VALENCIA, KOTA DI SPANYOL YANG MENAKJUBKAN

Berada di Spanyol rasanya belum lengkap jika belum mengunjungi Valencia. Kota cantik dengan bangunan-bangunan bersejarah dan kontemporer yang berada dalam satu tempat. Valencia juga menjadi destinasi favorit para pecinta arsitektur. Di kota ini pula salah satu universitas arsitektur terkenal bernaung.

Sejak lama saya memendam keinginan besar mengunjungi tempat ini. Kesempatan datang ketika saya sedang berada di Barcelona. Segera saya mencari berbagai informasi dan transportasi menuju Valencia. Ternyata jarak Barcelona ke Valencia tidak terlalu jauh, dapat ditempuh 3 jam dengan kereta. Jadi saya memutuskan untuk berangkat pagi agar dapat kembali ke Barcelona lagi sore harinya.

Saya memang tidak berniat menginap karena memikirkan ribetnya packing koper bolak balik, sementara perjalanan liburan saya masih panjang ke berbagai kota lainnya di Eropa.

Akhirnya saya berangkat ke Valencia jam 8 pagi dan tiba jam 11 siang disana. Cuaca sangat panas di bulan Juli, matahari bersinar sangat terik. Saya agak menyesal tidak membawa topi yang lebar sehingga rasanya wajah seperti terbakar dan memerah seketika.

Saran saya jangan lupa untuk selalu membawa topi saat berlibur di segala cuaca. Topi berfungsi menghindari paparan sinar matahari di musim panas, menahan angin yang kadang tidak bersahabat di musim semi dan musim gugur, juga menahan dingin yang terkadang bikin telinga tidak nyaman di musim dingin.

Stasiun Kereta di Valencia, Spanyol

Dari stasiun kereta saya langsung mencari taksi dan segera menuju ke Oceanografic. Sebuah oceanarium terbesar di Eropa dengan taman dan kolam di sekelilingnya. Sungguh menakjubkan! Dream come true! Benar-benar sebuah impian yang menjadi kenyataan… Rasanya senang sekali! Akhirnya saya bisa berada di tempat yang sudah sangat lama saya idamkan…

Saya memandang dengan kagum bangunan yang berada di depan mata. Warna biru metalik melapisi seluruh kubah bangunan yang berdesain kontemporer. Cahayanya gemerlapan ditimpa sinar matahari. Berkilat dengan sangat indah… Rasanya enggan berkedip melihat pantulan cahaya yang menari-nari dibawah langit biru.

Saking antusiasnya, antrian panjang selama setengah jam nyaris tak terasa. Dengan tiket seharga €25 pengunjung dapat mengunjungi 12 bangunan di oceanarium serta menonton berbagai atraksi yang berada diatas area seluas 1 hektar lebih. Disini kita dapat melihat lebih dari 500 jenis ikan yang berbeda, film dokumentar tentang dunia bawah laut, restaurant dalam kolam raksasa, dan tentu saja toko-toko menarik yang menjual berbagai cinderamata sebagai kenang-kenangan. Benar-benar puas deh!

Oiya, tak perlu khawatir karena nanti pengunjung akan diberi buku kecil dan map yang berisi panduan dan informasi detail tentang Oceanografi. Kita tinggal memilih bahasa yang dikuasai, lalu mengikuti petunjuk yang ada di dalam buku tersebut. Berada disini sangat menyenangkan dan merupakan sebuah pengalaman berharga yang tak akan terlupakan…

Oceanografic dari ketinggian. Source: Google

Dari Oceanografic saya menuju ke Ciudad de las Artes y las Ciencias yang berada tak jauh dari sana. Sebuah bangunan yang tak kalah spektakuler! Bentuknya mirip seekor ikan besar yang sedang mengambang di tengah sungai Turia. Bangunan futuristik di area sepanjang 2 kilometer ini didesain oleh arsitek Santiago Calatrava dan Félix Candela. Detailnya sangat rumit dan canggih. Selain itu, jika difoto dari sudut mana pun akan tetap terlihat artistik. Mahakarya yang luarbiasa ini diciptakan sebagai tempat pameran seni, budaya, sains dan karya ilmiah.

Ciudad de las Artes y las Ciencias

Ciudad de las Artes y las Ciencias

Ciudad de las Artes y las Ciencias

L’Agore (Concert Hall) di area Ciudad de las Artes y las Ciencias

Beberapa bangunan berdesain futuristik lainnya yang juga merupakan bagian dari Ciudad de las Artes y las Ciencias adalah Palacio de las Artes Reina Sofía (opera house), L’Àgora, Príncipe Felipe Science Museum, Hemisfèric IMAX Cinema, L’Umbracle, dan Oceanogràfic Aquarium yang juga menjadi salah satu bagian dari kompleks tersebut.

Secara keseluruhan jika dilihat dari ketinggian tampak bagai jejeran ikan-ikan raksasa yang berada di sungai Turia. Seperti tidak nyata tapi nyata di depan mata. Fantastis!

Pemandangan Ciudad de las Artes y las Ciencias dari ketinggian. Source: Google

Selama perjalanan dari Oceanografic saya diantar oleh seorang supir taksi yang sangat baik hati. Dengan sabar ia menunjukkan berbagai bangunan indah, dan toko souvenirs tempat membeli oleh-oleh. Bahkan ia juga mengantar dan menunggui saya berbelanja baju bola dan pernak perniknya ke toko Valencia CF.

Valencia CF

Cafe cantik di Valencia

Estacio Del Nord

Gereja Tua di Valencia

Valencia

Awalnya saya memang bertanya apa dia mau menunggui saya karena barang souvenirs saya cukup banyak jika harus berganti-ganti taksi, atau jika keberatan boleh meninggalkan saya. Untungnya beliau mau, dan dengan baiknya mengantar ke tempat-tempat yang saya inginkan. Turun naik dari taksi sekedar untuk berfoto dan berbelanja. Sebagai ungkapan terimakasih saya pun memberi tips atas kebaikan hatinya tersebut. Beliau gembira, saya pun bahagia.

Terus terang saya menyesal hanya sehari berada di Valencia, dan bertekad suatu hari nanti akan kembali bersama anak-anak untuk menyaksikan berbagai tempat menakjubkan di Valencia. Tentunya tidak terburu-buru karena masih akan menuntaskan terlebih dahulu berbagai kota lain yang sudah masuk dalam rencana saya.

Bagi yang ingin berkunjung ke Spanyol, kota Valencia wajib masuk dalam daftar rencana anda. Dijamin tidak menyesal datang kesini dan pasti ingin kembali lagi!

CAFÉ MUSÉE JACQUEMART ANDRÉ, PARIS

Siapa bilang berkunjung ke museum itu membosankan? Apalagi jika di dalamnya ada butik keren dan café yang memanjakan pengunjungnya dengan berbagai makanan, minuman, dan dessert yang lezat. Setidaknya itu yang saya rasakan ketika berkunjung ke café musée Jacquemart André di Paris.

Cuaca yang cerah mengiringi langkah saya menapaki jalan yang menanjak menuju ke museum megah nan mewah penuh koleksi lukisan dan patung-patung berharga karya seniman terbaik di dunia. Bayangkan! Di museum ini ada Rembrandt, Jacques Louis David, Canaletto, Bernini, Jean Honoré Fragonard, Sandro Botticelli, dan masih banyak lagi mahakarya spektakuler dari seniman berbakat. Penggemar seni dan lukisan pasti terpuaskan dahaganya akan keindahan…

Sebelum masuk ke museum saya memutari seluruh bangunan yang awalnya adalah rumah milik pengusaha kaya raya Perancis, Édouard André dan istrinya Nelie Jacquemart yang berprofesi sebagai pelukis. Pada tahun 1913 rumah beserta seluruh koleksinya diwariskan pada Institut de France untuk dijadikan sebuah museum.

Dari langkah pertama memasuki gerbang hingga berakhir di pintu keluar pengunjung dimanjakan dengan selera tinggi yang penuh kemewahan. Seluruh taman dan jalan yang melingkar dihiasi dengan patung-patung karya seniman terkenal. Bangunan dan halamannya yang luas membuat saya sejenak lupa bahwa sedang berada di tengah kota Paris!

Setelah puas berkeliling, saya menuju ke satu-satunya café yang berada di bagian samping museum. Café bernama sama, Jacquemart André adalah café yang sangat indah dan menakjubkan. Café ini bahkan masuk ke dalam Top 10 Museum Cafes and Restaurants in Paris. Sebuah pengakuan bergengsi yang membanggakan…

Desain café Jacquemart André mengambil tema klasik dengan dominasi warna merah hati pada furniture, tirai, dan lampu-lampu yang menghiasi seluruh ruangan. Dindingnya dipenuhi lukisan dan beberapa patung ikut diletakkan sehingga menambah kesan artistik pada interior café. Spot dari café ini adalah sebuah tungku pemanas ruangan yang terbuat dari batu pualam berkualitas terbaik. Di bagian atasnya terdapat lukisan besar yang sangat indah dan menakjubkan.

Café Jacquemart André merupakan interpretasi dari selera yang sangat berkelas dari pemiliknya, Édouard André dan istrinya Nelie Jacquemart. Berbeda dengan café dan restoran mewah lainnya di kota Paris yang banyak meniru desain dan kemewahan istana Versailles tetapi tidak ada (atau sangat jarang) yang diisi dengan lukisan-lukisan terbaik mahakarya dunia seperti yang terdapat pada café musée Jacquemart André.

Di tempat ini pengunjung dapat melihat sebuah perbedaan, seperti apa yang benar-benar classy, atau yang sekedar berdesain mewah tapi tanpa berisi barang-barang berkelas. Sebagai contoh, 1 lukisan di museum ini saja dapat membuat beberapa cafe berdesain mewah sekaligus!

Di café ini saya mendapat meja makan yang berada di bagian terindahnya. Saya bahagia sekali dapat duduk dengan latar belakang lukisan raksasa yang spektakuler dan patung pualam yang cantik. Bakalan foto-foto terus deh disini hehehee…

Beberapa pelayan dengan sigap segera mendampingi dan mencatat pesanan untuk saya. Setelah itu ada lagi seorang pelayan yang standby dan siap memenuhi apapun yang saya butuhkan. Pelayanan yang baik, ramah dan menyenangkan… Tak salah jika café ini masuk jajaran top 10 café terbaik di Paris.

Saya memesan menu makan siang dan dessert yang menurut saya paling lezat. Di café ini memang tidak banyak pilihan makanan. Dan yang jelas ini café, bukan restoran, brasserie atau bistro yang mengkhususkan diri pada makanan. Pada umumnya cafe hanya menyajikan makanan ringan saja. Jadi, pada saat makan siang harus dipilih yang paling enak dan mengenyangkan. Kecuali bagi anda yang sedang diet yaa… Beda lagi ceritanya…

Sambil menunggu makanan datang, seperti biasa saya suka berpikir, berpikir, dan berpikir memaknai yang terjadi disekeliling saya… hehehe…

Kali ini yang hinggap di kepala saya tentang mahakarya yang popularitasnya diakui dunia, diperebutkan para kolektor, dan menghias museum-museum terkenal dunia.

Saat ini sangat sulit untuk mendapatkan lukisan dari pelukis terkenal yang terjamin keasliannya, kecuali lewat balai lelang yang sudah diakui kredibilitasnya. Melalui balai lelang pun harus lewat berbagai prosedur, termasuk memberikan jaminan dan aneka persyaratan lainnya. Begitu pula sebaliknya, jika ingin melelang benda antik dan berharga pun wajib memasukkan benda tersebut beberapa bulan sebelumnya untuk di cek oleh kurator dan orang-orang yang ahli di bidangnya hingga kemudian dibuatkan sebuah katalog yang memuat seluruh data dari barang-barang yang akan dilelang.

Motivasi para pengikut lelang pun beragam. Ada yang memang kolektor betulan, dan ada pula untuk tujuan investasi karena setiap tahun ada pertambahan nilai dari barang tersebut. Apalagi jika terlelang jauh diatas target, dan itu sering terjadi pada benda antik dan lukisan karya seniman ternama.

Bagi negara yang tidak memiliki aturan ketat, sangat mungkin terjadi balai lelang dijadikan tempat untuk pencucian uang dan menghindari pajak. Identitas bisa disamarkan atau dialihkan pada pihak lain bukan? Terkadang sulit mengidentifikasi apalagi jika barangnya berbentuk perhiasan.

Saya salut dengan kolektor lukisan dan barang antik yang rela berburu ke seluruh dunia untuk mendapatkan impian mereka. Salah satunya adalah pemilik museum ini, Édouard André dan istrinya Nelie Jacquemart.

Dalam hati saya berpikir, apakah mereka mempunyai kepuasan tersendiri karena memiliki lukisan langka yang diperebutkan banyak kolektor? Yang pasti, tentu ada kebanggaan luarbiasa dapat memilikinya…

Hakikat kebahagiaan itu bukan pada masalah berapa banyak orang bisa mengoleksi barang berharga. Diatas itu semua, kembali lagi pada kepuasan, ketenangan dan rasa bersyukur yang akhirnya mendatangkan kebahagiaan lahir batin. Pada akhirnya, semua perburuan lukisan dan barang antik tersebut bahkan disumbangkan agar dapat dinikmati oleh masyarakat umum. Itulah yang disebut kebahagiaan hakiki, yaitu ketika memberi lebih menyenangkan daripada mendapatkan.

Tak terasa sudah 1 jam saya berada disini. Seluruh makanan yang super lezat telah habis… Andai tak kekenyangan rasanya ingin menambah sepotong cake-nya. Saya lalu memberi apresiasi berupa pujian tentang betapa enaknya cake yang saya makan sambil bertanya dimana selain disini saya dapat menemukannya? Tak disangka pelayan yang baik hati memberi saya sebuah kartu nama untuk mendapatkan cake tersebut. “Merci beaucoup! C’est très gantile…”

Setelah membayar seluruh bill makanan saya pun pamit dan beranjak menuju ke butik yang terletak di samping museum. Butik ini menjual beragam souvenirs, kado dan berbagai alat keperluan rumah tangga.

Seluruh barangnya memiliki desain yang cantik dan menarik dengan motif dan warna yang menawan. Butik yang cukup luas ini pun ramai dipenuhi pengunjung. Jika saja tidak memiliki jadwal lain, rasanya ingin berlama-lama disini. Akhirnya saya bertekad lain hari akan kembali lagi dan memilih waktu sore hari agar lebih leluasa. Au revoir, la belle musée! C’est superb… J’adore!

Musée Jacquemart-André

158, Boulevard Haussmann

75008 – Paris, France

SUATU SORE DI CAFE LA BELLE POULE, PARIS

Bulan Maret yang dingin… Winter belum juga berakhir. Langit kelabu, sesekali membiru, hingga akhirnya pudar ditelan kabut…

Aku berjalan pelan di sepanjang avenue Hoche. Salah satu dari 12 jalan ternama yang membelah Arc de Triomphe yang berada di ujung avenue des Champs Élysées. Cuaca yang mendung membuatku berniat mampir sejenak di sebuah café. Pilihanku jatuh pada café La Belle Poule. Terasnya terlihat nyaman dengan penutup kaca disekelilingnya guna melindungi pengunjung dari cuaca dingin. Lampu-lampu bercahaya kuning menghias di sepanjang plafon cafe membuat suasana sore yang dingin menjadi lebih hangat.

Aku memesan secangkir kopi. Tak ada makanan, karena makanan hanya disajikan pada jam makan malam, yaitu jam 7 malam waktu setempat. Lagipula rencananya nanti aku akan dinner di restaurant Thailand yang berada tak jauh dari tempat ini dengan alasan klise, kangen nasi dan masakan berempah dengan bumbu khas yang pedas.

Hujan akhirnya turun membasahi kota Paris, namun tak sedikit pun mengurangi kecantikannya… Dari balik kaca aku memandang rintik-rintik hujan. Sekilas mirip tirai kristal, indah namun tak dapat disentuh…

“Voila! Votre café modemoisele”

Aku bergeming ketika kopi disajikan pelayan di meja. Kemudian segera mengucapkan terimakasih, dan memasukkan sepotong gula ke dalamnya. Hal yang mungkin tak akan dilakukan penikmat kopi sejati karena akan merusak cita rasanya.

Ahh biarlah aku menikmati kopi dengan caraku… Kenikmatan orang kan berbeda-beda… Yang penting nyaman dan bahagia walaupun tidak dengan cara yang sama…

Aku bersyukur bahwa café ini tidak terlalu penuh oleh pengunjung, sehingga dapat lebih menikmati kopi dan suasana sekitarku. Sayangnya tak lama kemudian datang serombongan anak muda memenuhi 4-5 meja di sekelilingku. Sepertinya salah satu dari anak baru gede ini ada yang merayakan ulang tahunnya, sehingga suasana jadi berisik dan agak sedikit menggangguku. Mereka berbicara sambil berteriak-teriak dari satu meja ke meja lainnya sambil sesekali tertawa kencang.

Aku yang menyukai kesendirian jadi merasa terasing di tengah keramaian. Seringkali aku terpaksa berada dalam kondisi seperti ini. Sebenarnya tidak terlalu masalah jika tidak ada suara berisik karena ada juga café yang ramai tapi pengunjungnya sibuk dengan diri sendiri, atau berbicara hanya dengan 1-2 orang sehingga tidak mengganggu sekitarnya. Atau mungkin hanya introvert sepertiku yang terganggu?

Carl Gustav Jung mungkin ada benarnya… Psikolog terkenal yang menggagas tipe kepribadian manusia ini mengatakan bahwa seorang introvert cenderung menarik diri dari kontak sosial dan merasa nyaman dengan dirinya sendiri. Mereka tidak anti sosial karena mereka sesekali tetap bergaul, tetapi hanya mau dengan orang-orang yang telah dikenalnya dengan baik. Introvert dalam kesehariannya lebih memilih di rumah daripada bertemu banyak orang di keramaian yang justru akan membuatnya merasa terasing dan menguras energinya.

Dan aku… Dalam sebuah kondisi sesekali juga berbincang dengan orang yang baru aku temui. Aku beruntung sering bertemu orang yang memiliki wawasan luas dan pintar di bidangnya, walaupun 1-2 ada juga yang menyebalkan dan mencari orang yang bisa dimanfaatkan. Aku menyebutnya pengecut-pengecut bodoh (ngga boleh ketawa bacanya ya!). Aku tidak bermaksud mengumpat dengan indah, walaupun yang tersurat terlihat seperti itu.

Hhmm… Jam masih menunjukkan pukul 5 sore… Aku merapikan syalku, lalu memesan secangkir kopi lagi untuk menghabiskan sisa waktu hingga saat dinner tiba. Kemudian mengamati sekitarku sambil berpikir dan mencoba memahami “Mengapa kita berbeda dalam berprinsip dan mengadopsi nilai-nilai kehidupan” dari sudut pandang beberapa filsuf dan psikolog terkenal yang pernah aku baca bukunya.

Favoritku adalah Sartre, seorang eksistensialis asal Perancis. Menurut Sartre, “Orang lain adalah neraka bagi diriku.” Sartre menegaskan bahwa dirinya tidak merasa bebas dan merdeka oleh kehadiran orang-orang yang berada disekitarnya. Keberadaan orang lain membuat dirinya menjadi obyek, dan mereka subjeknya. Sartre adalah seorang pemuja kebebasan sejati, tak heran ia begitu mengagung-agungkan kemerdekaan menjadi diri sendiri, dan memilih tidak terikat dengan berbagai hal yang ada disekelilingnya.

Pemikiran Sartre yang juga terkenal yaitu “L’etre-pour-soi” yang diartikan sebagai pengada yang sadar akan diri sendiri. Individu dianggap secara total memiliki sikap atas dasar dirinya sendiri. Sedangkan “L’etre-en-sois” adalah pengada yang tidak sadar akan dirinya sendiri sehingga tidak memiliki pendirian dan tidak punya sikap, serta tidak sadar memiliki tanggungjawab. Hewan bahkan dikategorikan juga ke dalam “L’etre-en-sois.” Duhh ngeri sekali yaa kalau ada manusia seperti ini… Tak ada bedanya dengan hewan!

Aku meneguk kopiku yang sudah mulai dingin sambil membiarkan jari-jariku terus memeluk badan cangkir…

Aku jadi teringat Freud, seorang psikolog, filsuf, dan juga penulis yang dikenal karena membagi manusia dalam kategori Id, Ego, dan Superego. Menurut Freud ketiga hal tersebut harus seimbang dalam kehidupan manusia yang sehat. Disini aku justru sangat tertarik dengan ungkapannya, “It is impossible to escape the impression that people commonly use false standards of measurement that they seek power, success and wealth for themselves and admire them in others, and that they underestimate what is of true value in life.”

Secara singkat, orang-orang egois dan munafik itu eksis dalam kehidupan nyata. Mengejar ambisi kekuasaan sekuat tenaga tanpa menyadari banyak hal lain yang berharga dalam hidup ini. Meremehkan orang lain yang memiliki cara pandang berbeda karena dibutakan kesombongan dan kekuasaan. Hal ini disebabkan karena ketidakmampuan ego mengatasi desakan dominasi Id. Secara psikis mentalnya sudah tidak sehat.

Tentu saja tidak semua orang seperti itu… Orang yang sehat dan seimbang Id, Ego dan Superego-nya dapat menikmati hidup ini dan menghargai sekelilingnya, termasuk keindahan alam di sekitar kita.

Aku ingin memperkuat argumenku dengan teori yang diajukan oleh ahli geologi terkemuka, Charles Darwin. Menurut Darwin, “Manusia dicirikan tidak hanya dengan fisik yang khas, namun juga dengan sifat-sifat psikis tertentu.” Salah satu butir penjelasannya menyebutkan bahwa; manusia normal memiliki moral; dalam arti manusia yang beretika.

Secara jelas Darwin telah membuat definisi normal dan tidak normal pada diri manusia berdasarkan pada moral dan etika yang meliputi tentang adab bertingkah laku, cara berkomunikasi yang baik, cara menghargai orang lain, hak, kewajiban, serta menunaikan tanggungjawab atas apa yang telah diperbuat. Jangan sampai ketidaknormalan dalam beretika ini membuat manusia menjadi sederajat dengan hewan bukan?

Albert Camus, seorang filsuf terhormat dalam bukunya menyebut Nietzche yang dikenal dengan paham nihilisme-nya pernah berteriak dengan putus asa: “Hati nuraniku dan hati nuranimu tidaklah sama!”

Nihilis (bukan atheis) yang tidak mampu mempercayai sang kuasa saja bisa berbicara tentang hati nurani. Sementara orang-orang yang memiliki keyakinan ada sebagian dari mereka yang justru sudah kehilangan hati nuraninya hingga tega menjadi predator bagi sesamanya.

Dunia ini gila? Tidak, dunia ini sama saja dari dulu hingga sekarang… Hanya penghuninya yang terkadang memiliki ego yang tinggi, gila kekuasaan hingga menghalalkan segala cara dengan menggunakan topeng-topeng berwajah baik.

Persamaan diantara keduanya adalah sama-sama mengingkari untuk menerima dunia ini seperti apa adanya. Itu sebabnya manusia dari waktu ke waktu ingin merubahnya dengan caranya masing-masing. Kenyataannya mereka hanya mampu memolesnya diatas fondasi yang tetap sama. Lalu terus cakar-cakaran untuk berusaha menganti polesan tersebut.

Tulisanku ini mungkin agak panjang lebar dan sulit dimengerti bagi sebagian orang walaupun aku sudah berusaha menulis dengan bahasa yang ringan dan sederhana… Tidak masalah, karena seorang filsuf seperti Derrida pun pernah menyatakan bahwa;

“Tidak ada bahasa baik tertulis atau lisan, yang secara sempurna menjadi sarana transparan untuk menjelaskan makna.”

Mungkin kamu berpikir aku mencari pembenaran atas sikap dan prinsipku lewat berbagai dalil dan teori. Tapi, aku rasa semua orang berhak memiliki alasan kuat yang mendukung tindakan dan ucapannya hingga menjadi sebuah prinsip yang kuat. Sebab jika tidak kita akan jadi mudah goyah, gampang diprovokasi hingga akhirnya tidak lagi menjadi diri sendiri. Ini adalah salah satu dasar yang membuat aku berbeda dengan orang lain yang suka ikut-ikutan, dan membuatku tidak tergantung dengan orang lain.

Memiliki sikap dan prinsip yang kuat menbuatku percaya diri dengan semua yang aku putuskan, semua yang aku lakukan dimana pun aku berada. Aku tidak pernah takut sendirian, di tempat yang sangat asing sekali pun. Aku berani menyatakan pendapatku karena aku tahu memiliki dasar yang kuat dibalik itu semua. Aku berani melakukan hal-hal yang mungkin tidak pernah kamu bayangkan…

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 6.30 sore. Bayangan masakan Thailand yang lezat menari-nari di kepalaku… Rasa pedas dan harum rempah-rempah yang aku rindukan membuatku ingin segera menuju kesana… Garçon! L’addition, s’il vous plait!

___________________

___________________

NB:

Tulisan ini sengaja dibuat berbeda dengan tulisan-tulisan perjalanan dan ulasan cafe lainnya karena disini cafe hanya dijadikan backgroud dari isi tulisan. Tentunya lebih mudah bagi saya menulis review dan memberi informasi tentang traveling, kopi dan café lewat tulisan seperti biasanya, tetapi saya ingin ada beberapa yang lebih berbobot dengan memasukkan pemikiran dan unsur ilmu pengetahuan ke dalamnya.

Semua ditulis tetap dengan bahasa yang mudah dipahami. Penggunaan “Aku” dalam beberapa tulisan agar jarak penulis dan pembaca tidak terlalu jauh, dan semoga pembaca dapat lebih merasakan isi tulisan ini.

Saya juga berharap pembaca dapat memberikan komentar, kritik dan saran tentang tulisan ini lewat Twitter @RianaRaraKalsum atau ke Email:

rianapamuncak@gmail.com

Terimakasih… Happy reading!

Berkunjung Ke Villa Ephrussi De Rothschild di St. Jean Cap Ferrat, Perancis Selatan

Liburan musim semi tahun 2016 lalu saya lewatkan di beberapa kota di Italy, Monaco Monte Carlo, dan di Perancis Selatan, yaitu ke Nice, St. Tropez, St. Jean Cap Ferrat, Beau Lieu Sur Mer, dan Eze Village.
Salah satu tempat terindah yang saya datangi pada tanggal 24 May 2016 adalah Villa et Jardin Ephrussi de Rothschild di St. Jean Cap Ferrat, Perancis Selatan.
Villa Ephrussi de Rothschild terletak diatas ketinggian sebuah bukit dengan pemandangan spektakuler laut Mediterania yang berada di sekelilingnya dengan akses langsung ke pantai.

Pemandangan laut dari dalam Villa


Pemandangan dari bawah Villa

Villa milik Béatrice Ephrussi de Rothschild ini dibangun pada tahun 1907 hingga tahun 1912, dan terkenal karena mempunyai salah satu taman yang terindah di dunia.

Taman di Villa Ephrussi de Rothschild

Ada 9 taman di area Villa dengan berbagai tema berbeda. Yaitu Jardin Espagnol, Jardin Florentin, Roseraie atau Rose Garden, Jardin Japonaise, Jardin Lapidaire, Jardin Exotique, Jardin Provençal, Jardin à la Français dan Jardin de Sèvres.
Semua taman sangat indah, bercita rasa seni dan berselera tinggi. Favorit saya adalah Roseraie atau Rose Garden, sebuah taman mawar cantik yang menghadap ke laut Mediterania.

Villa Ephrussi de Rothschild bukan tempat untuk menginap, dan bisa didatangi oleh siapa saja. Bahkan Villa ini sering disewakan untuk acara-acara gala, party, high fashion show seperti, misalnya Bulgari dan acara pesta pernikahan.
Jika anda menyukai bunga dan keindahan, tempat ini sangat menyenangkan bukan?
Setiba di pintu utama, setelah membayar tiket masuk, pengunjung akan diarahkan untuk memutari taman-taman yang berada di sekeliling Villa.
Ada banyak jalan yang bercabang untuk menelusuri taman, tinggal mengikuti sesuai taman yang diminati atau mendatangi taman satu persatu.

Taman pertama yang saya masuki adalah Jardin Espagnola atau Spanish Garden. Mata langsung disuguhi pemandangan khas Taman Spanyol di pavilliun terbuka dengan penggunaan unsur air di berbagai tempat sebagai penghias taman hingga membuat udara panas menjadi sejuk seketika. Sungguh mengesankan…

Jardin Espagnola

Kemudian saya melanjutkan menuju taman berikutnya, yaitu Jardin Florentin. Taman berdesain Italia ini sangat cantik, dilengkapi dengan tangga melingkar di sekeliling tempat duduk yang dihiasi dengan pot bunga dan air mancur di kolam yang berhadapan langsung dengan laut. Benar-benar menakjubkan!

Jardin Florentin


Pemandangan laut dari Jardin Florentin

Disini saya sempat duduk sebentar sambil beristirahat, dan tentu saja tak melewatkan sesi berfoto foto di taman.
Semilir angin laut bertiup lembut di tengah panasnya cuaca. Tak mengapa, tempat ini terlalu indah untuk dilewatkan…


Menikmati pemandangan laut yang menawan

Dari Jardin Florentin saya langsung mengambil jalan lurus menuju ke Roseraie atau Rose Garden. Sebuah taman yang dipenuhi bunga mawar dengan beragam jenis dan berbagai warna. Sesaat saya terpaku, sungguh luarbiasa cantiknya…

Roseraie

Hamparan ribuan mawar berjejer indah disepanjang lereng bukit dengan pemandangan laut dibawahnya… Wangi bunga mawar memenuhi udara saat melangkah di taman yang sangat indah dan luas ini. Rasanya tak ingin beranjak dari tempat ini… Saya rasa tak seorang pun dapat menolak disuguhkan pemandangan sehebat ini…

Roseraie

Roseraie

Roseraie

Roseraie

Dipuncak bukit, tepat berada diatas Taman Mawar, berdiri sebuah kuil cinta yang dalam bahasa Perancis disebut Temple de l’Amour. Kuil cinta yang merupakan replika Trianon di Istana Versailles.
Kuil ini sangat romantis karena banyak pasangan mendeklarasikan cintanya disini.

Temple de l’Amour

Lokasi kuil cinta yang berada di puncak bukit ini juga berhadapan langsung dengan Villa Ephrussi de Rothschild. Dan diantara kuil dan Villa, terdapat sebuah kolam dengan air mancur yang dapat menari mengikuti irama musik klasik yang terdengar di seluruh penjuru taman.

Selain itu terdapat air terjun kecil yang mengalir dari bawah kuil cinta mengisi kolam-kolam sekaligus menjadi penyejuk bagi udara siang yang panas. Betul-betul heaven on earth!
Sebelum menuju ke Villa utama, saya memutari bagian sisi lain bukit untuk melihat laut dengan pemandangan yang berbeda. Pemandangan laut dari sisi sebelah Villa tak kalah indahnya… Spektakuler karena langsung menghadap ke laut lepas dengan kapal pesiar dan yacht yang menghiasi lautan biru.


Pemandangan dari atas villa


Pemandangan laut dari sekeliling villa

Panorama alam seperti ini mungkin yang membuat harga tanah di St. Jean Cap Ferrat termasuk salah satu dari 3 tempat yang termahal di dunia, dengan harga tanah 100 ribu Euro permeter persegi, dan bahkan bisa naik lebih tinggi lagi jika lokasinya strategis.
Banyak nama-nama terkenal memiliki villa indah di St. Jean Cap Ferrat karena pemandangannya yang fantastis dan tentunya mempunyai prestige tersendiri.


Taman Bunga di Villa Ephrussi de Rothschild

Hari sangat panas, dan lanscape villa yang turun naik bukit dengan luas berhektar-hektar membuat saya memutuskan untuk skip saja menikmati beberapa taman, hanya sekedar berhenti sejenak untuk membuat beberapa foto sebagai kenangan.

 Salah satu taman di Villa Ephrussi de Rothschild


“I have seen the majestic beauty of nature and the overwhelming perfection of.”
-Cote de Pablo

Sebelum menuju ke Villa saya sempat istirahat sejenak di taman yang terletak tepat di bagian belakang Villa sambil menikmati bunga-bunga indah disekitarnya.


Taman dibagian belakang Villa

Puas berfoto saya kemudian menuju ke bagian dalam Villa Ephrussi de Rothschild yang mewah bergaya renaissance.

Pintu masuk ke Villa Ephrussi de Rothschild

Bagian dalam Villa saat ini sudah dibagi menjadi beberapa bagian. Diantaranya, Museum, Boutique dan Salon de Thé.

Bagian pertama yang saya masuki adalah museumnya untuk melihat dekorasi dan koleksi benda seni bernilai tinggi dari great masters milik Béatrice Ephrussi de Rothschild, yang saat ini telah diberikan dan dikelola oleh Academie Des Beaux-Arts.

Bagian dalam Villa Ephrussi de Rothschild

Villa Ephrussi de Rothschild

Villa Ephrussi de Rothschild

Koleksi benda seni di Villa Ephrussi de Rothschild

Ruang tengah di Villa Ephrussi de Rothschild

Ruang tengah di Villa Ephrussi de Rothschild

Setelah mengelilingi seluruh bagian Villa yang indah, tentu saja saya tak melewatkan mampir minum kopi dan mencicipi es krim dan macaron lezat di Salon de Thé Villa Ephrussi de Rothschild.

Salon de Thé Villa Ephrussi de Rothschild

Kopi, Es Krim dan Macaron cantik di Salon de Thé Villa Ephrussi de Rothschild

Pemandangan Laut dari jendela Salon de Thé Villa Ephrussi de Rothschild


Teras Villa Ephrussi de Rothschild

Kunjungan saya ke Villa Ephrussi de Rothschild sungguh sangat spesial dan berkesan. Tempat yang luarbiasa indahnya di atas sebuah bukit yang dipenuhi bunga dan dikelilingi oleh laut di Perancis Selatan.
Saya berniat suatu hari nanti akan kembali kesini… C’est vraiment adorable place!

NB: Jika ingin mengetahui lebih banyak tentang Sejarah dan informasi Villa Ephrussi de Rothschild, bisa klik link berikut:

http://www.villa-ephrussi.com

Video Youtube by Drone in Nice CN

https://youtu.be/99BxWnik7So

Pertanyaan, Saran dan Kritik yang membangun silahkan dikirim ke email saya:
rianapamuncak@gmail.com
Terimakasih sudah membaca!

Café Le Hoche, Paris

Café Le Hoche

Perfect Espresso

Waiting for my coffee

Berada di Paris memang sangat menyenangkan… Apalagi bagi penggemar kopi… Deretan cafe memenuhi seluruh ruas-ruas jalan di Paris. Setiap cafe memiliki daya tarik dan ciri khas tersendiri… Favorit wisatawan tentu saja di Avenue des Champs Élysées, jalan paling terkenal di dunia. Ramainya pengunjung terkadang membuat antrian yang lama. Daripada membuang-buang waktu, alternatif lainnya kenapa tidak mencoba berbagai cafe cantik yang berada tak jauh dari Avenue des Champs Élysées?

Cafe menarik dan layak anda coba diantaranya adalah Café Le Hoche. Lokasinya di dekat Arc de Triomphe, monumen yang berada diujung Avenue des Champs Élysées. Arc de Triomphe dibagi atas 12 jalan terkenal yang masing-masing jalannya juga dipenuhi dengan cafe, restoran, butik, hotel dan apartemen mewah.

Salah satu jalan tersebut bernama Avenue Hoche. Jalan ini pada bagian ujungnya bertemu dengan jalan terkenal lainnya, yaitu Rue Faubourg Saint Honore. Jalan yang menjadi favorit para shopaholic sedunia. Café Le Hoche sendiri berada dipersimpangan Avenue Hoche dan Rue Faubourg Saint Honore, Paris.

Café cantik ini desainnya didominasi warna hitam putih sehingga semakin kelihatan elegan dan chic. Lokasinya yang strategis, karena juga berada di dekat Parc Monceau menjadikannya salah satu café favorit untuk disinggahi, baik oleh masyarakat lokal dan wisatawan yang datang dari seluruh dunia. Suasana Café Le Hoche sangat nyaman dan tidak terlalu ramai. Cocok buat menikmati sore yang indah di Paris sambil minum secangkir espresso yang nikmat.

Tunggu apalagi? Kalo ke Paris mampir ya guys…

Café Les Deux Magots, Paris

Café Les Deux Magots adalah salah satu dari tiga café prestisius yang paling berpengaruh di Perancis. Café lainnya adalah Café de Flore dan Café Le Procope. Ketiga café ini terletak di kawasan Saint Germain des Près, Paris.

Café bersejarah dan legendaris ini menjadi terkenal karena perannya sebagai tempat berkumpul para intelektual, politikus, sastrawan dan seniman. Di ketiga café ini mereka saling berdiskusi, bertukar informasi dan mencari ide hingga menghasilkan karya-karya yang terkenal hingga ke seluruh dunia.

Café Les Deux Magots

My Favorite Salad, Café Les Deux Magots

Kebiasaan masyarakat Perancis minum kopi di cafe masih berlangsung hingga kini, dan bahkan wisatawan yang datang pun mengikuti gaya hidup ala Perancis dengan duduk di teras cafe menikmati secangkir kopi sambil memesan makanan ringan seperti salad dan beragam jenis cake. Cafe di Perancis memang tidak menyediakan makanan berat, kecuali jika ada embel-embel restaurant atau bistro di cafe tersebut. 

Jika ingin berkunjung, terutama di musim liburan sebaiknya anda melakukan reservasi terlebih dahulu melalui situs resmi café Les Deux Magots. Makanan yang lezat, suasana yang nyaman, serta pelayanan yang ramah dan cepat membuat café Les Deux Magots hingga kini dapat terus mempertahankan reputasinya sebagai salah satu café prestisius di Paris.