BERBAGAI PENGALAMAN MENARIK SELAMA TRAVELING


  
Traveling selain menikmati berbagai objek wisata dan tempat indah di berbagai negara, juga dapat menambah pengalaman dan wawasan. Beragam kebiasaan dan budaya di tempat berbeda membuat saya juga semakin menghargai perbedaan.
Ada berbagai pengalaman menarik, unik, dan terkadang lucu yang saya temui selama perjalanan dan membuat saya terkesan.
Saya akan menuliskannya untuk anda, sambil berbagi pengalaman dan mudah-mudahan kita dapat mengambil hal-hal positif dari kejadian ini.
Saya masih ingat kejadian beberapa tahun lalu saat liburan di Rome, Italia bersama anak-anak. Setiba di bandara, seluruh penumpang termasuk kami menunggu bagasi tiba di bandara. Kemudian koper saya tiba, dan saya bersiap mengambilnya. Koper tersebut sangat besar dan berat. Saat saya bersiap-siap, tiba-tiba muncul seorang anak kecil berambut pirang berumur sekitar 7 tahun. Anak itu langsung berusaha membantu saya mengambil koper. Tangan kecilnya terus menarik-narik koper sekuat tenaga sampai hampir terjungkal ke belakang. Saya masih bengong dan kaget sampai seorang pria muncul menbantu anak kecil itu menurunkan koper saya.
Kemudian koper kedua berwarna merah muncul, saya menunjuk ke koper tersebut sambil mengatakan pada anak saya, bahwa kopernya juga telah tiba. Si anak kecil berambut pirang rupanya masih tanggap, secepat kilat dia lari mengejar koper saya, dan sekali lagi berusaha menarik koper itu sampai hampir terjungkal hingga dibantu oleh orang lain.
Tentu saja saya terkejut sekali dengan tingkah lakunya… Luarbiasa berani dan baik hatinya. Saya kemudian mendatangi anak tersebut, mengucapkan terimakasih kepadanya, dan kepada orangtuanya yang tiba-tiba muncul menyusul anak itu. Orangtuanya mengusap-usap kepalanya. Mereka sekeluarga berbicara dalam bahasa Inggris. Saya katakan, kamu anak yang sangat baik. Anak itu sepertinya kecewa tidak berhasil membantu menurunkan koper saya.
Pelajaran moralnya adalah, pada dasarnya tidak ada manusia yang sedari kecil Rasis, dan pada dasarnya manusia itu baik. Pengaruh alam dan lingkunganlah yang kemudian membuat watak manusia berubah.
Saya katakan pada anak-anak saya; Contoh itu, dan lihat anak kecil itu begitu baik, tulus, dan menolong orang lain tanpa membeda bedakan suku, agama dan lain sebagainya.
Banyak orang berkata bahwa masyarakat Perancis itu sombong dan angkuh. Yakin?Dalam salah satu liburan di Paris, saya pernah bertanya alamat pada seorang Madame Perancis yang chic dan glamour yang baru saja keluar dari pintu butik terkenal di Paris. Saya pikir, dia hanya akan menunjukkan arah jalan secara verbal saja. Tak disangka dengan sangat baik hatinya dia berjalan bersama saya, mengantar hingga ke jalan yang saya tuju. Alamat tersebut lumayan jauh, dan agak berputar dari tempat saya bertanya.
Pernah juga saat saya berlibur di Cannes, Perancis. Saya menginap di hotel yang jaraknya sekitar 500 meter dari stasiun kereta. Ketika saya menarik 2 koper saya yang besar dan berat menuju hotel, tiba-tiba datang seseorang membantu menarik koper saya hingga sampai ke pintu hotel.
Betul-betul luarbiasa baiknya… Semua dilakukan tulus tanpa pamrih. Tidak ada modus berkenalan atau apapun, murni ingin menolong saya saja.
Hal inilah yang tidak pernah saya jumpai di Indonesia. Menolong orang yang tidak dikenal dengan tulus, karena selama ini yang saya tahu, kita harus bayar jika ada yang membantu kita melakukan sesuatu seperti mengangkat dan mendorong koper.
Selama saya melakukan solo traveling ke berbagai negara, saya beruntung sekali bertemu dengan banyak orang yang sangat baik hati. Saya tidak pernah sekalipun menaik turunkan koper di kereta, walaupun saya mampu melakukannya. Selalu ada yang menolong saya dengan tulus. 
Begitu pula saat ingin berfoto, begitu banyak yang menolong saya mengambil foto. Bahkan tanpa saya perlu minta tolong. Ya, tanpa diminta! 
Sering sekali, saat sedang selfie tiba-tiba ada yang menawarkan bantuan mengambil foto saya. Berkali-kali kejadian ini terjadi dalam perjalanan saya.
Tentu saja saya sangat bersyukur, walaupun traveling seorang diri tetapi banyak diberi kemudahan.
Bahkan kadang saya tidak perlu antri atau mengikuti prosedur yang ribet saat masuk ke suatu tempat, atau bandara hanya karena saya seorang sendiri dan bermata indah.
Wonderful eyes? Kaget? Saya juga kaget… Alasan yang agak aneh, tetapi saya sudah sering mendengarnya di berbagai negara…
Anak-anak saya pun bahkan tertawa terbahak-bahak saat saya ceritakan tentang “wonderful eyes” ini.
Ada banyak kejadian menarik di Paris yang sangat berkesan hingga membuat saya semakin mencintai kota Paris.
Kejadian terakhir yang berkesan di Paris, saat saya sedang membeli buku di daerah Les Halles. Saya mencari buku dibagian sejarah dan filsafat. Setelah memilih dan membayar buku, tiba-tiba seorang pria yang tadi bersama di toko buku menghampiri saya. Dia berkata memperhatikan saya yang tertarik dengan buku-buku filsafat. Lalu pria yang bekerja sebagai editor, dan berkantor di Paris, Rusia dan New York tersebut menawari saya mencari buku filsafat yang lebih lengkap di toko buku FNAC yang berada di bagian dalam Forum Des Halles. Saya katakan mungkin besok saja saya kembali karena toko sudah menjelang tutup. Pria itu mengatakan masih ada waktu, dan akhirnya saya mengikuti ke toko buku.
Betul-betul surga filsafat! Banyak sekali buku-buku filsafat dari para penulis terkenal. Saya merasa sangat gembira berada disini.
Sambil memilih buku, beliau juga menerangkan aliran buku-buku filsafat dan menyarankan buku-buku sesuai dengan minat saya.
Saya mendapatkan beberapa buku menarik, dan kemudian menuju kasir untuk membayar. Tiba-tiba pria itu mengeluarkan kartu member, dan saya hanya membayar buku beberapa persen dari harga yang tertera!! What a surprise!! Benar-benar diluar dugaan… Sangat baik hati sekali…
Kalau dipikir, beliau tidak mengenal saya sama sekali. Seorang turis dari negara yang jauh, dan berani-beraninya membaca buku-buku filsafat dalam bahasa Perancis yang bukan bahasa saya.
Kalau diandaikan kira-kira begini…
Kita di Jakarta, melihat ada orang dari propinsi yang jauh dengan bahasa daerahnya datang ke Jakarta mencari buku-buku filsafat karya penulis besar.

Mau kah kita membantu orang tersebut?? Meluangkan waktu mengantarnya, menjadi guide saat di toko buku, dan memberinya diskon dengan kartu kita? Yakin mau?
“Don’t judge people until you truly know them. The truth might surprise you.”
Kalimat diatas betul sekali…
Betapa masih banyak orang yang mudah menuduh dan mencap orang lain tanpa mengetahui langsung, dan berinteraksi langsung.

Berdasarkan pada pengalaman saya kuliah dan tinggal di Paris bertahun-tahun, dan bolak balik liburan ke Perancis, masyarakat Perancis sangat ramah, baik, tulus dan menyenangkan.
Jika anda masih tidak sependapat, sebaiknya anda yang harus berkaca pada diri sendiri… Mungkin ketidaknyamanan itu justru berasal dari diri anda, bukan dari orang lain.
Pengalaman lain saat di Milan. Saya pernah minta tolong diambilkan foto pada seorang gadis Italia berusia sekitar 15 tahun yang sedang bersama orangtuanya. Gadis tersebut mengambil beberapa foto saya, lalu saya mengucapkan terimakasih dan berlalu dari sana. Sambil berjalan saya melihat-lihat hasil fotonya. Tiba-tiba seseorang berlari ke arah saya… Gadis itu datang tergopoh-gopoh menanyakan hasil fotonya. Apa saya puas atau dia harus mengulang lagi mengambilkan saya foto…
Saya terkejut, sungguh tidak mengira… Betapa baik hatinya orang-orang Eropa yang saya jumpai selama perjalanan. Mereka begitu tulus dan ramah tamah dalam tindakan.
Sebuah pengalaman lain yang berkesan saat saya sedang berada di kereta dari Milan menuju Nice.
Disebelah saya duduk seorang ibu dengan seorang temannya yang duduk di kursi seberang lorong kereta. Karena pada saat itu saya belum sempat sarapan, maka saya menanyakan letak restaurant di kereta pada ibu-ibu Italia tersebut. Si ibu di sebelah saya mengatakan; restaurant kereta letaknya agak jauh di gerbong tengah, sementara kami berada di gerbong pertama. Ibu diseberang lorong yang mendengar, reflek langsung mengeluarkan sandwich dan sekotak kue dari dalam tasnya dan langsung diberikannya ke saya. Saya sangat terkejut dan tidak menduga sama sekali… Saya jadi tidak enak hati dan agak sungkan menerima pemberiannya. Tapi ibu itu bilang, ayo ambil, makan saja… Saya lalu mengucapkan banyak terimakasih. 

Luarbiasa tulus dan baik hatinya ibu-ibu ini… Saya terharu sekali…
Kejadian lain yang membekas saat saya sedang ngopi di Ventimiglia, Italia.
Sambil minum kopi, seorang bapak yang duduk di meja sebelah saya bertanya; Apakah saya datang kesana karena sedang ada bazaar? Saya katakan, bahwa saya tidak mengerti ada bazaar.
Lalu bapak tersebut menceritakan, bahwa beliau senggaja datang dari kota lain untuk melihat bazaar di Ventimiglia. Beliau menceritakan pada saya secara detail dari lokasi, apa saja yang dijual di bazaar, hingga luas lokasi bazaar. Betul-betul pengalaman baru yang menarik. 
Sebelum pamit bapak itu memberi saya buah peach. Lagi-lagi saya dibuat kaget. Beliau bilang saya harus menerimanya dan harus mencobanya karena rasanya enak sekali… Tentu saja saya sangat berterimakasih karena kebaikannya yang tidak diduga-duga, dan kemudian bapak itu mengucapkan selamat tinggal dan melanjutkan perjalanannya.
Berbagai keramahan dan kebaikan yang tulus dari orang-orang yang tidak saya kenal sama sekali. Dan bahkan dari berbagai kejadian diatas, kami tidak pernah saling berkenalan, dan saling menanyakan nama, apalagi berkenalan lebih jauh bertanya ini itu.

Terkecuali editor dari Paris yang memberikan saya kartu namanya, karena beliau suka saya tertarik dengan buku-buku filsafat.
Teringat sebuah kejadian menarik saat saya tiba di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta. Saat itu sudah jam 12 malam. Saya menunggu koper-koper sambil membawa troli. Ada 5 pria Indonesia disekeliling saya yang sedang sama-sama menunggu koper tiba. Kami bahkan sempat berbincang-bincang karena koper-koper agak lama keluarnya dari pesawat.
Setelah melihat koper mulai keluar, saya pun mendekatkan troli agar lebih mudah menariknya, disaksikan 5 pria disekeliling saya. Koper saya tiba di hadapan saya, lalu saya menariknya sendiri tanpa bantuan siapapun. Kemudian saya berusaha mengangkat koper yang berat tersebut ke troli. Sebelum saya sempat mengangkat, tiba-tiba seorang gadis turis berambut pirang yang berada jauh dari saya buru-buru mendekat dan langsung mengangkat sendirian koper saya keatas troli!! Ya, sendirian!! 
Saat itu 5 pria di dekat saya juga terlihat terkejut, dan melihatnya baru mereka buru-buru mau ikutan membantu mengangkat, tapi koper saya sudah duluan diangkat oleh gadis remaja berambut pirang yang berusia sekitar 16-17 tahunan. Woowww… Sementara 5 pria berbadan besar dari tadi kemana aja?? 
Itulah sikap masyarakat Indonesia…
Sudah sejak lama saya amati bahwa sebagian masyarakat bergerak hanya jika ada uang, ada maunya (modus) atau ada timbal baliknya dan keuntungannya bagi si penolong.
Salah satu contoh pengalaman kurang menyenangkan saya adalah saat pertama kali turun dari kereta api, di sebuah stasiun kereta di Indonesia beberapa tahun lalu.
Banyak sekali yang berniat membantu membawakan koper dan barang-barang, baik yang berseragam atau tidak. Saya pikir beneran berniat membantu, hingga menyerahkan begitu saja seluruh bawaan. Ternyata berseragam atau tidak tetap meminta bayaran atas jasanya telah menolong membawakan barang-barang tersebut.
Disini saya bukan mempermasalahkan jumlah materi yang diminta, tetapi bahwa niat baik dan tulus itu hampir tidak ada lagi, dan sudah menjadi barang langka.
Akhirnya secara tidak langsung masyarakat belajar bahwa segala sesuatu yang dilakukan itu harus ada imbalannya. Semua diukur dengan materi.
Pola pikir seperti ini membuat orang mengejar materi sebanyak-banyak tetapi sulit mendapatkan kebahagiaan.
Kenapa? Karena kebahagiaan sesungguhnya itu ada saat kita berbagi, dan mampu memberikan kebahagiaan pada orang lain dengan tulus. Saya sudah coba lakukan ini. 
Sebaiknya kita menelaah kembali semboyan kita yang terkenal sebagai masyarakat yang ramah tamah dan suka tersenyum, jangan hanya menjadi sebuah simbol belaka.

Published by

Riana Rara Kalsum

Created by Riana Rara Kalsum. Riana Rara Kalsum has a great passion for traveling, cafés, and lifestyle. She loves writing and reading. Here, you will find her travel and authenthic café experiences along with beautiful photos and inspirations. Email: travelcafediary@gmail.com