CAFÉ MUSÉE JACQUEMART ANDRÉ, PARIS

Siapa bilang berkunjung ke museum itu membosankan? Apalagi jika di dalamnya ada butik keren dan café yang memanjakan pengunjungnya dengan berbagai makanan, minuman, dan dessert yang lezat. Setidaknya itu yang saya rasakan ketika berkunjung ke café musée Jacquemart André di Paris.

Cuaca yang cerah mengiringi langkah saya menapaki jalan yang menanjak menuju ke museum megah nan mewah penuh koleksi lukisan dan patung-patung berharga karya seniman terbaik di dunia. Bayangkan! Di museum ini ada Rembrandt, Jacques Louis David, Canaletto, Bernini, Jean Honoré Fragonard, Sandro Botticelli, dan masih banyak lagi mahakarya spektakuler dari seniman berbakat. Penggemar seni dan lukisan pasti terpuaskan dahaganya akan keindahan…

Sebelum masuk ke museum saya memutari seluruh bangunan yang awalnya adalah rumah milik pengusaha kaya raya Perancis, Édouard André dan istrinya Nelie Jacquemart yang berprofesi sebagai pelukis. Pada tahun 1913 rumah beserta seluruh koleksinya diwariskan pada Institut de France untuk dijadikan sebuah museum.

Dari langkah pertama memasuki gerbang hingga berakhir di pintu keluar pengunjung dimanjakan dengan selera tinggi yang penuh kemewahan. Seluruh taman dan jalan yang melingkar dihiasi dengan patung-patung karya seniman terkenal. Bangunan dan halamannya yang luas membuat saya sejenak lupa bahwa sedang berada di tengah kota Paris!

Setelah puas berkeliling, saya menuju ke satu-satunya café yang berada di bagian samping museum. Café bernama sama, Jacquemart André adalah café yang sangat indah dan menakjubkan. Café ini bahkan masuk ke dalam Top 10 Museum Cafes and Restaurants in Paris. Sebuah pengakuan bergengsi yang membanggakan…

Desain café Jacquemart André mengambil tema klasik dengan dominasi warna merah hati pada furniture, tirai, dan lampu-lampu yang menghiasi seluruh ruangan. Dindingnya dipenuhi lukisan dan beberapa patung ikut diletakkan sehingga menambah kesan artistik pada interior café. Spot dari café ini adalah sebuah tungku pemanas ruangan yang terbuat dari batu pualam berkualitas terbaik. Di bagian atasnya terdapat lukisan besar yang sangat indah dan menakjubkan.

Café Jacquemart André merupakan interpretasi dari selera yang sangat berkelas dari pemiliknya, Édouard André dan istrinya Nelie Jacquemart. Berbeda dengan café dan restoran mewah lainnya di kota Paris yang banyak meniru desain dan kemewahan istana Versailles tetapi tidak ada (atau sangat jarang) yang diisi dengan lukisan-lukisan terbaik mahakarya dunia seperti yang terdapat pada café musée Jacquemart André.

Di tempat ini pengunjung dapat melihat sebuah perbedaan, seperti apa yang benar-benar classy, atau yang sekedar berdesain mewah tapi tanpa berisi barang-barang berkelas. Sebagai contoh, 1 lukisan di museum ini saja dapat membuat beberapa cafe berdesain mewah sekaligus!

Di café ini saya mendapat meja makan yang berada di bagian terindahnya. Saya bahagia sekali dapat duduk dengan latar belakang lukisan raksasa yang spektakuler dan patung pualam yang cantik. Bakalan foto-foto terus deh disini hehehee…

Beberapa pelayan dengan sigap segera mendampingi dan mencatat pesanan untuk saya. Setelah itu ada lagi seorang pelayan yang standby dan siap memenuhi apapun yang saya butuhkan. Pelayanan yang baik, ramah dan menyenangkan… Tak salah jika café ini masuk jajaran top 10 café terbaik di Paris.

Saya memesan menu makan siang dan dessert yang menurut saya paling lezat. Di café ini memang tidak banyak pilihan makanan. Dan yang jelas ini café, bukan restoran, brasserie atau bistro yang mengkhususkan diri pada makanan. Pada umumnya cafe hanya menyajikan makanan ringan saja. Jadi, pada saat makan siang harus dipilih yang paling enak dan mengenyangkan. Kecuali bagi anda yang sedang diet yaa… Beda lagi ceritanya…

Sambil menunggu makanan datang, seperti biasa saya suka berpikir, berpikir, dan berpikir memaknai yang terjadi disekeliling saya… hehehe…

Kali ini yang hinggap di kepala saya tentang mahakarya yang popularitasnya diakui dunia, diperebutkan para kolektor, dan menghias museum-museum terkenal dunia.

Saat ini sangat sulit untuk mendapatkan lukisan dari pelukis terkenal yang terjamin keasliannya, kecuali lewat balai lelang yang sudah diakui kredibilitasnya. Melalui balai lelang pun harus lewat berbagai prosedur, termasuk memberikan jaminan dan aneka persyaratan lainnya. Begitu pula sebaliknya, jika ingin melelang benda antik dan berharga pun wajib memasukkan benda tersebut beberapa bulan sebelumnya untuk di cek oleh kurator dan orang-orang yang ahli di bidangnya hingga kemudian dibuatkan sebuah katalog yang memuat seluruh data dari barang-barang yang akan dilelang.

Motivasi para pengikut lelang pun beragam. Ada yang memang kolektor betulan, dan ada pula untuk tujuan investasi karena setiap tahun ada pertambahan nilai dari barang tersebut. Apalagi jika terlelang jauh diatas target, dan itu sering terjadi pada benda antik dan lukisan karya seniman ternama.

Bagi negara yang tidak memiliki aturan ketat, sangat mungkin terjadi balai lelang dijadikan tempat untuk pencucian uang dan menghindari pajak. Identitas bisa disamarkan atau dialihkan pada pihak lain bukan? Terkadang sulit mengidentifikasi apalagi jika barangnya berbentuk perhiasan.

Saya salut dengan kolektor lukisan dan barang antik yang rela berburu ke seluruh dunia untuk mendapatkan impian mereka. Salah satunya adalah pemilik museum ini, Édouard André dan istrinya Nelie Jacquemart.

Dalam hati saya berpikir, apakah mereka mempunyai kepuasan tersendiri karena memiliki lukisan langka yang diperebutkan banyak kolektor? Yang pasti, tentu ada kebanggaan luarbiasa dapat memilikinya…

Hakikat kebahagiaan itu bukan pada masalah berapa banyak orang bisa mengoleksi barang berharga. Diatas itu semua, kembali lagi pada kepuasan, ketenangan dan rasa bersyukur yang akhirnya mendatangkan kebahagiaan lahir batin. Pada akhirnya, semua perburuan lukisan dan barang antik tersebut bahkan disumbangkan agar dapat dinikmati oleh masyarakat umum. Itulah yang disebut kebahagiaan hakiki, yaitu ketika memberi lebih menyenangkan daripada mendapatkan.

Tak terasa sudah 1 jam saya berada disini. Seluruh makanan yang super lezat telah habis… Andai tak kekenyangan rasanya ingin menambah sepotong cake-nya. Saya lalu memberi apresiasi berupa pujian tentang betapa enaknya cake yang saya makan sambil bertanya dimana selain disini saya dapat menemukannya? Tak disangka pelayan yang baik hati memberi saya sebuah kartu nama untuk mendapatkan cake tersebut. “Merci beaucoup! C’est très gantile…”

Setelah membayar seluruh bill makanan saya pun pamit dan beranjak menuju ke butik yang terletak di samping museum. Butik ini menjual beragam souvenirs, kado dan berbagai alat keperluan rumah tangga.

Seluruh barangnya memiliki desain yang cantik dan menarik dengan motif dan warna yang menawan. Butik yang cukup luas ini pun ramai dipenuhi pengunjung. Jika saja tidak memiliki jadwal lain, rasanya ingin berlama-lama disini. Akhirnya saya bertekad lain hari akan kembali lagi dan memilih waktu sore hari agar lebih leluasa. Au revoir, la belle musée! C’est superb… J’adore!

Musée Jacquemart-André

158, Boulevard Haussmann

75008 – Paris, France

Romantisnya Pont Alexandre III Di Paris

Bukan Paris rasanya jika tak dikaitkan dengan keromantisan dan keindahan. Kota menawan ini memang memiliki sejuta pesona yang tak habis-habisnya diperbincangkan… Paris menjadi inspirasi banyak penulis, seniman dan intelektual. Entah sudah berapa film, video klip dan tulisan dibuat berlatarkan kota tercantik di dunia ini.

Pont Alexandre III

Salah satu yang sering menginspirasi adalah Pont Alexandre III. Jembatan yang terkenal karena keindahan dan kemewahannya… Pont Alexandre III bahkan masuk dalam 10 jembatan paling indah di dunia. Jembatan bergaya Beaux-Arts yang romantis ini juga menjadi lokasi favorit pembuatan foto prewedding dan tempat honeymoon pasangan yang sedang dilanda asmara…

Pont Alexandre III

Pont Alexandre III

Pont Alexandre III

Pont Alexandre III

Pont Alexandre III

Pont Alexandre III dibangun sekitar tahun 1896-1900, desainnya dikerjakan oleh arsitek Joseph Cassien-Bernard dan Gaston Cousin. Nama Pont Alexandre III diambil dari nama Kaisar Rusia, Tsar Alexander III sebagai bentuk penghormatan terhadap dedikasinya yang telah mewujudkan hubungan aliansi antara Perancis dengan Rusia pada tahun 1892. Jembatan dengan model yang sama, bernama Trinity Bridge juga dibikin oleh arsitek Perancis di St. Petersburg, Rusia.

Pont Alexandre III

Saat ini Pont Alexandre III menjadi landmark kota Paris dan masuk ke dalam monumen bersejarah yang dilindungi oleh pemerintah Perancis. Lokasi Pont Alexandre berada tak jauh dari Grand Palais, dan Invalides pada sisi yang lain. Anda dapat menyusuri jembatan sepanjang 160 meter ini dengan berjalan kaki sambil menikmati keromantisan dan keindahannya. 

BISTROT PONT ALEXANDRE III


Source: Google

Setelah menikmati keindahan Pont Alexandre III anda dapat mampir sejenak ke Bistrot Alexandre III yang lokasinya berada di sebuah boat di sisi sungai Seine. Tempat ini tak kalah romantisnya dari Pont Alexandre III. Bistrot yang menawarkan hidangan tradisional Perancis ini memiliki pemandangan spektakuler ke Pont Alexandre III dan sungai Seine sekaligus.

Desain bistrot bergaya modern minimalis dengan dominasi warna abu-abu. Meja dan kursinya menggunakan elemen baja, sedang di bagian sudutnya menggunakan sofa kulit berwarna abu-abu. Lantainya dari parket berwarna coklat. Begitu pula langit-langit bistrot yang dihias dengan ornamen kayu panjang berwarna sama. Suasana yang cozy namun romantis membuat pengunjung betah berada di bistrot ini. Hhhmm… Siapa yang tak ingin menikmati secangkir kopi dan sepiring salmon sambil menatap senja terindah di pinggir sungai Seine dengan latar Pont Alexandre III yang menawan…

Source: Bistrot Alexandre III

Source: LaFourchette.com

Kopi Marco @ Marco Padang Peranakan

Salah satu kopi favorit saya adalah Kopi Marco Padang Peranakan. Awalnya saya diajak oleh seorang sahabat untuk mencoba kopi ini, kemudian disarankan untuk memesan kopi susu panas. Setelah itu akhirnya malah jadi ketagihan. Kopi susu ini memang berbeda dari biasanya. Kopi susu panas Marco aromanya lembut, rasa manis dari susu mendominasi tapi tidak menghilangkan flavor kopi, dan bodynya kental. Berbeda dengan Café au lait atau coffee cream yang light dan lebih cair.

Saya bukan ahli kopi, hanya penggemar minuman kopi, jadi cara penilaian saya mungkin berbeda dari yang ahli. Tapi, bukan mustahil jika suatu saat nanti saya ingin belajar lebih serius tentang cara pembuatan kopi dan cupping. Sepertinya menarik ya!

Marco Padang Peranakan lokasinya di Grand Indonesia. Restoran dengan konsep modern ini cukup manarik, sayangnya karena berada di dalam mal jadi tidak ada teras dan ruang terbuka. Selain itu tempat duduk pengunjung terlihat dari luar, dan untuk duduk di bagian dalam harus reservasi dulu. Kebanyakan pengunjung yang datang memang untuk makan karena menu masakan Padang Peranakannya enak. Untuk makanannya saya suka iga bakar, gulai kambing, sate padang dan nasi Saiyo. Jika ingin mencoba sesuatu yang berbeda dari masakan Padang biasa, restoran ini bisa jadi alternatif pilihan.