A Highlight at Café Le Wilson, Paris

Matahari sore bersinar hangat ketika aku tiba di cafe ini. Pelayan yang ramah segera mengantar ke spot favoritku di bagian teras cafe. Posisinya cukup strategis dengan bagian kiri menghadap ke menara Eiffel, dan tepat di hadapanku avenue Kléber yang legendaris. Bagian ujung dari avenue Kléber ini adalah monumen Arc de Triomphe yang berada di avenue des Champs Élysées.

Hampir semua cafe yang berlokasi di sekeliling Trocadero berada di persimpangan jalan sehingga cafe-cafe tersebut memiliki 2 view yang berbeda. Cukup menghibur bagi pengunjung yang tidak kebagian kursi langsung menghadap ke arah menara Eiffel, setidaknya masih mendapat sisi lain yang tak kalah menariknya.

Pelayan datang membawa buku menu. Aku segera memesan secangkir cappuccino kegemaranku. Aku tentu saja tahu ini tak lazim. Cappuccino seharusnya hanya diminum pada pagi hari, dan setelah jam 10 pagi tidak lagi dikonsumsi karena minuman yang ada campuran krim atau susu memiliki batas waktu tersendiri. Masyarakat Eropa dan para pecinta kopi biasanya mengikuti aturan ini. Dan aku? Yaa biasalah anti mainstream hehehee… Sudah terlanjur kebal dan cuek dipelototi orang-orang yang minum kopi disekelilingku. Jadi santai aja…

Disaat-saat menunggu pesanan datang seperti ini, mulai deh berbagai pemikiran berseliweran di kepalaku. Seperti biasa, ada saja yang hinggap dan menarik untuk kutulis di blog ini.

Hari menunjukkan pukul 18.00. Seharusnya sudah senja tapi masih terang benderang… Berbeda tempat, berbeda musim dan berbeda alam. Disini istilah senja menjadi rancu, banyak makna berbeda yang tidak bisa disatukan dalam satu pikiran.

Berbeda dengan negara-negara yang letak wilayah geografinya berada disekitar garis khatulistiwa, misalnya seperti di Indonesia yang selalu mendapatkan banyak cahaya matahari sehingga di negara kita tidak ada musim gugur, musim dingin dan musim semi. Jadi otomatis tidak ada perubahan waktu. Berada di sekitar garis khatulistiwa membuat kita selalu bisa merasakan senja yang sama… Ya, senja yang sama dengan rasa yang berbeda-beda…

Pesanan cappuccino-ku datang. Aku lalu menyeruputnya pelan sambil iseng membuat perbandingan yang menurutku lucu tapi ada sedikit persamaannya.

Waktu yang sama dengan iklim yang berbeda… Mirip jika diandaikan dengan umur yang sama dengan kondisi yang berbeda…

Komposisi pemikiran ilmiahnya jelas sangat bertolakbelakang, tidak nyambung, dan tidak ada korelasinya… Anggap saja ini hanya sebuah pengandaian ringan yang kupikirkan sekilas sambil minum cappucino favoritku…

Jadi begini… (ampun nulisnya gaya amat sih sis…) Masih ada sebagian orang yang berpikir, dan percaya dengan imajinasinya sendiri bahwa umur yang bertambah berarti orang tersebut harus semakin dewasa, fisiknya harus kelihatan menua, gayanya harus seperti orangtua, dan harus begini begitu sesuai dengan apa yang ada dalam pikiran mereka.

Mereka juga dengan dangkalnya berkomentar; “Kok umur segini masih muda, dan gayanya seperti anak muda?” Atau “Ingat umur woooiiiii…”.

Hahahahaa… Hey sis, bro! Berapa pun usia anda yang penting keep healthy, positive life, pretty mind, happy, stylish, and still amazed!

Aku tergelak sambil menatap matahari yang terus bersinar terang padahal waktu sudah jam 7 malam… Kuteguk kopiku sampai kandas sambil berusaha menahan tawa.

“Garçon! L’Addition, s’il vous plait!”

Published by

Riana Rara Kalsum

Created by Riana Rara Kalsum. Riana Rara Kalsum has a great passion for traveling, cafés, and lifestyle. She loves writing and reading. Here, you will find her travel and authenthic café experiences along with beautiful photos and inspirations. Email: travelcafediary@gmail.com