CAFÉ LE SOLEIL D’OR, PARIS

Mendung membuat suasana kota ini terasa muram… Awan menggumpal di angkasa… Menggantung di langit-langit seakan enggan beranjak pergi…

Aku menghela napas sambil menatap langit yang kelabu… Sedikit menyesal karena datang terlalu sore dan akhirnya terperangkap dalam cuaca tak menentu…

Dengan perasaan bimbang aku mencoba menenangkan diri dengan membuka sebuah buku. Membolak balik halamannya tanpa membaca satu kalimat pun… Entah kenapa bayangan wajahmu justru muncul di setiap halaman yang kubuka. Aku buru-buru menutup buku dan segera menyimpannya kembali ke dalam tas.

Tas kenangan pemberianmu…

Ingin rasanya kulempar tas ini ke dasar sungai Seine. Tapi besarnya rasa cintaku membuatku mengurungkan niat tersebut… Rasanya benci merindukanmu seperti ini…

Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya pelan-pelan… Memberi sugesti pada diriku sendiri agar tetap tenang hingga akhirnya rasa kesalku mulai mereda… Menyingkirkan energi negatif sesegera mungkin sebelum ia menguasaiku… Rasa kesal yang berlarut akan merusak hari yang seharusnya indah bukan?

Aku meneguk kopiku perlahan…

Menikmati rasa hangat yang menjalar di seluruh tubuhku… Memandang sungai Seine dari kejauhan. Aliran airnya seperti ikut menghanyutkan perasaanku… Pergi dan hilang entah kemana…

Semua berawal dari keteledoran dalam mengatur waktu hingga membuatku harus rela kembali lagi keesokan paginya untuk mengambil ulang beberapa foto yang gagal. Artinya, aku juga harus mengorbankan rencana yang lain untuk project ini. Terperangkap dua kali di tempat yang sama berturut-turut tentu bukan hal yang menyenangkan. Walaupun nanti hasil fotonya mungkin akan terlihat menakjubkan. Wow! Indah yaa pemandangannya…

Begitulah. Orang-orang hanya melihat hasil akhirnya, tanpa tahu cerita dan usaha di balik semuanya. Ini sering terjadi dalam berbagai aspek kehidupan manusia.

Manusia… Pikiranku pun melayang dalam temaram senja…

Manusia memang topik yang menarik dan tak akan ada habisnya dibahas di dunia ini. Manusia-manusia yang terus dipaksakan bergerak maju sesuai jamannya dengan beragam pola pikir yang saling bertabrakan. Sadar atau tidak disadari. Primitif, kuno, tradisional, modern, millenial, dan berbagai label lainnya disematkan pada pemiliknya. Didorong maju agar sesuai dengan beragam kepentingan dan industri. Industri? Ya, mereka yang primitif tentu tak peduli dengan teknologi, dan jika tak peduli siapa nanti yang akan menggunakan teknologi, dan lain sebagainya. Kira-kira begitu pemikiran sederhananya.

Jaman yang serba instant akhirnya berimbas pada pemikiran sebagian orang yang menjadi dangkal. Gagap teknologi… Kurangnya wawasan, kurang pengalaman, tidak suka belajar dan membaca, lalu dihadapkan pada kenyataan yang berbeda-beda. Kaget! Marah! Lalu ribut-ribut menghakimi. Reaksi seperti itu yang kini banyak ditemui di berbagai lini masyarakat.

Aku pikir pemicunya bukan hanya stress dan sifat yang berkaitan dengan karakter manusia saja. Tetapi ketidaksiapan dalam menghadapi teknologi yang berakibat pada kemudahan melontarkan tanggapan tanpa menggunakan pemikiran yang matang berlandaskan pada wawasan dan pengetahuan.

Sebagian lagi ada yang memiliki wawasan dan pendidikan baik tapi nyatanya minim attitude dan seorang pragmatis. Ingin serba mudah dan berpikir pendek. Karakter seperti ini pun banyak terdapat dalam masyarakat saat ini. Terjadi kesenjangan antara pola pikir dan teknologi hingga akhirnya muncul manusia-manusia tanpa karakter yang kuat, dan tidak berani memiliki sikap sendiri. Terombang ambing tanpa jati diri dan hanya mengikuti konsensus kelompok. Mereka merasa begitu terikat dan tergantung dengan kelompok serta tidak berani berdiri sendiri.

Pada dasarnya hampir semua manusia menyadari bahwa apa yang tampak baik dan indah di permukaan tidak terjadi begitu saja. Ada usaha di baliknya yang sulit diakui oleh orang-orang yang tidak dapat mencapai hal tersebut. Hal yang dapat mereka lakukan hanya dengan melampiaskannya melalui sifat iri dengki lewat kalimat atau kata-kata umpatan yang tidak baik, yang tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya. Hal ini justru menunjukkan betapa rendah attitude dan manner yang mereka miliki.

Sedang bagi orang-orang yang memiliki karakter baik tentu dapat menghargai dan mengapresiasi sesuatu secara positif, dan jika pun dianggap tidak sesuai akan didiskusikan dengan cara yang santun dan bermartabat, baik di ruang publik ataupun secara pribadi.

Hujan mulai turun di kota Paris…

Aku kembali meneguk kopiku sambil memandang titik-titik air yang membasahi kota Paris. Sejak dulu aku begitu menyukai suasana di cafe ini. Sangat romantis dengan pemandangan indah yang memanjakan mata… Desain klasik khas Perancis mendominasi interior ruangan. Makanannya simple, ciri khas café Parisian yang memang tak menyajikan makanan berat.

Lamat-lamat kudengar suara piano memainkan Thisth Coeur dari Richard Clayderman kegemaranku…

Aku memejamkan mata…

Bayanganmu muncul kembali…

Teringat genggaman erat tanganmu yang tak ingin kulepaskan selamanya…

PADA SEBUAH CAFÉ

Aku melihatnya duduk sendirian… Menatap cangkir kopi dalam diam… Wajah yang demikian tampan, dan semakin rupawan dibawah sinar lampu yang temaram…

Aku lalu duduk disatu-satunya kursi kosong yang berada disebelahnya. Memanggil pelayan dan memesan secangkir kopi dan cake kegemaranku.

Sambil menunggu pesanan datang, aku meliriknya diam-diam dengan sudut mata, tentunya berusaha agar tidak kentara… Wajahnya sungguh sempurna… Aku pikir Tuhan pasti sedang sangat bahagia menciptakan pria ini. Wajahnya terus menunduk, seakan ia hanya satu-satunya orang yang berada disini… Ada sedikit kesenduan diguratan wajah tampannya, mungkin ini yang membuatnya semakin menarik dan membuat orang menebak-nebak apa yang terjadi padanya.

Aku pikir, wajah sendu dan sedih itu berbeda… Wajah sendu itu pancaran dari hati yang paling dalam, atau memang ia beruntung dikaruniai wajah indah dengan gurat kesenduan. Sedang wajah sedih, kesal dan marah itu diakibatkan oleh emosi sehingga justru jadi terlihat tidak menarik.

Wajah ceria dan friendly memang menyenangkan dan bikin hidup suasana, tapi kupikir wajah sendu dan diam dalam kesendirian lebih menarik perhatian…

Aku jadi ingat beberapa orang yang memiliki wajah sendu dan penyendiri… Salah satunya idolaku, Keanu Reeves. Walaupun memiliki segalanya, ia tak tergoda dengan impian dunia. Merenung, membaca, bekerja, dan berjalan sendirian menikmati hidup dan dunianya…

Apakah mereka kesepian? Banyak orang berpikir mereka kesepian dan tidak memiliki banyak teman… Tapi kurasa tidak… Mereka memang ingin menjauhi kehidupan dunia luar dan isinya. Mereka betul-betul dapat menerima, dan justru lebih memaknai hidup dengan berada sendirian. Itu adalah sebuah pilihan yang secara sadar mereka pilih.

Seorang berwajah sendu dan terlihat indah juga berada di Indonesia… Makhluk rupawan ciptaan Tuhan ini mungkin tak menyadari apa yang keluar dari dirinya menggambarkan kesenduan yang sangat… Foto-foto yang kelam tanpa dirinya muncul disana… Objek tunggal atau beberapa objek yang saling terpisah sepertinya merupakan favoritnya. Tentu juga ada sedikit foto dirinya yang lebih banyak sendiri tanpa teman dengan senyum dan mata indah yang sendu…

Diamnya membuat ia tampak begitu berharga dan sulit dijangkau… Jika berbicara pun hanya sedikit dengan kalimat-kalimat yang sangat terkontrol, rapi, dan menggunakan bahasa Indonesia resmi atau Inggris yang sopan. Attitude dan manners-nya sangat tinggi, menunjukan dirinya seorang yang terpelajar dan dibesarkan dalam lingkungan yang baik. Dia… Seorang ekstrovert sejati dengan wajah sungguh rupawan! Diam-diam aku mengaguminya…

Mudah-mudahan suatu hari aku dapat mengenalnya… Ouupps! Sorry if this is out of topic yaa guys…

Kembali ke suasana di cafe ini…

Hari sudah menunjukkan pukul 10 malam. Seorang pelayan mengantar berbagai makanan, minuman, dan dessert ke mejanya. Dalam hati aku agak merasa heran, mengingat ini sudah bukan jam makan malam lagi. Dalam diamnya ia makan pelan-pelan…

Tak lama pesananku pun datang. Aku menikmatinya sambil sesekali membuat foto dan memandang jalanan kota Paris yang indah… Lampu-lampu berjejer dengan kokoh seakan menantang malam yang gelap gulita. Memang tidak ada bintang. Tapi ribuan lampu di kota cahaya ini mampu menghidupkan suasana kota Paris.

Tak kusangka ia menatapku dan tersenyum. Senyum paling menawan yang pernah kulihat… Senyum yang layak disanjung dunia… Senyum yang membuat semesta terang benderang…

Dengan suara rendah dan sopan ia berkata bahwa aku memiliki mata yang indah (sejujurnya aku sudah bosan dan kebal dengan pujian yang selalu sama ini). Aku lalu tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Aku memang tidak pernah menyangkal pujian. Terlepas itu tulus atau tidak, karena menyangkal atau menolak, sama artinya dengan meminta penegasan agar dipuji kembali. Jadi, lebih baik aku langsung mengucapkan terimakasih supaya selesai sampai disana saja.

Setelah sedikit percakapan basa basi kami bertukar nomer telepon. Itu adalah hal yang wajar dalam sebuah perkenalan. Aku juga terkejut mendapati bahwa ia sudah membayar seluruh tagihan bill termasuk mejaku. Padahal kami hanya berkenalan sekilas saja…

Sambil berjalan kembali ke hotel aku berpikir… Demikian mudahnya orang terpikat hanya dengan tatapan mata… Aku yang mengagumi pemilik mata sendu, dan orang lain yang menyukai mata indah… Semua hanya karena mata!

Mungkin betul juga jika ada yang mengatakan mata itu memiliki daya hipnotis, memiliki daya pikat… Mata itu adalah pancaran jiwa pemiliknya… Mata bisa berbicara, bahkan tanpa perlu kata-kata… Mata bahkan dapat menunjukkan hasrat pemiliknya!

Di lain waktu aku mungkin harus lebih hati-hati dalam momen saling tatap menatap ini agar tidak terbongkar isi hati dan pikiran… Atau apakah ini yang menjadi sebab mereka yang berwajah sendu senang menundukkan kepalanya? Padahal raut wajahnya secara keseluruhan sudah menggambarkan perasaannya… Apalagi yang harus disembunyikan?

Sebagai manusia kita memang hanya bisa menebak-nebak karena kita tidak berada di jalan yang sama dengan mereka… A mind reader pun tidak bisa setepat itu membaca pikiran manusia… Lagipula, dari beberapa cerita yang kudengar, kesenduan tidak selalu berhubungan dengan kesedihan mendalam. Sedih dan senang itu situasional dan emosional. Perasaan yang hinggap dalam waktu tertentu, dan akan kembali normal dalam beberapa saat, atau dalam jangka waktu tertentu. Jadi, bisa saja memang tipe wajahnya seperti itu, ditambah sifat yang penyendiri sehingga terlihat melankolis dan menumbuhkan rasa penasaran.

Hari makin malam… Aku mengatupkan krah mantelku hingga ke leher… Berjalan cepat melawan angin yang mulai tak bersahabat. Dalam cuaca dingin seperti ini, Avenue des Champs Élysées masih saja ramai… Jalan penuh kenangan bagiku, kamu, dan orang-orang yang datang dan pergi membawa sejuta perasaan…

WANITA DAN KOPI

Mungkin bagian dari emansipasi…

Mungkin ingin menunjukkan jati diri…

Mungkin ingin jadi barista ahli…

Mungkin biar kelihatan trendi…

Mungkin sedang ingin berpuisi…

Mungkin, mungkin, dan seribu mungkin lagi…

Tapi yang tak dapat dipungkiri…

Aku adalah seorang pecinta kopi…