PADA SEBUAH CAFÉ

Aku melihatnya duduk sendirian… Menatap cangkir kopi dalam diam… Wajah yang demikian tampan, dan semakin rupawan dibawah sinar lampu yang temaram…

Aku lalu duduk disatu-satunya kursi kosong yang berada disebelahnya. Memanggil pelayan dan memesan secangkir kopi dan cake kegemaranku.

Sambil menunggu pesanan datang, aku meliriknya diam-diam dengan sudut mata, tentunya berusaha agar tidak kentara… Wajahnya sungguh sempurna… Aku pikir Tuhan pasti sedang sangat bahagia menciptakan pria ini. Wajahnya terus menunduk, seakan ia hanya satu-satunya orang yang berada disini… Ada sedikit kesenduan diguratan wajah tampannya, mungkin ini yang membuatnya semakin menarik dan membuat orang menebak-nebak apa yang terjadi padanya.

Aku pikir, wajah sendu dan sedih itu berbeda… Wajah sendu itu pancaran dari hati yang paling dalam, atau memang ia beruntung dikaruniai wajah indah dengan gurat kesenduan. Sedang wajah sedih, kesal dan marah itu diakibatkan oleh emosi sehingga justru jadi terlihat tidak menarik.

Wajah ceria dan friendly memang menyenangkan dan bikin hidup suasana, tapi kupikir wajah sendu dan diam dalam kesendirian lebih menarik perhatian…

Aku jadi ingat beberapa orang yang memiliki wajah sendu dan penyendiri… Salah satunya idolaku, Keanu Reeves. Walaupun memiliki segalanya, ia tak tergoda dengan impian dunia. Merenung, membaca, bekerja, dan berjalan sendirian menikmati hidup dan dunianya…

Apakah mereka kesepian? Banyak orang berpikir mereka kesepian dan tidak memiliki banyak teman… Tapi kurasa tidak… Mereka memang ingin menjauhi kehidupan dunia luar dan isinya. Mereka betul-betul dapat menerima, dan justru lebih memaknai hidup dengan berada sendirian. Itu adalah sebuah pilihan yang secara sadar mereka pilih.

Seorang berwajah sendu dan terlihat indah juga berada di Indonesia… Makhluk rupawan ciptaan Tuhan ini mungkin tak menyadari apa yang keluar dari dirinya menggambarkan kesenduan yang sangat… Foto-foto yang kelam tanpa dirinya muncul disana… Objek tunggal atau beberapa objek yang saling terpisah sepertinya merupakan favoritnya. Tentu juga ada sedikit foto dirinya yang lebih banyak sendiri tanpa teman dengan senyum dan mata indah yang sendu…

Diamnya membuat ia tampak begitu berharga dan sulit dijangkau… Jika berbicara pun hanya sedikit dengan kalimat-kalimat yang sangat terkontrol, rapi, dan menggunakan bahasa Indonesia resmi atau Inggris yang sopan. Attitude dan manners-nya sangat tinggi, menunjukan dirinya seorang yang terpelajar dan dibesarkan dalam lingkungan yang baik. Dia… Seorang ekstrovert sejati dengan wajah sungguh rupawan! Diam-diam aku mengaguminya…

Mudah-mudahan suatu hari aku dapat mengenalnya… Ouupps! Sorry if this is out of topic yaa guys…

Kembali ke suasana di cafe ini…

Hari sudah menunjukkan pukul 10 malam. Seorang pelayan mengantar berbagai makanan, minuman, dan dessert ke mejanya. Dalam hati aku agak merasa heran, mengingat ini sudah bukan jam makan malam lagi. Dalam diamnya ia makan pelan-pelan…

Tak lama pesananku pun datang. Aku menikmatinya sambil sesekali membuat foto dan memandang jalanan kota Paris yang indah… Lampu-lampu berjejer dengan kokoh seakan menantang malam yang gelap gulita. Memang tidak ada bintang. Tapi ribuan lampu di kota cahaya ini mampu menghidupkan suasana kota Paris.

Tak kusangka ia menatapku dan tersenyum. Senyum paling menawan yang pernah kulihat… Senyum yang layak disanjung dunia… Senyum yang membuat semesta terang benderang…

Dengan suara rendah dan sopan ia berkata bahwa aku memiliki mata yang indah (sejujurnya aku sudah bosan dan kebal dengan pujian yang selalu sama ini). Aku lalu tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Aku memang tidak pernah menyangkal pujian. Terlepas itu tulus atau tidak, karena menyangkal atau menolak, sama artinya dengan meminta penegasan agar dipuji kembali. Jadi, lebih baik aku langsung mengucapkan terimakasih supaya selesai sampai disana saja.

Setelah sedikit percakapan basa basi kami bertukar nomer telepon. Itu adalah hal yang wajar dalam sebuah perkenalan. Aku juga terkejut mendapati bahwa ia sudah membayar seluruh tagihan bill termasuk mejaku. Padahal kami hanya berkenalan sekilas saja…

Sambil berjalan kembali ke hotel aku berpikir… Demikian mudahnya orang terpikat hanya dengan tatapan mata… Aku yang mengagumi pemilik mata sendu, dan orang lain yang menyukai mata indah… Semua hanya karena mata!

Mungkin betul juga jika ada yang mengatakan mata itu memiliki daya hipnotis, memiliki daya pikat… Mata itu adalah pancaran jiwa pemiliknya… Mata bisa berbicara, bahkan tanpa perlu kata-kata… Mata bahkan dapat menunjukkan hasrat pemiliknya!

Di lain waktu aku mungkin harus lebih hati-hati dalam momen saling tatap menatap ini agar tidak terbongkar isi hati dan pikiran… Atau apakah ini yang menjadi sebab mereka yang berwajah sendu senang menundukkan kepalanya? Padahal raut wajahnya secara keseluruhan sudah menggambarkan perasaannya… Apalagi yang harus disembunyikan?

Sebagai manusia kita memang hanya bisa menebak-nebak karena kita tidak berada di jalan yang sama dengan mereka… A mind reader pun tidak bisa setepat itu membaca pikiran manusia… Lagipula, dari beberapa cerita yang kudengar, kesenduan tidak selalu berhubungan dengan kesedihan mendalam. Sedih dan senang itu situasional dan emosional. Perasaan yang hinggap dalam waktu tertentu, dan akan kembali normal dalam beberapa saat, atau dalam jangka waktu tertentu. Jadi, bisa saja memang tipe wajahnya seperti itu, ditambah sifat yang penyendiri sehingga terlihat melankolis dan menumbuhkan rasa penasaran.

Hari makin malam… Aku mengatupkan krah mantelku hingga ke leher… Berjalan cepat melawan angin yang mulai tak bersahabat. Dalam cuaca dingin seperti ini, Avenue des Champs Élysées masih saja ramai… Jalan penuh kenangan bagiku, kamu, dan orang-orang yang datang dan pergi membawa sejuta perasaan…

WANITA DAN KOPI

Mungkin bagian dari emansipasi…

Mungkin ingin menunjukkan jati diri…

Mungkin ingin jadi barista ahli…

Mungkin biar kelihatan trendi…

Mungkin sedang ingin berpuisi…

Mungkin, mungkin, dan seribu mungkin lagi…

Tapi yang tak dapat dipungkiri…

Aku adalah seorang pecinta kopi…

L’Apres Midi à Unisex Bar, avenue des Champs Élysées Paris

Unisex Bar berada di jalan terkenal avenue des Champs Élysées, Paris. Lokasinya berada tak jauh dari hotel Marriott Champs Élysées, dan butik Chanel yang baru. Tempat yang strategis ini membuat Unisex Bar selalu ramai dipenuhi pengunjung.

Sebutan Bar di Paris adalah tempat untuk makan dan minum cepat yang langsung dikonsumsi di tempat. Biasanya pengunjung yang datang minum kopi atau minuman lainnya, dan segera keluar setelah selesai minum. Selain itu bar biasanya juga dilengkapi dengan alunan suara musik dengan pencahayaan yang tidak terlalu terang.

Unisex Bar bukan tempat minum kopi dan makan favoritku… Dari eksterior dan interiornya yang bergaya modern dengan dominasi warna merah cerah saja sudah tak menarik perhatianku. Unisex Bar tidak berkesan “Perancis” sama sekali. Tapi entah kenapa, hampir setiap hari di Paris aku selalu mengunjunginya. Salah satu alasan yang paling masuk akal mungkin karena jarak hotelku berada tak jauh dari tempat ini sehingga aku leluasa datang kapan saja.

Aku memesan secangkir kopi pada seorang garçon, sebutan pelayan dalam bahasa Perancis. Pria berwajah Italia ini sepertinya masih magang sehingga agak canggung mengerjakan tugasnya. Ia berusaha berbicara dalam bahasa Inggris yang patah-patah, mungkin dikiranya aku tak dapat berbahasa Perancis. Aku lalu berkata agar ia berbicara dalam bahasa Perancis saja. Raut wajahnya tampak lega.

Aku paling suka duduk di bagian teras sambil memandang panorama kota Paris yang indah. Walaupun untuk duduk di teras pengunjung harus membayar lebih mahal karena pemiliknya harus membayar sewa penggunaan tratoar pada pemerintah Perancis. Sepertinya pengunjung tidak terlalu peduli karena bagian teras merupakan favorit sehingga selalu saja ramai, bahkan di musim dingin sekalipun.

Unisex bar lebih mirip sebuah cafe karena pengunjung yang datang senang minum kopi dan makan sambil duduk berlama-lama, tidak seperti lazimnya bar dimana setelah minum kopi mereka segera membayar dan pergi. Mungkin karena berada di daerah turistik, jadi tidak ada yang terlalu peduli ini bar atau cafe.

Aku kembali meneguk kopiku… Sudah tidak panas lagi, mungkin karena cuaca yang dingin. Aku senang menikmati saat-saat sendiri di tempat yang berbeda-beda… Kesempatan berpikir dengan sudut pandang baru, berdialog dengan diri sendiri, sekaligus menambah wawasan baru tentang berbagai hal yang berbeda…

Begitu pula ketika aku berada disini, di tempat yang tidak aku sukai tetapi selalu aku datangi… Apakah manusia memang begitu? Melakukan hal yang tidak disukainya tanpa beban? Melawan kehendak hatinya karena alasan-alasan sepele? Mungkin ada ribuan jawaban yang berbeda-beda… Setiap kepala, isinya berbeda-beda pula… Betapa rumitnya dunia!

Ah masa? Aku bergumam dalam hati… Aku santai saja tuh melakukan hal yang tidak aku sukai… Tapi aku kemudian berpikir, tergantung dari apa dulu yang kita lakukan… Selama tidak merugikan orang lain, tidak ada salahnya bukan?

Pikiranku jadi melebar ke hal lain… Aku jadi ingat banyak orang melakukan kejahatan yang juga mungkin bertentangan dengan hati kecilnya tapi tetap dilakukan. Bagaimana bisa? Padahal sudah tahu perbuatan tersebut ada resikonya? Apakah alasannya sebanding jika tahu resikonya? Ini tidak masuk akal bagiku, dan bagimu juga kan?

Saking komplitnya pemikiran manusia, jadi tumbang tindih, sehingga saat menimbang keputusan jadi rancu dalam membuat pilihan. Di dalam setiap pilihan pun, baik atau buruk pasti ada resikonya. Pilihlah yang resikonya paling baik… Itu teorinya… Kenyataannya manusia sering mengikuti kata hatinya. Entah egois, atau super ego-nya yang dominan.

“Mademoselle, vous voulez encore un café?”

Pelayan ganteng berwajah Italia tiba-tiba muncul dan membuyarkan pikiranku.

“Non, merci! L’addition s’il vous plait!”

Aku segera membayar kopiku dan melanjutkan perjalanan… Setiap tempat memiliki cerita dan kenangan tersendiri, mungkin ini yang membuat perjalananku menakjubkan!