dibawah sinar lampu yang temaram…

Aku lalu duduk disatu-satunya kursi kosong yang berada disebelahnya. Memanggil pelayan dan memesan secangkir kopi dan cake kegemaranku.

Sambil menunggu pesanan datang, aku meliriknya diam-diam dengan sudut mata, tentunya berusaha agar tidak kentara… Wajahnya sungguh sempurna… Aku pikir Tuhan pasti sedang sangat bahagia menciptakan pria ini. Wajahnya terus menunduk, seakan ia hanya satu-satunya orang yang berada disini… Ada sedikit kesenduan diguratan wajah tampannya, mungkin ini yang membuatnya semakin menarik dan membuat orang menebak-nebak apa yang terjadi padanya.

Aku pikir, wajah sendu dan sedih itu berbeda… Wajah sendu itu pancaran dari hati yang paling dalam, atau memang ia beruntung dikaruniai wajah indah dengan gurat kesenduan. Sedang wajah sedih, kesal dan marah itu diakibatkan oleh emosi sehingga justru jadi terlihat tidak menarik.

Wajah ceria dan friendly memang menyenangkan dan bikin hidup suasana, tapi kupikir wajah sendu dan diam dalam kesendirian lebih menarik perhatian…

Aku jadi ingat beberapa orang yang memiliki wajah sendu dan penyendiri… Salah satunya idolaku, Keanu Reeves. Walaupun memiliki segalanya, ia tak tergoda dengan impian dunia. Merenung, membaca, bekerja, dan berjalan sendirian menikmati hidup dan dunianya…

Apakah mereka kesepian? Banyak orang berpikir mereka kesepian dan tidak memiliki banyak teman… Tapi kurasa tidak… Mereka memang ingin menjauhi kehidupan dunia luar dan isinya. Mereka betul-betul dapat menerima, dan justru lebih memaknai hidup dengan berada sendirian. Itu adalah sebuah pilihan yang secara sadar mereka pilih.

Seorang berwajah sendu dan terlihat indah juga berada di Indonesia… Makhluk rupawan ciptaan Tuhan ini mungkin tak menyadari apa yang keluar dari dirinya menggambarkan kesenduan yang sangat… Foto-foto yang kelam tanpa dirinya muncul disana… Objek tunggal atau beberapa objek yang saling terpisah sepertinya merupakan favoritnya. Tentu juga ada sedikit foto dirinya yang lebih banyak sendiri tanpa teman dengan senyum dan mata indah yang sendu…

Diamnya membuat ia tampak begitu berharga dan sulit dijangkau… Jika berbicara pun hanya sedikit dengan kalimat-kalimat yang sangat terkontrol, rapi, dan menggunakan bahasa Indonesia resmi atau Inggris yang sopan. Attitude dan manners-nya sangat tinggi, menunjukan dirinya seorang yang terpelajar dan dibesarkan dalam lingkungan yang baik. Dia… Seorang ekstrovert sejati dengan wajah sungguh rupawan! Diam-diam aku mengaguminya…

Mudah-mudahan suatu hari aku dapat mengenalnya… Ouupps! Sorry if this is out of topic yaa guys…

Kembali ke suasana di cafe ini…

Hari sudah menunjukkan pukul 10 malam. Seorang pelayan mengantar berbagai makanan, minuman, dan dessert ke mejanya. Dalam hati aku agak merasa heran, mengingat ini sudah bukan jam makan malam lagi. Dalam diamnya ia makan pelan-pelan…

Tak lama pesananku pun datang. Aku menikmatinya sambil sesekali membuat foto dan memandang jalanan kota Paris yang indah… Lampu-lampu berjejer dengan kokoh seakan menantang malam yang gelap gulita. Memang tidak ada bintang. Tapi ribuan lampu di kota cahaya ini mampu menghidupkan suasana kota Paris.

Tak kusangka ia menatapku dan tersenyum. Senyum paling menawan yang pernah kulihat… Senyum yang layak disanjung dunia… Senyum yang membuat semesta terang benderang…

Dengan suara rendah dan sopan ia berkata bahwa aku memiliki mata yang indah (sejujurnya aku sudah bosan dan kebal dengan pujian yang selalu sama ini). Aku lalu tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Aku memang tidak pernah menyangkal pujian. Terlepas itu tulus atau tidak, karena menyangkal atau menolak, sama artinya dengan meminta penegasan agar dipuji kembali. Jadi, lebih baik aku langsung mengucapkan terimakasih supaya selesai sampai disana saja.

Setelah sedikit percakapan basa basi kami bertukar nomer telepon. Itu adalah hal yang wajar dalam sebuah perkenalan. Aku juga terkejut mendapati bahwa ia sudah membayar seluruh tagihan bill termasuk mejaku. Padahal kami hanya berkenalan sekilas saja…

Sambil berjalan kembali ke hotel aku berpikir… Demikian mudahnya orang terpikat hanya dengan tatapan mata… Aku yang mengagumi pemilik mata sendu, dan orang lain yang menyukai mata indah… Semua hanya karena mata!

Mungkin betul juga jika ada yang mengatakan mata itu memiliki daya hipnotis, memiliki daya pikat… Mata itu adalah pancaran jiwa pemiliknya… Mata bisa berbicara, bahkan tanpa perlu kata-kata… Mata bahkan dapat menunjukkan hasrat pemiliknya!

Di lain waktu aku mungkin harus lebih hati-hati dalam momen saling tatap menatap ini agar tidak terbongkar isi hati dan pikiran… Atau apakah ini yang menjadi sebab mereka yang berwajah sendu senang menundukkan kepalanya? Padahal raut wajahnya secara keseluruhan sudah menggambarkan perasaannya… Apalagi yang harus disembunyikan?

Sebagai manusia kita memang hanya bisa menebak-nebak karena kita tidak berada di jalan yang sama dengan mereka… A mind reader pun tidak bisa setepat itu membaca pikiran manusia… Lagipula, dari beberapa cerita yang kudengar, kesenduan tidak selalu berhubungan dengan kesedihan mendalam. Sedih dan senang itu situasional dan emosional. Perasaan yang hinggap dalam waktu tertentu, dan akan kembali normal dalam beberapa saat, atau dalam jangka waktu tertentu. Jadi, bisa saja memang tipe wajahnya seperti itu, ditambah sifat yang penyendiri sehingga terlihat melankolis dan menumbuhkan rasa penasaran.

Hari makin malam… Aku mengatupkan krah mantelku hingga ke leher… Berjalan cepat melawan angin yang mulai tak bersahabat. Dalam cuaca dingin seperti ini, Avenue des Champs Élysées masih saja ramai… Jalan penuh kenangan bagiku, kamu, dan orang-orang yang datang dan pergi membawa sejuta perasaan…

WANITA DAN KOPI

Mungkin bagian dari emansipasi…

Mungkin ingin menunjukkan jati diri…

Mungkin ingin jadi barista ahli…

Mungkin biar kelihatan trendi…

Mungkin sedang ingin berpuisi…

Mungkin, mungkin, dan seribu mungkin lagi…

Tapi yang tak dapat dipungkiri…

Aku adalah seorang pecinta kopi…

SUATU SORE DI CAFE LA BELLE POULE, PARIS

Bulan Maret yang dingin… Winter belum juga berakhir. Langit kelabu, sesekali membiru, hingga akhirnya pudar ditelan kabut…

Aku berjalan pelan di sepanjang avenue Hoche. Salah satu dari 12 jalan ternama yang membelah Arc de Triomphe yang berada di ujung avenue des Champs Élysées. Cuaca yang mendung membuatku berniat mampir sejenak di sebuah café. Pilihanku jatuh pada café La Belle Poule. Terasnya terlihat nyaman dengan penutup kaca disekelilingnya guna melindungi pengunjung dari cuaca dingin. Lampu-lampu bercahaya kuning menghias di sepanjang plafon cafe membuat suasana sore yang dingin menjadi lebih hangat.

Aku memesan secangkir kopi. Tak ada makanan, karena makanan hanya disajikan pada jam makan malam, yaitu jam 7 malam waktu setempat. Lagipula rencananya nanti aku akan dinner di restaurant Thailand yang berada tak jauh dari tempat ini dengan alasan klise, kangen nasi dan masakan berempah dengan bumbu khas yang pedas.

Hujan akhirnya turun membasahi kota Paris, namun tak sedikit pun mengurangi kecantikannya… Dari balik kaca aku memandang rintik-rintik hujan. Sekilas mirip tirai kristal, indah namun tak dapat disentuh…

“Voila! Votre café modemoisele”

Aku bergeming ketika kopi disajikan pelayan di meja. Kemudian segera mengucapkan terimakasih, dan memasukkan sepotong gula ke dalamnya. Hal yang mungkin tak akan dilakukan penikmat kopi sejati karena akan merusak cita rasanya.

Ahh biarlah aku menikmati kopi dengan caraku… Kenikmatan orang kan berbeda-beda… Yang penting nyaman dan bahagia walaupun tidak dengan cara yang sama…

Aku bersyukur bahwa café ini tidak terlalu penuh oleh pengunjung, sehingga dapat lebih menikmati kopi dan suasana sekitarku. Sayangnya tak lama kemudian datang serombongan anak muda memenuhi 4-5 meja di sekelilingku. Sepertinya salah satu dari anak baru gede ini ada yang merayakan ulang tahunnya, sehingga suasana jadi berisik dan agak sedikit menggangguku. Mereka berbicara sambil berteriak-teriak dari satu meja ke meja lainnya sambil sesekali tertawa kencang.

Aku yang menyukai kesendirian jadi merasa terasing di tengah keramaian. Seringkali aku terpaksa berada dalam kondisi seperti ini. Sebenarnya tidak terlalu masalah jika tidak ada suara berisik karena ada juga café yang ramai tapi pengunjungnya sibuk dengan diri sendiri, atau berbicara hanya dengan 1-2 orang sehingga tidak mengganggu sekitarnya. Atau mungkin hanya introvert sepertiku yang terganggu?

Carl Gustav Jung mungkin ada benarnya… Psikolog terkenal yang menggagas tipe kepribadian manusia ini mengatakan bahwa seorang introvert cenderung menarik diri dari kontak sosial dan merasa nyaman dengan dirinya sendiri. Mereka tidak anti sosial karena mereka sesekali tetap bergaul, tetapi hanya mau dengan orang-orang yang telah dikenalnya dengan baik. Introvert dalam kesehariannya lebih memilih di rumah daripada bertemu banyak orang di keramaian yang justru akan membuatnya merasa terasing dan menguras energinya.

Dan aku… Dalam sebuah kondisi sesekali juga berbincang dengan orang yang baru aku temui. Aku beruntung sering bertemu orang yang memiliki wawasan luas dan pintar di bidangnya, walaupun 1-2 ada juga yang menyebalkan dan mencari orang yang bisa dimanfaatkan. Aku menyebutnya pengecut-pengecut bodoh (ngga boleh ketawa bacanya ya!). Aku tidak bermaksud mengumpat dengan indah, walaupun yang tersurat terlihat seperti itu.

Hhmm… Jam masih menunjukkan pukul 5 sore… Aku merapikan syalku, lalu memesan secangkir kopi lagi untuk menghabiskan sisa waktu hingga saat dinner tiba. Kemudian mengamati sekitarku sambil berpikir dan mencoba memahami “Mengapa kita berbeda dalam berprinsip dan mengadopsi nilai-nilai kehidupan” dari sudut pandang beberapa filsuf dan psikolog terkenal yang pernah aku baca bukunya.

Favoritku adalah Sartre, seorang eksistensialis asal Perancis. Menurut Sartre, “Orang lain adalah neraka bagi diriku.” Sartre menegaskan bahwa dirinya tidak merasa bebas dan merdeka oleh kehadiran orang-orang yang berada disekitarnya. Keberadaan orang lain membuat dirinya menjadi obyek, dan mereka subjeknya. Sartre adalah seorang pemuja kebebasan sejati, tak heran ia begitu mengagung-agungkan kemerdekaan menjadi diri sendiri, dan memilih tidak terikat dengan berbagai hal yang ada disekelilingnya.

Pemikiran Sartre yang juga terkenal yaitu “L’etre-pour-soi” yang diartikan sebagai pengada yang sadar akan diri sendiri. Individu dianggap secara total memiliki sikap atas dasar dirinya sendiri. Sedangkan “L’etre-en-sois” adalah pengada yang tidak sadar akan dirinya sendiri sehingga tidak memiliki pendirian dan tidak punya sikap, serta tidak sadar memiliki tanggungjawab. Hewan bahkan dikategorikan juga ke dalam “L’etre-en-sois.” Duhh ngeri sekali yaa kalau ada manusia seperti ini… Tak ada bedanya dengan hewan!

Aku meneguk kopiku yang sudah mulai dingin sambil membiarkan jari-jariku terus memeluk badan cangkir…

Aku jadi teringat Freud, seorang psikolog, filsuf, dan juga penulis yang dikenal karena membagi manusia dalam kategori Id, Ego, dan Superego. Menurut Freud ketiga hal tersebut harus seimbang dalam kehidupan manusia yang sehat. Disini aku justru sangat tertarik dengan ungkapannya, “It is impossible to escape the impression that people commonly use false standards of measurement that they seek power, success and wealth for themselves and admire them in others, and that they underestimate what is of true value in life.”

Secara singkat, orang-orang egois dan munafik itu eksis dalam kehidupan nyata. Mengejar ambisi kekuasaan sekuat tenaga tanpa menyadari banyak hal lain yang berharga dalam hidup ini. Meremehkan orang lain yang memiliki cara pandang berbeda karena dibutakan kesombongan dan kekuasaan. Hal ini disebabkan karena ketidakmampuan ego mengatasi desakan dominasi Id. Secara psikis mentalnya sudah tidak sehat.

Tentu saja tidak semua orang seperti itu… Orang yang sehat dan seimbang Id, Ego dan Superego-nya dapat menikmati hidup ini dan menghargai sekelilingnya, termasuk keindahan alam di sekitar kita.

Aku ingin memperkuat argumenku dengan teori yang diajukan oleh ahli geologi terkemuka, Charles Darwin. Menurut Darwin, “Manusia dicirikan tidak hanya dengan fisik yang khas, namun juga dengan sifat-sifat psikis tertentu.” Salah satu butir penjelasannya menyebutkan bahwa; manusia normal memiliki moral; dalam arti manusia yang beretika.

Secara jelas Darwin telah membuat definisi normal dan tidak normal pada diri manusia berdasarkan pada moral dan etika yang meliputi tentang adab bertingkah laku, cara berkomunikasi yang baik, cara menghargai orang lain, hak, kewajiban, serta menunaikan tanggungjawab atas apa yang telah diperbuat. Jangan sampai ketidaknormalan dalam beretika ini membuat manusia menjadi sederajat dengan hewan bukan?

Albert Camus, seorang filsuf terhormat dalam bukunya menyebut Nietzche yang dikenal dengan paham nihilisme-nya pernah berteriak dengan putus asa: “Hati nuraniku dan hati nuranimu tidaklah sama!”

Nihilis (bukan atheis) yang tidak mampu mempercayai sang kuasa saja bisa berbicara tentang hati nurani. Sementara orang-orang yang memiliki keyakinan ada sebagian dari mereka yang justru sudah kehilangan hati nuraninya hingga tega menjadi predator bagi sesamanya.

Dunia ini gila? Tidak, dunia ini sama saja dari dulu hingga sekarang… Hanya penghuninya yang terkadang memiliki ego yang tinggi, gila kekuasaan hingga menghalalkan segala cara dengan menggunakan topeng-topeng berwajah baik.

Persamaan diantara keduanya adalah sama-sama mengingkari untuk menerima dunia ini seperti apa adanya. Itu sebabnya manusia dari waktu ke waktu ingin merubahnya dengan caranya masing-masing. Kenyataannya mereka hanya mampu memolesnya diatas fondasi yang tetap sama. Lalu terus cakar-cakaran untuk berusaha menganti polesan tersebut.

Tulisanku ini mungkin agak panjang lebar dan sulit dimengerti bagi sebagian orang walaupun aku sudah berusaha menulis dengan bahasa yang ringan dan sederhana… Tidak masalah, karena seorang filsuf seperti Derrida pun pernah menyatakan bahwa;

“Tidak ada bahasa baik tertulis atau lisan, yang secara sempurna menjadi sarana transparan untuk menjelaskan makna.”

Mungkin kamu berpikir aku mencari pembenaran atas sikap dan prinsipku lewat berbagai dalil dan teori. Tapi, aku rasa semua orang berhak memiliki alasan kuat yang mendukung tindakan dan ucapannya hingga menjadi sebuah prinsip yang kuat. Sebab jika tidak kita akan jadi mudah goyah, gampang diprovokasi hingga akhirnya tidak lagi menjadi diri sendiri. Ini adalah salah satu dasar yang membuat aku berbeda dengan orang lain yang suka ikut-ikutan, dan membuatku tidak tergantung dengan orang lain.

Memiliki sikap dan prinsip yang kuat menbuatku percaya diri dengan semua yang aku putuskan, semua yang aku lakukan dimana pun aku berada. Aku tidak pernah takut sendirian, di tempat yang sangat asing sekali pun. Aku berani menyatakan pendapatku karena aku tahu memiliki dasar yang kuat dibalik itu semua. Aku berani melakukan hal-hal yang mungkin tidak pernah kamu bayangkan…

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 6.30 sore. Bayangan masakan Thailand yang lezat menari-nari di kepalaku… Rasa pedas dan harum rempah-rempah yang aku rindukan membuatku ingin segera menuju kesana… Garçon! L’addition, s’il vous plait!

___________________

___________________

NB:

Tulisan ini sengaja dibuat berbeda dengan tulisan-tulisan perjalanan dan ulasan cafe lainnya karena disini cafe hanya dijadikan backgroud dari isi tulisan. Tentunya lebih mudah bagi saya menulis review dan memberi informasi tentang traveling, kopi dan café lewat tulisan seperti biasanya, tetapi saya ingin ada beberapa yang lebih berbobot dengan memasukkan pemikiran dan unsur ilmu pengetahuan ke dalamnya.

Semua ditulis tetap dengan bahasa yang mudah dipahami. Penggunaan “Aku” dalam beberapa tulisan agar jarak penulis dan pembaca tidak terlalu jauh, dan semoga pembaca dapat lebih merasakan isi tulisan ini.

Saya juga berharap pembaca dapat memberikan komentar, kritik dan saran tentang tulisan ini lewat Twitter @RianaRaraKalsum atau ke Email:

rianapamuncak@gmail.com

Terimakasih… Happy reading!