VALENCIA, KOTA DI SPANYOL YANG MENAKJUBKAN

Berada di Spanyol rasanya belum lengkap jika belum mengunjungi Valencia. Kota cantik dengan bangunan-bangunan bersejarah dan kontemporer yang berada dalam satu tempat. Valencia juga menjadi destinasi favorit para pecinta arsitektur. Di kota ini pula salah satu universitas arsitektur terkenal bernaung.

Sejak lama saya memendam keinginan besar mengunjungi tempat ini. Kesempatan datang ketika saya sedang berada di Barcelona. Segera saya mencari berbagai informasi dan transportasi menuju Valencia. Ternyata jarak Barcelona ke Valencia tidak terlalu jauh, dapat ditempuh 3 jam dengan kereta. Jadi saya memutuskan untuk berangkat pagi agar dapat kembali ke Barcelona lagi sore harinya.

Saya memang tidak berniat menginap karena memikirkan ribetnya packing koper bolak balik, sementara perjalanan liburan saya masih panjang ke berbagai kota lainnya di Eropa.

Akhirnya saya berangkat ke Valencia jam 8 pagi dan tiba jam 11 siang disana. Cuaca sangat panas di bulan Juli, matahari bersinar sangat terik. Saya agak menyesal tidak membawa topi yang lebar sehingga rasanya wajah seperti terbakar dan memerah seketika.

Saran saya jangan lupa untuk selalu membawa topi saat berlibur di segala cuaca. Topi berfungsi menghindari paparan sinar matahari di musim panas, menahan angin yang kadang tidak bersahabat di musim semi dan musim gugur, juga menahan dingin yang terkadang bikin telinga tidak nyaman di musim dingin.

Stasiun Kereta di Valencia, Spanyol

Dari stasiun kereta saya langsung mencari taksi dan segera menuju ke Oceanografic. Sebuah oceanarium terbesar di Eropa dengan taman dan kolam di sekelilingnya. Sungguh menakjubkan! Dream come true! Benar-benar sebuah impian yang menjadi kenyataan… Rasanya senang sekali! Akhirnya saya bisa berada di tempat yang sudah sangat lama saya idamkan…

Saya memandang dengan kagum bangunan yang berada di depan mata. Warna biru metalik melapisi seluruh kubah bangunan yang berdesain kontemporer. Cahayanya gemerlapan ditimpa sinar matahari. Berkilat dengan sangat indah… Rasanya enggan berkedip melihat pantulan cahaya yang menari-nari dibawah langit biru.

Saking antusiasnya, antrian panjang selama setengah jam nyaris tak terasa. Dengan tiket seharga €25 pengunjung dapat mengunjungi 12 bangunan di oceanarium serta menonton berbagai atraksi yang berada diatas area seluas 1 hektar lebih. Disini kita dapat melihat lebih dari 500 jenis ikan yang berbeda, film dokumentar tentang dunia bawah laut, restaurant dalam kolam raksasa, dan tentu saja toko-toko menarik yang menjual berbagai cinderamata sebagai kenang-kenangan. Benar-benar puas deh!

Oiya, tak perlu khawatir karena nanti pengunjung akan diberi buku kecil dan map yang berisi panduan dan informasi detail tentang Oceanografi. Kita tinggal memilih bahasa yang dikuasai, lalu mengikuti petunjuk yang ada di dalam buku tersebut. Berada disini sangat menyenangkan dan merupakan sebuah pengalaman berharga yang tak akan terlupakan…

Oceanografic dari ketinggian. Source: Google

Dari Oceanografic saya menuju ke Ciudad de las Artes y las Ciencias yang berada tak jauh dari sana. Sebuah bangunan yang tak kalah spektakuler! Bentuknya mirip seekor ikan besar yang sedang mengambang di tengah sungai Turia. Bangunan futuristik di area sepanjang 2 kilometer ini didesain oleh arsitek Santiago Calatrava dan Félix Candela. Detailnya sangat rumit dan canggih. Selain itu, jika difoto dari sudut mana pun akan tetap terlihat artistik. Mahakarya yang luarbiasa ini diciptakan sebagai tempat pameran seni, budaya, sains dan karya ilmiah.

Ciudad de las Artes y las Ciencias

Ciudad de las Artes y las Ciencias

Ciudad de las Artes y las Ciencias

L’Agore (Concert Hall) di area Ciudad de las Artes y las Ciencias

Beberapa bangunan berdesain futuristik lainnya yang juga merupakan bagian dari Ciudad de las Artes y las Ciencias adalah Palacio de las Artes Reina Sofía (opera house), L’Àgora, Príncipe Felipe Science Museum, Hemisfèric IMAX Cinema, L’Umbracle, dan Oceanogràfic Aquarium yang juga menjadi salah satu bagian dari kompleks tersebut.

Secara keseluruhan jika dilihat dari ketinggian tampak bagai jejeran ikan-ikan raksasa yang berada di sungai Turia. Seperti tidak nyata tapi nyata di depan mata. Fantastis!

Pemandangan Ciudad de las Artes y las Ciencias dari ketinggian. Source: Google

Selama perjalanan dari Oceanografic saya diantar oleh seorang supir taksi yang sangat baik hati. Dengan sabar ia menunjukkan berbagai bangunan indah, dan toko souvenirs tempat membeli oleh-oleh. Bahkan ia juga mengantar dan menunggui saya berbelanja baju bola dan pernak perniknya ke toko Valencia CF.

Valencia CF

Cafe cantik di Valencia

Estacio Del Nord

Gereja Tua di Valencia

Valencia

Awalnya saya memang bertanya apa dia mau menunggui saya karena barang souvenirs saya cukup banyak jika harus berganti-ganti taksi, atau jika keberatan boleh meninggalkan saya. Untungnya beliau mau, dan dengan baiknya mengantar ke tempat-tempat yang saya inginkan. Turun naik dari taksi sekedar untuk berfoto dan berbelanja. Sebagai ungkapan terimakasih saya pun memberi tips atas kebaikan hatinya tersebut. Beliau gembira, saya pun bahagia.

Terus terang saya menyesal hanya sehari berada di Valencia, dan bertekad suatu hari nanti akan kembali bersama anak-anak untuk menyaksikan berbagai tempat menakjubkan di Valencia. Tentunya tidak terburu-buru karena masih akan menuntaskan terlebih dahulu berbagai kota lain yang sudah masuk dalam rencana saya.

Bagi yang ingin berkunjung ke Spanyol, kota Valencia wajib masuk dalam daftar rencana anda. Dijamin tidak menyesal datang kesini dan pasti ingin kembali lagi!

CAFÉ MUSÉE JACQUEMART ANDRÉ, PARIS

Siapa bilang berkunjung ke museum itu membosankan? Apalagi jika di dalamnya ada butik keren dan café yang memanjakan pengunjungnya dengan berbagai makanan, minuman, dan dessert yang lezat. Setidaknya itu yang saya rasakan ketika berkunjung ke café musée Jacquemart André di Paris.

Cuaca yang cerah mengiringi langkah saya menapaki jalan yang menanjak menuju ke museum megah nan mewah penuh koleksi lukisan dan patung-patung berharga karya seniman terbaik di dunia. Bayangkan! Di museum ini ada Rembrandt, Jacques Louis David, Canaletto, Bernini, Jean Honoré Fragonard, Sandro Botticelli, dan masih banyak lagi mahakarya spektakuler dari seniman berbakat. Penggemar seni dan lukisan pasti terpuaskan dahaganya akan keindahan…

Sebelum masuk ke museum saya memutari seluruh bangunan yang awalnya adalah rumah milik pengusaha kaya raya Perancis, Édouard André dan istrinya Nelie Jacquemart yang berprofesi sebagai pelukis. Pada tahun 1913 rumah beserta seluruh koleksinya diwariskan pada Institut de France untuk dijadikan sebuah museum.

Dari langkah pertama memasuki gerbang hingga berakhir di pintu keluar pengunjung dimanjakan dengan selera tinggi yang penuh kemewahan. Seluruh taman dan jalan yang melingkar dihiasi dengan patung-patung karya seniman terkenal. Bangunan dan halamannya yang luas membuat saya sejenak lupa bahwa sedang berada di tengah kota Paris!

Setelah puas berkeliling, saya menuju ke satu-satunya café yang berada di bagian samping museum. Café bernama sama, Jacquemart André adalah café yang sangat indah dan menakjubkan. Café ini bahkan masuk ke dalam Top 10 Museum Cafes and Restaurants in Paris. Sebuah pengakuan bergengsi yang membanggakan…

Desain café Jacquemart André mengambil tema klasik dengan dominasi warna merah hati pada furniture, tirai, dan lampu-lampu yang menghiasi seluruh ruangan. Dindingnya dipenuhi lukisan dan beberapa patung ikut diletakkan sehingga menambah kesan artistik pada interior café. Spot dari café ini adalah sebuah tungku pemanas ruangan yang terbuat dari batu pualam berkualitas terbaik. Di bagian atasnya terdapat lukisan besar yang sangat indah dan menakjubkan.

Café Jacquemart André merupakan interpretasi dari selera yang sangat berkelas dari pemiliknya, Édouard André dan istrinya Nelie Jacquemart. Berbeda dengan café dan restoran mewah lainnya di kota Paris yang banyak meniru desain dan kemewahan istana Versailles tetapi tidak ada (atau sangat jarang) yang diisi dengan lukisan-lukisan terbaik mahakarya dunia seperti yang terdapat pada café musée Jacquemart André.

Di tempat ini pengunjung dapat melihat sebuah perbedaan, seperti apa yang benar-benar classy, atau yang sekedar berdesain mewah tapi tanpa berisi barang-barang berkelas. Sebagai contoh, 1 lukisan di museum ini saja dapat membuat beberapa cafe berdesain mewah sekaligus!

Di café ini saya mendapat meja makan yang berada di bagian terindahnya. Saya bahagia sekali dapat duduk dengan latar belakang lukisan raksasa yang spektakuler dan patung pualam yang cantik. Bakalan foto-foto terus deh disini hehehee…

Beberapa pelayan dengan sigap segera mendampingi dan mencatat pesanan untuk saya. Setelah itu ada lagi seorang pelayan yang standby dan siap memenuhi apapun yang saya butuhkan. Pelayanan yang baik, ramah dan menyenangkan… Tak salah jika café ini masuk jajaran top 10 café terbaik di Paris.

Saya memesan menu makan siang dan dessert yang menurut saya paling lezat. Di café ini memang tidak banyak pilihan makanan. Dan yang jelas ini café, bukan restoran, brasserie atau bistro yang mengkhususkan diri pada makanan. Pada umumnya cafe hanya menyajikan makanan ringan saja. Jadi, pada saat makan siang harus dipilih yang paling enak dan mengenyangkan. Kecuali bagi anda yang sedang diet yaa… Beda lagi ceritanya…

Sambil menunggu makanan datang, seperti biasa saya suka berpikir, berpikir, dan berpikir memaknai yang terjadi disekeliling saya… hehehe…

Kali ini yang hinggap di kepala saya tentang mahakarya yang popularitasnya diakui dunia, diperebutkan para kolektor, dan menghias museum-museum terkenal dunia.

Saat ini sangat sulit untuk mendapatkan lukisan dari pelukis terkenal yang terjamin keasliannya, kecuali lewat balai lelang yang sudah diakui kredibilitasnya. Melalui balai lelang pun harus lewat berbagai prosedur, termasuk memberikan jaminan dan aneka persyaratan lainnya. Begitu pula sebaliknya, jika ingin melelang benda antik dan berharga pun wajib memasukkan benda tersebut beberapa bulan sebelumnya untuk di cek oleh kurator dan orang-orang yang ahli di bidangnya hingga kemudian dibuatkan sebuah katalog yang memuat seluruh data dari barang-barang yang akan dilelang.

Motivasi para pengikut lelang pun beragam. Ada yang memang kolektor betulan, dan ada pula untuk tujuan investasi karena setiap tahun ada pertambahan nilai dari barang tersebut. Apalagi jika terlelang jauh diatas target, dan itu sering terjadi pada benda antik dan lukisan karya seniman ternama.

Bagi negara yang tidak memiliki aturan ketat, sangat mungkin terjadi balai lelang dijadikan tempat untuk pencucian uang dan menghindari pajak. Identitas bisa disamarkan atau dialihkan pada pihak lain bukan? Terkadang sulit mengidentifikasi apalagi jika barangnya berbentuk perhiasan.

Saya salut dengan kolektor lukisan dan barang antik yang rela berburu ke seluruh dunia untuk mendapatkan impian mereka. Salah satunya adalah pemilik museum ini, Édouard André dan istrinya Nelie Jacquemart.

Dalam hati saya berpikir, apakah mereka mempunyai kepuasan tersendiri karena memiliki lukisan langka yang diperebutkan banyak kolektor? Yang pasti, tentu ada kebanggaan luarbiasa dapat memilikinya…

Hakikat kebahagiaan itu bukan pada masalah berapa banyak orang bisa mengoleksi barang berharga. Diatas itu semua, kembali lagi pada kepuasan, ketenangan dan rasa bersyukur yang akhirnya mendatangkan kebahagiaan lahir batin. Pada akhirnya, semua perburuan lukisan dan barang antik tersebut bahkan disumbangkan agar dapat dinikmati oleh masyarakat umum. Itulah yang disebut kebahagiaan hakiki, yaitu ketika memberi lebih menyenangkan daripada mendapatkan.

Tak terasa sudah 1 jam saya berada disini. Seluruh makanan yang super lezat telah habis… Andai tak kekenyangan rasanya ingin menambah sepotong cake-nya. Saya lalu memberi apresiasi berupa pujian tentang betapa enaknya cake yang saya makan sambil bertanya dimana selain disini saya dapat menemukannya? Tak disangka pelayan yang baik hati memberi saya sebuah kartu nama untuk mendapatkan cake tersebut. “Merci beaucoup! C’est très gantile…”

Setelah membayar seluruh bill makanan saya pun pamit dan beranjak menuju ke butik yang terletak di samping museum. Butik ini menjual beragam souvenirs, kado dan berbagai alat keperluan rumah tangga.

Seluruh barangnya memiliki desain yang cantik dan menarik dengan motif dan warna yang menawan. Butik yang cukup luas ini pun ramai dipenuhi pengunjung. Jika saja tidak memiliki jadwal lain, rasanya ingin berlama-lama disini. Akhirnya saya bertekad lain hari akan kembali lagi dan memilih waktu sore hari agar lebih leluasa. Au revoir, la belle musée! C’est superb… J’adore!

Musée Jacquemart-André

158, Boulevard Haussmann

75008 – Paris, France

PADA SEBUAH CAFÉ

Aku melihatnya duduk sendirian… Menatap cangkir kopi dalam diam… Wajah yang demikian tampan, dan semakin rupawan dibawah sinar lampu yang temaram…

Aku lalu duduk disatu-satunya kursi kosong yang berada disebelahnya. Memanggil pelayan dan memesan secangkir kopi dan cake kegemaranku.

Sambil menunggu pesanan datang, aku meliriknya diam-diam dengan sudut mata, tentunya berusaha agar tidak kentara… Wajahnya sungguh sempurna… Aku pikir Tuhan pasti sedang sangat bahagia menciptakan pria ini. Wajahnya terus menunduk, seakan ia hanya satu-satunya orang yang berada disini… Ada sedikit kesenduan diguratan wajah tampannya, mungkin ini yang membuatnya semakin menarik dan membuat orang menebak-nebak apa yang terjadi padanya.

Aku pikir, wajah sendu dan sedih itu berbeda… Wajah sendu itu pancaran dari hati yang paling dalam, atau memang ia beruntung dikaruniai wajah indah dengan gurat kesenduan. Sedang wajah sedih, kesal dan marah itu diakibatkan oleh emosi sehingga justru jadi terlihat tidak menarik.

Wajah ceria dan friendly memang menyenangkan dan bikin hidup suasana, tapi kupikir wajah sendu dan diam dalam kesendirian lebih menarik perhatian…

Aku jadi ingat beberapa orang yang memiliki wajah sendu dan penyendiri… Salah satunya idolaku, Keanu Reeves. Walaupun memiliki segalanya, ia tak tergoda dengan impian dunia. Merenung, membaca, bekerja, dan berjalan sendirian menikmati hidup dan dunianya…

Apakah mereka kesepian? Banyak orang berpikir mereka kesepian dan tidak memiliki banyak teman… Tapi kurasa tidak… Mereka memang ingin menjauhi kehidupan dunia luar dan isinya. Mereka betul-betul dapat menerima, dan justru lebih memaknai hidup dengan berada sendirian. Itu adalah sebuah pilihan yang secara sadar mereka pilih.

Seorang berwajah sendu dan terlihat indah juga berada di Indonesia… Makhluk rupawan ciptaan Tuhan ini mungkin tak menyadari apa yang keluar dari dirinya menggambarkan kesenduan yang sangat… Foto-foto yang kelam tanpa dirinya muncul disana… Objek tunggal atau beberapa objek yang saling terpisah sepertinya merupakan favoritnya. Tentu juga ada sedikit foto dirinya yang lebih banyak sendiri tanpa teman dengan senyum dan mata indah yang sendu…

Diamnya membuat ia tampak begitu berharga dan sulit dijangkau… Jika berbicara pun hanya sedikit dengan kalimat-kalimat yang sangat terkontrol, rapi, dan menggunakan bahasa Indonesia resmi atau Inggris yang sopan. Attitude dan manners-nya sangat tinggi, menunjukan dirinya seorang yang terpelajar dan dibesarkan dalam lingkungan yang baik. Dia… Seorang ekstrovert sejati dengan wajah sungguh rupawan! Diam-diam aku mengaguminya…

Mudah-mudahan suatu hari aku dapat mengenalnya… Ouupps! Sorry if this is out of topic yaa guys…

Kembali ke suasana di cafe ini…

Hari sudah menunjukkan pukul 10 malam. Seorang pelayan mengantar berbagai makanan, minuman, dan dessert ke mejanya. Dalam hati aku agak merasa heran, mengingat ini sudah bukan jam makan malam lagi. Dalam diamnya ia makan pelan-pelan…

Tak lama pesananku pun datang. Aku menikmatinya sambil sesekali membuat foto dan memandang jalanan kota Paris yang indah… Lampu-lampu berjejer dengan kokoh seakan menantang malam yang gelap gulita. Memang tidak ada bintang. Tapi ribuan lampu di kota cahaya ini mampu menghidupkan suasana kota Paris.

Tak kusangka ia menatapku dan tersenyum. Senyum paling menawan yang pernah kulihat… Senyum yang layak disanjung dunia… Senyum yang membuat semesta terang benderang…

Dengan suara rendah dan sopan ia berkata bahwa aku memiliki mata yang indah (sejujurnya aku sudah bosan dan kebal dengan pujian yang selalu sama ini). Aku lalu tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Aku memang tidak pernah menyangkal pujian. Terlepas itu tulus atau tidak, karena menyangkal atau menolak, sama artinya dengan meminta penegasan agar dipuji kembali. Jadi, lebih baik aku langsung mengucapkan terimakasih supaya selesai sampai disana saja.

Setelah sedikit percakapan basa basi kami bertukar nomer telepon. Itu adalah hal yang wajar dalam sebuah perkenalan. Aku juga terkejut mendapati bahwa ia sudah membayar seluruh tagihan bill termasuk mejaku. Padahal kami hanya berkenalan sekilas saja…

Sambil berjalan kembali ke hotel aku berpikir… Demikian mudahnya orang terpikat hanya dengan tatapan mata… Aku yang mengagumi pemilik mata sendu, dan orang lain yang menyukai mata indah… Semua hanya karena mata!

Mungkin betul juga jika ada yang mengatakan mata itu memiliki daya hipnotis, memiliki daya pikat… Mata itu adalah pancaran jiwa pemiliknya… Mata bisa berbicara, bahkan tanpa perlu kata-kata… Mata bahkan dapat menunjukkan hasrat pemiliknya!

Di lain waktu aku mungkin harus lebih hati-hati dalam momen saling tatap menatap ini agar tidak terbongkar isi hati dan pikiran… Atau apakah ini yang menjadi sebab mereka yang berwajah sendu senang menundukkan kepalanya? Padahal raut wajahnya secara keseluruhan sudah menggambarkan perasaannya… Apalagi yang harus disembunyikan?

Sebagai manusia kita memang hanya bisa menebak-nebak karena kita tidak berada di jalan yang sama dengan mereka… A mind reader pun tidak bisa setepat itu membaca pikiran manusia… Lagipula, dari beberapa cerita yang kudengar, kesenduan tidak selalu berhubungan dengan kesedihan mendalam. Sedih dan senang itu situasional dan emosional. Perasaan yang hinggap dalam waktu tertentu, dan akan kembali normal dalam beberapa saat, atau dalam jangka waktu tertentu. Jadi, bisa saja memang tipe wajahnya seperti itu, ditambah sifat yang penyendiri sehingga terlihat melankolis dan menumbuhkan rasa penasaran.

Hari makin malam… Aku mengatupkan krah mantelku hingga ke leher… Berjalan cepat melawan angin yang mulai tak bersahabat. Dalam cuaca dingin seperti ini, Avenue des Champs Élysées masih saja ramai… Jalan penuh kenangan bagiku, kamu, dan orang-orang yang datang dan pergi membawa sejuta perasaan…

WANITA DAN KOPI

Mungkin bagian dari emansipasi…

Mungkin ingin menunjukkan jati diri…

Mungkin ingin jadi barista ahli…

Mungkin biar kelihatan trendi…

Mungkin sedang ingin berpuisi…

Mungkin, mungkin, dan seribu mungkin lagi…

Tapi yang tak dapat dipungkiri…

Aku adalah seorang pecinta kopi…