COLMAR, FRANCE

Setelah sekian lama berniat mengunjungi Colmar di Perancis, akhirnya pada tanggal 3 Januari tahun 2016 keinginan tersebut tercapai juga. Rasanya saya bahagia sekali karena tempatnya sangat indah dengan berbagai bangunan-bangunan menarik yang terawat dengan baik.

Colmar berada di perbatasan Perancis dengan Jerman dan Swiss. Dari Paris ke Colmar jika menggunakan kereta sekitar 3 jam.
Saat itu saya berangkat dari Basel, Swiss menuju Colmar dengan menggunakan kereta selama 50 menit perjalanan.

Stasiun Kereta di Colmar

Kereta saya tiba di Colmar sekitar jam 8.00 pagi. Saya segera keluar stasiun dan check in di Le Grand Hotel Bristol yang tepat berada di depan stasiun kereta agar besok sore tidak repot membawa beberapa koper sekaligus kembali ke stasiun untuk menuju ke Paris.

Le Grand Hotel Bristol

Setelah check in saya menaruh seluruh barang-barang di hotel. Tak sabar ingin segera mengunjungi berbagai tempat menarik di Colmar. Setelah mengambil beberapa brosur objek wisata di lobby hotel, saya pun keluar dengan membawa perlengkapan fotografi untuk mengabadikan keindahan Colmar.
Tempat pertama yang saya datangi adalah taman yang berada tak jauh dari hotel, bernama Parc du Champs de Mars. Taman ini terlihat sangat asri dan segar dengan bunga-bunga cantik dibeberapa tempat yang tetap berbunga di musim dingin.

Parc du Champs de Mars

Parc du Champs de Mars


Parc du Champs de Mars


Parc du Champs de Mars

Parc du Champs de Mars

Parc du Champs de Mars

Parc du Champs de Mars


Parc du Champs de Mars

Menjelang siang saya mampir untuk makan di Restaurant L’Amandine yang menjual masakan tradisional khas Colmar. Disini wajib mencoba dessert Tarte ala Rhubarbe yang super lezat dan terkenal di Colmar.
Di pintu masuk saya sudah disuguhi berbagai pemandangan cake dan tarte yang menggiurkan. Rasanya semua ingin dicoba…

Restaurant L’Amandine


Potée Alsacianne L’Agneau et Boeuf

Tarte ala Rhubarbe

Restaurant L’Amandine

Di restaurant ini sambil menunggu pesanan makanan tiba, saya sempat berbincang-bincang sejenak dengan seorang bapak tua penduduk asli setempat yang sedang menunggu teman-temannya datang.
Bapak ini berumur sekitar 70 tahunan dan masih terlihat bersemangat dan ceria. Beliau bercerita bahwa setiap minggu masih berkumpul sekedar bertukar cerita sambil makan dan minum bersama teman-temannya. Beliau juga bercerita banyak tentang tempat wisata menarik yang harus saya datangi di Colmar.
Menyenangkan sekali bertemu dan mengobrol dengan penduduk lokal. Sangat inspiratif dan menambah wawasan saya tentang kota yang saya datangi.

Setelah makan saya pun permisi untuk melanjutkan perjalanan mengunjungi tempat-tempat indah di Colmar.
Sore ini saya mendatangi Vieux Colmar atau kota tua untuk mengamati berbagai bangunan menarik.

Vieux Colmar

Vieux Colmar


Vieux Colmar


Vieux Colmar

Vieux Colmar

Senja di Vieux Colmar

Gereja Tua di Vieux Colmar

Hari beranjak malam, saya segera ke Petite Venise de Colmar yang termasyur.
Disebut Petite Venise de Colmar karena ada kanal-kanal indah di kota tua yang dilewati oleh perahu-perahu dengan pemandangan spektakuler dan restaurant cantik berhias aneka bunga disisi sungai yang membelah kota Colmar. Sungguh menakjubkan!

Petite Venise de Colmar

Petite Venise de Colmar

Petite Venise de Colmar

Malam ini saya kembali ke hotel untuk makan malam khas Colmar yang terkenal di Restaurant Hotel, yaitu Restaurant L’Auberge Colmar. Setelah makan malam saya segera beristirahat agar fit saat melanjutkan perjalanan kembali keesokan harinya untuk menikmati berbagai kuliner menarik di Colmar.

Le Grand Hotel Bristol

Escargot di Restaurant L’Auberge

Boucheè a la Reine, masakan terkenal khas Colmar di Restaurant L’Auberge.

NOTED: Semoga tulisan saya ini bermanfaat bagi yang ingin berwisata ke Colmar, Perancis.

A Highlight at Café Le Wilson, Paris

Matahari sore bersinar hangat ketika aku tiba di cafe ini. Pelayan yang ramah segera mengantar ke spot favoritku di bagian teras cafe. Posisinya cukup strategis dengan bagian kiri menghadap ke menara Eiffel, dan tepat di hadapanku avenue Kléber yang legendaris. Bagian ujung dari avenue Kléber ini adalah monumen Arc de Triomphe yang berada di avenue des Champs Élysées.

Hampir semua cafe yang berlokasi di sekeliling Trocadero berada di persimpangan jalan sehingga cafe-cafe tersebut memiliki 2 view yang berbeda. Cukup menghibur bagi pengunjung yang tidak kebagian kursi langsung menghadap ke arah menara Eiffel, setidaknya masih mendapat sisi lain yang tak kalah menariknya.

Pelayan datang membawa buku menu. Aku segera memesan secangkir cappuccino kegemaranku. Aku tentu saja tahu ini tak lazim. Cappuccino seharusnya hanya diminum pada pagi hari, dan setelah jam 10 pagi tidak lagi dikonsumsi karena minuman yang ada campuran krim atau susu memiliki batas waktu tersendiri. Masyarakat Eropa dan para pecinta kopi biasanya mengikuti aturan ini. Dan aku? Yaa biasalah anti mainstream hehehee… Sudah terlanjur kebal dan cuek dipelototi orang-orang yang minum kopi disekelilingku. Jadi santai aja…

Disaat-saat menunggu pesanan datang seperti ini, mulai deh berbagai pemikiran berseliweran di kepalaku. Seperti biasa, ada saja yang hinggap dan menarik untuk kutulis di blog ini.

Hari menunjukkan pukul 18.00. Seharusnya sudah senja tapi masih terang benderang… Berbeda tempat, berbeda musim dan berbeda alam. Disini istilah senja menjadi rancu, banyak makna berbeda yang tidak bisa disatukan dalam satu pikiran.

Berbeda dengan negara-negara yang letak wilayah geografinya berada disekitar garis khatulistiwa, misalnya seperti di Indonesia yang selalu mendapatkan banyak cahaya matahari sehingga di negara kita tidak ada musim gugur, musim dingin dan musim semi. Jadi otomatis tidak ada perubahan waktu. Berada di sekitar garis khatulistiwa membuat kita selalu bisa merasakan senja yang sama… Ya, senja yang sama dengan rasa yang berbeda-beda…

Pesanan cappuccino-ku datang. Aku lalu menyeruputnya pelan sambil iseng membuat perbandingan yang menurutku lucu tapi ada sedikit persamaannya.

Waktu yang sama dengan iklim yang berbeda… Mirip jika diandaikan dengan umur yang sama dengan kondisi yang berbeda…

Komposisi pemikiran ilmiahnya jelas sangat bertolakbelakang, tidak nyambung, dan tidak ada korelasinya… Anggap saja ini hanya sebuah pengandaian ringan yang kupikirkan sekilas sambil minum cappucino favoritku…

Jadi begini… (ampun nulisnya gaya amat sih sis…) Masih ada sebagian orang yang berpikir, dan percaya dengan imajinasinya sendiri bahwa umur yang bertambah berarti orang tersebut harus semakin dewasa, fisiknya harus kelihatan menua, gayanya harus seperti orangtua, dan harus begini begitu sesuai dengan apa yang ada dalam pikiran mereka.

Mereka juga dengan dangkalnya berkomentar; “Kok umur segini masih muda, dan gayanya seperti anak muda?” Atau “Ingat umur woooiiiii…”.

Hahahahaa… Hey sis, bro! Berapa pun usia anda yang penting keep healthy, positive life, pretty mind, happy, stylish, and still amazed!

Aku tergelak sambil menatap matahari yang terus bersinar terang padahal waktu sudah jam 7 malam… Kuteguk kopiku sampai kandas sambil berusaha menahan tawa.

“Garçon! L’Addition, s’il vous plait!”

LAKE COMO, ITALIA

Lake Como berada di bagian utara Italia. Danau dengan pemandangan indah ini menjadi destinasi liburan favorit para jetset dan wisatawan dari seluruh dunia. Lake Como juga menjadi tujuan romantis pasangan yang ingin berbulan madu.

Di sekitar Lake Como berdiri villa-villa mewah dengan taman-taman yang menakjubkan. Bangunan-bangunan berarsitektur menawan pun memenuhi bukit di sepanjang danau. Hamparan bunga-bunga cantik dapat ditemui di sepanjang perjalanan. Belum lagi deretan restoran yang menyajikan makanan khas Italia dengan bumbunya yang lezat. Tak heran jika Lake Como selalu ramai dipenuhi oleh pengunjung sepanjang waktu.

Jika anda sedang berlibur ke Italia, jangan lewatkan kesempatan mampir ke salah satu danau terindah di dunia ini. Lake Como dapat dicapai menggunakan kereta, mobil dan juga helicopter. Jarak paling dekat untuk menuju Lake Como bisa berangkat dari Milan. Jika menggunakan kereta dapat berangkat dari stasiun kereta Central, Milan dan turun di stasiun Como San Giovanni.

Dari stasiun Como San Giovanni anda tinggal turun ke bawah melewati sebuah taman dan mengikuti petunjuk menuju ke Lake Como. Di tepi danau telah tersedia beragam pilihan transportasi seperti speed boat, kapal atau yacht yang akan membawa pengunjung ke berbagai tempat indah di sekitar Lake Como hingga ke Bellagio yang berjarak sekitar 1 jam perjalanan laut.

Pilihan paling dekat menuju ke Bellagio yaitu dengan turun di stasiun kereta Varenna. Ujung lain dari Lake Como ini jaraknya tidak jauh Bellagio.

Selain itu Lake Como juga dapat dicapai dari Switzerland, yaitu dari wilayah Chisso yang berbatasan langsung dengan Italia dan berada dekat lake Como.

Ini adalah yang ke tiga kalinya saya ke lake Como, yang pertama dan kedua sekitar tahun 1991-l996 ketika masih tinggal di Perancis, dan saat itu saya ke lake Como menggunakan mobil yang langsung diparkir di sekitar danau, jadi suasananya sudah berbeda sekali dengan saat ini.

Pengalaman saya ke lake Como kali ini juga sangat mengesankan karena baru pertama kali menggunakan kereta dan turunnya tidak langsung di pinggir danau, tapi dari atas bukit yang cukup jauh jaraknya dari lake Como.

Saya berangkat pagi hari dari stasiun Central Milan dengan menggunakan kereta menuju ke stasiun Como San Giovanni yang jarak tempuhnya sekitar 36 menit. Sambil sarapan saya menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan dan tentunya tidak lupa berfoto ria karena cuaca di luar sangat bagus dan mendukung acara selfie ini hehehee…

Tak lama kereta tiba di stasiun Como San Giovanni. Saya yang berangkat seorang diri lalu mengikuti rombongan wisatawan yang turun berbondong-bondong menuruni tangga menuju ke bawah bukit. Ini trik paling gampang kalau lagi malas bertanya dan mencari tahu arah tujuan wisata. Ikuti saja arah jalan rombongan wisatawan yang sudah pasti tujuannya juga ke lake Como. Setiba di bawah bukit, saya sempat berfoto-foto lagi di tamannya yang di indah dan juga di monumen yang menjadi salah satu ciri khas wilayah Como. Saking asiknya berfoto sampai saya tinggal seorang diri dan tidak ada lagi wisatawan lain disana, padahal danau Como belum kelihatan sama sekali.

Dengan sedikit nekat saya menyebarangi jalan di depan taman karena belum melihat penunjuk arah ke lake Como. Tak habis akal saya membuat foto di sepanjang jalan yang saya lewati sebagai pengingat dan penunjuk arah jika tersasar saat kembali nanti. Oiya, saya tadi lupa mengambil map di stasiun kereta karena dengan percaya diri buru-buru mengikuti rombongan wisatawan yang berada di depan saya. Jadi buat pembaca sebaiknya segera ambil map begitu tiba di stasiun kereta agar tidak mengalami hal yang sama seperti saya.

Akhirnya terlihat sebuah papan penunjuk jalan ke arah Lake Como, saya lalu mengikuti petunjuk tersebut hingga berhasil tiba di depan danau yang sangat besar dengan panorama yang luarbiasa indah. Romantis sekaliii… Pantesan banyak pasangan yang honeymoon kesini.

Sepanjang jalan yang mengelilingi danau dipenuhi cafe, restoran dan hotel berdesain menarik. Beraneka jenis bunga warna warni juga turut menghiasi sepanjang jalan berdampingan dengan pohon-pohon rindang yang berjejer rapi. Suasana yang aman, nyaman, dan bersih akan membuat siapapun betah berada disini.

Saya kemudian memutuskan mampir untuk makan dan minum kopi terlebih dahulu. Bar Touring Cafè akhirnya menjadi pilihan saya. Bar adalah sebutan untuk cafe dengan pelayanan cepat di Italia. Saya memesan makanan khas Como, berupa ikan yang hanya terdapat di danau tersebut. Ikan tersebut diolah tanpa banyak menggunakan bumbu agar rasa gurih ikan tidak berubah. Jujur saja, rasanya tak ubahnya seperti ikan goreng biasa yang rasanya hambar. Mon Dieu!

Atmosfir di sekitar bar ini sangat menyenangkan… Lokasinya berada di depan danau Como, dan disini banyak terdapat toko souvenirs, gelato, cafe dan restoran khas Italia. Setelah selesai makan, saya tentu saja tak melewatkan untuk mampir membeli berbagai cinderamata unik khas lake Como sebagai kenang-kenangan.

Kini tibalah saatnya mencari boat, kapal atau yacth menuju ke berbagai destinasi indah di lake Como. Pengunjung dapat memilih moda transportasi yang diparkir di tepi danau. Yuhuuu… Petualangan dimulai! Sepanjang perjalanan di danau sangat menakjubkan… Villa-villa indah dan taman cantik milik selebriti dunia bertaburan di sekeliling danau. Semua didesain dengan arsitektur mewah berstandar tinggi.

Tujuan saya kali ini ke Villa D’Estee yang berada di Cernobbio. Salah satu tempat yang memiliki panorama menakjubkan. Setiba disini mata langsung dimanjakan dengan jejeran bangunan, villa, dan taman-taman indah.

Bagi wisatawan yang ingin beristirahat sambil menikmati danau disediakan kursi-kursi dibawah pohon rindang yang tumbuh di sepanjang Lake Como. Bunga-bunga cantik bermekaran menambah cantik pemandangan di sekitarnya. Di kejauhan tampak kapal-kapal yang merapat di dermaga dengan latar belakang bukit yang asri. Berkali-kali mengabadikan momen ini dalam video dan foto rasanya tak pernah cukup saking menariknya.

Saya kemudian menyusuri sepanjang danau mencari cafe atau restoran. Semuanya penuh hingga akhirnya saya mampir ke Harry’s Bar yang menghadap ke lake Como. Tak ada kopi disini… Ya sudahlah akhirnya saya memesan apa yang tersedia di buku menu saja. Jam sudah menunjukkan pukul 3 lewat sehingga tidak ada lagi makanan berat selain beragam jenis minuman. Lagipula saya sudah makan siang sebelum tiba di Cernobbio.

Bar ini merupakan salah satu tempat yang memiliki pemandangan terindah karena langsung menghadap ke lake Como. Rasanya menyenangkan sekali disini… Seandainya ada kopi pasti makin terasa sempurna!

Menjelajahi lake Como memang tak cukup hanya sehari. Sebaiknya menginap 2 atau 3 hari agar dapat mampir ke sekeliling lake Como yang luas. Waktu saya seharian hanya habis di satu destinasi saja, yaitu di daerah Cernobbio. Tapi saya sangat puas daripada terburu-buru dan tidak bisa menikmati suasana dan keindahan tempat yang saya kunjungi.

Sekitar jam 4 sore saya kembali ke pusat kota Como, jalan-jalan sebentar di area sekitarnya yang cantik, dan jam 5 sorenya berangkat ke Milan. Ciaaoooo Como!