L’Apres Midi à Unisex Bar, avenue des Champs Élysées Paris

Unisex Bar berada di jalan terkenal avenue des Champs Élysées, Paris. Lokasinya berada tak jauh dari hotel Marriott Champs Élysées, dan butik Chanel yang baru. Tempat yang strategis ini membuat Unisex Bar selalu ramai dipenuhi pengunjung.

Sebutan Bar di Paris adalah tempat untuk makan dan minum cepat yang langsung dikonsumsi di tempat. Biasanya pengunjung yang datang minum kopi, segera keluar setelah selesai minum. Selain itu bar biasanya juga dilengkapi dengan alunan suara musik dengan pencahayaan yang tidak terlalu terang.

Unisex Bar bukan tempat minum kopi dan makan favoritku… Dari eksterior dan interiornya yang bergaya modern dengan dominasi warna merah cerah saja sudah tak menarik perhatianku. Unisex Bar tidak berkesan “Perancis” sama sekali. Tapi entah kenapa, hampir setiap hari di Paris aku selalu mengunjunginya. Salah satu alasan yang paling masuk akal mungkin karena jarak hotelku berada tak jauh dari tempat ini sehingga aku leluasa datang kapan saja.

Aku memesan secangkir kopi pada seorang garçon, sebutan pelayan dalam bahasa Perancis. Pria berwajah Italia ini sepertinya masih magang sehingga agak canggung mengerjakan tugasnya. Ia berusaha berbicara dalam bahasa Inggris yang patah-patah, mungkin dikiranya aku tak dapat berbahasa Perancis. Aku lalu berkata agar ia berbicara dalam bahasa Perancis saja. Raut wajahnya tampak lega.

Aku paling suka duduk di bagian teras sambil memandang panorama kota Paris yang indah. Walaupun untuk duduk di teras pengunjung harus membayar lebih mahal karena pemiliknya harus membayar sewa penggunaan tratoar pada pemerintah Perancis. Sepertinya pengunjung tidak terlalu peduli karena bagian teras merupakan favorit sehingga selalu saja ramai, bahkan di musim dingin sekalipun.

Unisex bar lebih mirip sebuah cafe karena pengunjung yang datang senang minum kopi dan makan sambil duduk berlama-lama, tidak seperti lazimnya bar dimana setelah minum kopi mereka segera membayar dan pergi. Mungkin karena berada di daerah turistik, jadi tidak ada yang terlalu peduli ini bar atau cafe.

Aku kembali meneguk kopiku… Sudah tidak panas lagi, mungkin karena cuaca yang dingin. Aku senang menikmati saat-saat sendiri di tempat yang berbeda-beda… Kesempatan berpikir dengan sudut pandang baru, berdialog dengan diri sendiri, sekaligus menambah wawasan baru tentang berbagai hal yang berbeda…

Begitu pula ketika aku berada disini, di tempat yang tidak aku sukai tetapi selalu aku datangi… Apakah manusia memang begitu? Melakukan hal yang tidak disukainya tanpa beban? Melawan kehendak hatinya karena alasan-alasan sepele? Mungkin ada ribuan jawaban yang berbeda-beda… Setiap kepala, isinya berbeda-beda pula… Betapa rumitnya dunia!

Ah masa? Aku bergumam dalam hati… Aku santai saja tuh melakukan hal yang tidak aku sukai… Tapi aku kemudian berpikir, tergantung dari apa dulu yang kita lakukan… Selama tidak merugikan orang lain, tidak ada salahnya bukan?

Pikiranku jadi melebar ke hal lain… Aku jadi ingat banyak orang melakukan kejahatan yang juga mungkin bertentangan dengan hati kecilnya tapi tetap dilakukan. Bagaimana bisa? Padahal sudah tahu perbuatan tersebut ada resikonya? Apakah alasannya sebanding jika tahu resikonya? Ini tidak masuk akal bagiku, dan bagimu juga kan?

Saking komplitnya pemikiran manusia, jadi tumbang tindih, sehingga saat menimbang keputusan jadi rancu dalam membuat pilihan. Di dalam setiap pilihan pun, baik atau buruk pasti ada resikonya. Pilihlah yang resikonya paling baik… Itu teorinya… Kenyataannya manusia sering mengikuti kata hatinya. Entah egois, atau super ego-nya yang dominan.

“Mademoselle, vous voulez encore un café?”

Pelayan ganteng berwajah Italia tiba-tiba muncul dan membuyarkan pikiranku.

“Non, merci! L’addition s’il vous plait!”

Aku segera membayar kopiku dan melanjutkan perjalanan… Setiap tempat memiliki cerita dan kenangan tersendiri, mungkin ini yang membuat perjalananku menakjubkan!

Café Les Deux Magots, Paris

Café Les Deux Magots adalah salah satu dari tiga café prestisius yang paling berpengaruh di Perancis. Café lainnya adalah Café de Flore dan Café Le Procope. Ketiga café ini terletak di kawasan Saint Germain des Près, Paris.

Café bersejarah dan legendaris ini menjadi terkenal karena perannya sebagai tempat berkumpul para intelektual, politikus, sastrawan dan seniman. Di ketiga café ini mereka saling berdiskusi, bertukar informasi dan mencari ide hingga menghasilkan karya-karya yang terkenal hingga ke seluruh dunia.

Café Les Deux Magots

My Favorite Salad, Café Les Deux Magots

Kebiasaan masyarakat Perancis minum kopi di cafe masih berlangsung hingga kini, dan bahkan wisatawan yang datang pun mengikuti gaya hidup ala Perancis dengan duduk di teras cafe menikmati secangkir kopi sambil memesan makanan ringan seperti salad dan beragam jenis cake. Cafe di Perancis memang tidak menyediakan makanan berat, kecuali jika ada embel-embel restaurant atau bistro di cafe tersebut. 

Jika ingin berkunjung, terutama di musim liburan sebaiknya anda melakukan reservasi terlebih dahulu melalui situs resmi café Les Deux Magots. Makanan yang lezat, suasana yang nyaman, serta pelayanan yang ramah dan cepat membuat café Les Deux Magots hingga kini dapat terus mempertahankan reputasinya sebagai salah satu café prestisius di Paris.

REVOLUSI KOPI DI PARIS

Source: Google

Perancis tidak saja terkenal karena menjadi penggagas revolusi pertama yang telah mengubah wajah dunia kita hari ini… Di Paris bahkan juga telah terjadi, Paris Coffee Revolution, atau Revolusi Kopi di Paris. Sebuah perubahan besar-besaran dalam mengapresiasi kopi telah terjadi di Paris.

Barista profesional mengambil alih pembuatan kopi di cafe-cafe. Secara ekstrim kopi tidak lagi hanya sekedar minuman, tetapi kopi adalah penghargaan terhadap diri sendiri dengan memberikan yang terbaik. Kopi-kopi berkualitas tinggi didatangkan dari seluruh dunia dan diolah menurut jenisnya, yang masing-masing cara pembuatannya berbeda pula.

Source: Google

Café La Caféoteque adalah cafe yang menjadi pelopor revolusi kopi di Paris. Cafe yang dibuka pada tahun 2005 inilah yang pertama kali membuat perubahan besar-besaran, baik dari cara memanggang kopi, pemilihan biji kopi, penyajian, teknik cupping, desain cafe dan pola pikir dalam memilih dan meminum kopi. Cafe modern milik Gloria Montenegro ini berhasil mengubah tatanan cafe di Paris hingga kemudian jejaknya diikuti oleh munculnya cafe-cafe baru yang sejenis. Dalam waktu singkat Café Coutume, Le Lomi, BK Caféshop, Le Télescope dan puluhan cafe baru lainnya ikut membuat perubahan yang signifikan dalam sejarah kopi di Paris.

Sejak Revolusi Kopi di Paris sekolah-sekolah Barista ramai diminati. Ribuan Barista handal yang piawai dalam teknik membuat kopi menyebar di seluruh Perancis. Bahkan teknik cupping menjadi trend yang dikuasi oleh banyak penikmat kopi di Paris. Teknik cupping adalah seni menghirup aroma kopi, menyeruput, hingga meneguk kopi melalui 6 tahapan berbeda. Melalui teknik cupping penikmat kopi dapat menilai karakteristik aroma, keasaman, kekentalan dan cita rasa kopi.

Saat ini cafe-cafe di Paris banyak memberikan kursus singkat cupping dan Barista. Untuk cupping waktunya sekitar 2 jam hingga 30 jam untuk profesional. Sungguh menarik bukan? Kecintaan pada kopi membuat penikmat kopi tidak puas hanya menikmati kopi sekedar sebagai minuman, tetapi juga mempelajari seluk beluk teknik membuatnya, hingga mengenal berbagai jenis kopi dan budaya asalnya. Yeah, coffee lovers… Sejarah baru tentang kopi telah dimulai di Paris…

Berkunjung ke Café Le Procope Paris

Café Le Procope adalah cafe yang paling termasyur di Paris. Cafe ini merupakan cafe yang pertama dibuka pada tahun 1686. Kini selain cafe juga berfungsi sebagai sebuah restoran yang masih selalu ramai dikunjungi.
Cafe penuh sejarah ini menjadi saksi pergolakan sosial dan politik hingga meletus Revolusi Perancis. Para tokoh revolusioner, intelektual, penulis dan seniman juga berdiskusi, bertukar informasi dan menulis di Cafe Le Procope. Bahkan ide Revolusi Perancis dan beberapa keputusan besar di Perancis dibuat di cafe ini.
Beberapa nama besar yang menorehkan sejarah di Perancis lewat cafe ini diantaranya adalah Napoleon Bonaparte, Robespiere, Voltaire, Sartre, Albert Camus dan masih banyak lagi. Bahkan mantan Presiden Perancis Jacques Chirac adalah pelanggan tetap Café de Procope ketika beliau masih menjabat sebagai walikota Paris.

Saya merinding membayangkan nama-nama besar yang terukir dalam sejarah Perancis tersebut… Bahwa sebuah café mampu mempelopori sebuah kejadian besar yang mengubah wajah dunia.
Café Le Procope… I heart you ❤

Benedict Coffeebar

Ketika berada di Grand Indonesia saya berkesempatan minum kopi di Benedict Coffeebar. Coffeebar berkonsep minimalis ini mempunyai beragam varian kopi premium dari daerah-daerah di Indonesia yang diolah menjadi aneka jenis minuman kopi. Sebagai orang Indonesia saya ikut bangga karena negara kita adalah salah satu negara produsen kopi terbesar di dunia dan juga penghasil kopi berkualitas terbaik yang sudah diakui oleh negara-negara lain.

Saya memesan Coconut Latte di Benedict Cofffebar. Kopi dengan taburan dehydrated coconut dan gula melaka syrup ini sungguh sangat nikmat… Diracik ala Indonesia membuat kopi ini mempunyai cita rasa luarbiasa. Aroma harum dari campuran kopi, susu, dehydrated coconut, dan sirup gula melaka begitu menggoda selera. Flavor kopinya memang agak hilang karena ada tambahan dehydrated coconut dan sirup gula melaka, tapi ini yang justru menjadikan Coconut Latte unik.

Sebagai penggemar kopi saya senang sekali dapat mencoba beragam jenis kopi dengan berbagai rasa dan keunikannya. Begitu pula dengan cafe-cafe yang saya kunjunginya, semua mempunyai ciri khas masing-masing dan meninggalkan kesan dengan keberagaman jenis suguhan kopinya.