CAFÉ MUSÉE JACQUEMART ANDRÉ, PARIS

Siapa bilang berkunjung ke museum itu membosankan? Apalagi jika di dalamnya ada butik keren dan café yang memanjakan pengunjungnya dengan berbagai makanan, minuman, dan dessert yang lezat. Setidaknya itu yang saya rasakan ketika berkunjung ke café musée Jacquemart André di Paris.

Cuaca yang cerah mengiringi langkah saya menapaki jalan yang menanjak menuju ke museum megah nan mewah penuh koleksi lukisan dan patung-patung berharga karya seniman terbaik di dunia. Bayangkan! Di museum ini ada Rembrandt, Jacques Louis David, Canaletto, Bernini, Jean Honoré Fragonard, Sandro Botticelli, dan masih banyak lagi mahakarya spektakuler dari seniman berbakat. Penggemar seni dan lukisan pasti terpuaskan dahaganya akan keindahan…

Sebelum masuk ke museum saya memutari seluruh bangunan yang awalnya adalah rumah milik pengusaha kaya raya Perancis, Édouard André dan istrinya Nelie Jacquemart yang berprofesi sebagai pelukis. Pada tahun 1913 rumah beserta seluruh koleksinya diwariskan pada Institut de France untuk dijadikan sebuah museum.

Dari langkah pertama memasuki gerbang hingga berakhir di pintu keluar pengunjung dimanjakan dengan selera tinggi yang penuh kemewahan. Seluruh taman dan jalan yang melingkar dihiasi dengan patung-patung karya seniman terkenal. Bangunan dan halamannya yang luas membuat saya sejenak lupa bahwa sedang berada di tengah kota Paris!

Setelah puas berkeliling, saya menuju ke satu-satunya café yang berada di bagian samping museum. Café bernama sama, Jacquemart André adalah café yang sangat indah dan menakjubkan. Café ini bahkan masuk ke dalam Top 10 Museum Cafes and Restaurants in Paris. Sebuah pengakuan bergengsi yang membanggakan…

Desain café Jacquemart André mengambil tema klasik dengan dominasi warna merah hati pada furniture, tirai, dan lampu-lampu yang menghiasi seluruh ruangan. Dindingnya dipenuhi lukisan dan beberapa patung ikut diletakkan sehingga menambah kesan artistik pada interior café. Spot dari café ini adalah sebuah tungku pemanas ruangan yang terbuat dari batu pualam berkualitas terbaik. Di bagian atasnya terdapat lukisan besar yang sangat indah dan menakjubkan.

Café Jacquemart André merupakan interpretasi dari selera yang sangat berkelas dari pemiliknya, Édouard André dan istrinya Nelie Jacquemart. Berbeda dengan café dan restoran mewah lainnya di kota Paris yang banyak meniru desain dan kemewahan istana Versailles tetapi tidak ada (atau sangat jarang) yang diisi dengan lukisan-lukisan terbaik mahakarya dunia seperti yang terdapat pada café musée Jacquemart André.

Di tempat ini pengunjung dapat melihat sebuah perbedaan, seperti apa yang benar-benar classy, atau yang sekedar berdesain mewah tapi tanpa berisi barang-barang berkelas. Sebagai contoh, 1 lukisan di museum ini saja dapat membuat beberapa cafe berdesain mewah sekaligus!

Di café ini saya mendapat meja makan yang berada di bagian terindahnya. Saya bahagia sekali dapat duduk dengan latar belakang lukisan raksasa yang spektakuler dan patung pualam yang cantik. Bakalan foto-foto terus deh disini hehehee…

Beberapa pelayan dengan sigap segera mendampingi dan mencatat pesanan untuk saya. Setelah itu ada lagi seorang pelayan yang standby dan siap memenuhi apapun yang saya butuhkan. Pelayanan yang baik, ramah dan menyenangkan… Tak salah jika café ini masuk jajaran top 10 café terbaik di Paris.

Saya memesan menu makan siang dan dessert yang menurut saya paling lezat. Di café ini memang tidak banyak pilihan makanan. Dan yang jelas ini café, bukan restoran, brasserie atau bistro yang mengkhususkan diri pada makanan. Pada umumnya cafe hanya menyajikan makanan ringan saja. Jadi, pada saat makan siang harus dipilih yang paling enak dan mengenyangkan. Kecuali bagi anda yang sedang diet yaa… Beda lagi ceritanya…

Sambil menunggu makanan datang, seperti biasa saya suka berpikir, berpikir, dan berpikir memaknai yang terjadi disekeliling saya… hehehe…

Kali ini yang hinggap di kepala saya tentang mahakarya yang popularitasnya diakui dunia, diperebutkan para kolektor, dan menghias museum-museum terkenal dunia.

Saat ini sangat sulit untuk mendapatkan lukisan dari pelukis terkenal yang terjamin keasliannya, kecuali lewat balai lelang yang sudah diakui kredibilitasnya. Melalui balai lelang pun harus lewat berbagai prosedur, termasuk memberikan jaminan dan aneka persyaratan lainnya. Begitu pula sebaliknya, jika ingin melelang benda antik dan berharga pun wajib memasukkan benda tersebut beberapa bulan sebelumnya untuk di cek oleh kurator dan orang-orang yang ahli di bidangnya hingga kemudian dibuatkan sebuah katalog yang memuat seluruh data dari barang-barang yang akan dilelang.

Motivasi para pengikut lelang pun beragam. Ada yang memang kolektor betulan, dan ada pula untuk tujuan investasi karena setiap tahun ada pertambahan nilai dari barang tersebut. Apalagi jika terlelang jauh diatas target, dan itu sering terjadi pada benda antik dan lukisan karya seniman ternama.

Bagi negara yang tidak memiliki aturan ketat, sangat mungkin terjadi balai lelang dijadikan tempat untuk pencucian uang dan menghindari pajak. Identitas bisa disamarkan atau dialihkan pada pihak lain bukan? Terkadang sulit mengidentifikasi apalagi jika barangnya berbentuk perhiasan.

Saya salut dengan kolektor lukisan dan barang antik yang rela berburu ke seluruh dunia untuk mendapatkan impian mereka. Salah satunya adalah pemilik museum ini, Édouard André dan istrinya Nelie Jacquemart.

Dalam hati saya berpikir, apakah mereka mempunyai kepuasan tersendiri karena memiliki lukisan langka yang diperebutkan banyak kolektor? Yang pasti, tentu ada kebanggaan luarbiasa dapat memilikinya…

Hakikat kebahagiaan itu bukan pada masalah berapa banyak orang bisa mengoleksi barang berharga. Diatas itu semua, kembali lagi pada kepuasan, ketenangan dan rasa bersyukur yang akhirnya mendatangkan kebahagiaan lahir batin. Pada akhirnya, semua perburuan lukisan dan barang antik tersebut bahkan disumbangkan agar dapat dinikmati oleh masyarakat umum. Itulah yang disebut kebahagiaan hakiki, yaitu ketika memberi lebih menyenangkan daripada mendapatkan.

Tak terasa sudah 1 jam saya berada disini. Seluruh makanan yang super lezat telah habis… Andai tak kekenyangan rasanya ingin menambah sepotong cake-nya. Saya lalu memberi apresiasi berupa pujian tentang betapa enaknya cake yang saya makan sambil bertanya dimana selain disini saya dapat menemukannya? Tak disangka pelayan yang baik hati memberi saya sebuah kartu nama untuk mendapatkan cake tersebut. “Merci beaucoup! C’est très gantile…”

Setelah membayar seluruh bill makanan saya pun pamit dan beranjak menuju ke butik yang terletak di samping museum. Butik ini menjual beragam souvenirs, kado dan berbagai alat keperluan rumah tangga.

Seluruh barangnya memiliki desain yang cantik dan menarik dengan motif dan warna yang menawan. Butik yang cukup luas ini pun ramai dipenuhi pengunjung. Jika saja tidak memiliki jadwal lain, rasanya ingin berlama-lama disini. Akhirnya saya bertekad lain hari akan kembali lagi dan memilih waktu sore hari agar lebih leluasa. Au revoir, la belle musée! C’est superb… J’adore!

Musée Jacquemart-André

158, Boulevard Haussmann

75008 – Paris, France

SUATU SORE DI CAFE LA BELLE POULE, PARIS

Bulan Maret yang dingin… Winter belum juga berakhir. Langit kelabu, sesekali membiru, hingga akhirnya pudar ditelan kabut…

Aku berjalan pelan di sepanjang avenue Hoche. Salah satu dari 12 jalan ternama yang membelah Arc de Triomphe yang berada di ujung avenue des Champs Élysées. Cuaca yang mendung membuatku berniat mampir sejenak di sebuah café. Pilihanku jatuh pada café La Belle Poule. Terasnya terlihat nyaman dengan penutup kaca disekelilingnya guna melindungi pengunjung dari cuaca dingin. Lampu-lampu bercahaya kuning menghias di sepanjang plafon cafe membuat suasana sore yang dingin menjadi lebih hangat.

Aku memesan secangkir kopi. Tak ada makanan, karena makanan hanya disajikan pada jam makan malam, yaitu jam 7 malam waktu setempat. Lagipula rencananya nanti aku akan dinner di restaurant Thailand yang berada tak jauh dari tempat ini dengan alasan klise, kangen nasi dan masakan berempah dengan bumbu khas yang pedas.

Hujan akhirnya turun membasahi kota Paris, namun tak sedikit pun mengurangi kecantikannya… Dari balik kaca aku memandang rintik-rintik hujan. Sekilas mirip tirai kristal, indah namun tak dapat disentuh…

“Voila! Votre café modemoisele”

Aku bergeming ketika kopi disajikan pelayan di meja. Kemudian segera mengucapkan terimakasih, dan memasukkan sepotong gula ke dalamnya. Hal yang mungkin tak akan dilakukan penikmat kopi sejati karena akan merusak cita rasanya.

Ahh biarlah aku menikmati kopi dengan caraku… Kenikmatan orang kan berbeda-beda… Yang penting nyaman dan bahagia walaupun tidak dengan cara yang sama…

Aku bersyukur bahwa café ini tidak terlalu penuh oleh pengunjung, sehingga dapat lebih menikmati kopi dan suasana sekitarku. Sayangnya tak lama kemudian datang serombongan anak muda memenuhi 4-5 meja di sekelilingku. Sepertinya salah satu dari anak baru gede ini ada yang merayakan ulang tahunnya, sehingga suasana jadi berisik dan agak sedikit menggangguku. Mereka berbicara sambil berteriak-teriak dari satu meja ke meja lainnya sambil sesekali tertawa kencang.

Aku yang menyukai kesendirian jadi merasa terasing di tengah keramaian. Seringkali aku terpaksa berada dalam kondisi seperti ini. Sebenarnya tidak terlalu masalah jika tidak ada suara berisik karena ada juga café yang ramai tapi pengunjungnya sibuk dengan diri sendiri, atau berbicara hanya dengan 1-2 orang sehingga tidak mengganggu sekitarnya. Atau mungkin hanya introvert sepertiku yang terganggu?

Carl Gustav Jung mungkin ada benarnya… Psikolog terkenal yang menggagas tipe kepribadian manusia ini mengatakan bahwa seorang introvert cenderung menarik diri dari kontak sosial dan merasa nyaman dengan dirinya sendiri. Mereka tidak anti sosial karena mereka sesekali tetap bergaul, tetapi hanya mau dengan orang-orang yang telah dikenalnya dengan baik. Introvert dalam kesehariannya lebih memilih di rumah daripada bertemu banyak orang di keramaian yang justru akan membuatnya merasa terasing dan menguras energinya.

Dan aku… Dalam sebuah kondisi sesekali juga berbincang dengan orang yang baru aku temui. Aku beruntung sering bertemu orang yang memiliki wawasan luas dan pintar di bidangnya, walaupun 1-2 ada juga yang menyebalkan dan mencari orang yang bisa dimanfaatkan. Aku menyebutnya pengecut-pengecut bodoh (ngga boleh ketawa bacanya ya!). Aku tidak bermaksud mengumpat dengan indah, walaupun yang tersurat terlihat seperti itu.

Hhmm… Jam masih menunjukkan pukul 5 sore… Aku merapikan syalku, lalu memesan secangkir kopi lagi untuk menghabiskan sisa waktu hingga saat dinner tiba. Kemudian mengamati sekitarku sambil berpikir dan mencoba memahami “Mengapa kita berbeda dalam berprinsip dan mengadopsi nilai-nilai kehidupan” dari sudut pandang beberapa filsuf dan psikolog terkenal yang pernah aku baca bukunya.

Favoritku adalah Sartre, seorang eksistensialis asal Perancis. Menurut Sartre, “Orang lain adalah neraka bagi diriku.” Sartre menegaskan bahwa dirinya tidak merasa bebas dan merdeka oleh kehadiran orang-orang yang berada disekitarnya. Keberadaan orang lain membuat dirinya menjadi obyek, dan mereka subjeknya. Sartre adalah seorang pemuja kebebasan sejati, tak heran ia begitu mengagung-agungkan kemerdekaan menjadi diri sendiri, dan memilih tidak terikat dengan berbagai hal yang ada disekelilingnya.

Pemikiran Sartre yang juga terkenal yaitu “L’etre-pour-soi” yang diartikan sebagai pengada yang sadar akan diri sendiri. Individu dianggap secara total memiliki sikap atas dasar dirinya sendiri. Sedangkan “L’etre-en-sois” adalah pengada yang tidak sadar akan dirinya sendiri sehingga tidak memiliki pendirian dan tidak punya sikap, serta tidak sadar memiliki tanggungjawab. Hewan bahkan dikategorikan juga ke dalam “L’etre-en-sois.” Duhh ngeri sekali yaa kalau ada manusia seperti ini… Tak ada bedanya dengan hewan!

Aku meneguk kopiku yang sudah mulai dingin sambil membiarkan jari-jariku terus memeluk badan cangkir…

Aku jadi teringat Freud, seorang psikolog, filsuf, dan juga penulis yang dikenal karena membagi manusia dalam kategori Id, Ego, dan Superego. Menurut Freud ketiga hal tersebut harus seimbang dalam kehidupan manusia yang sehat. Disini aku justru sangat tertarik dengan ungkapannya, “It is impossible to escape the impression that people commonly use false standards of measurement that they seek power, success and wealth for themselves and admire them in others, and that they underestimate what is of true value in life.”

Secara singkat, orang-orang egois dan munafik itu eksis dalam kehidupan nyata. Mengejar ambisi kekuasaan sekuat tenaga tanpa menyadari banyak hal lain yang berharga dalam hidup ini. Meremehkan orang lain yang memiliki cara pandang berbeda karena dibutakan kesombongan dan kekuasaan. Hal ini disebabkan karena ketidakmampuan ego mengatasi desakan dominasi Id. Secara psikis mentalnya sudah tidak sehat.

Tentu saja tidak semua orang seperti itu… Orang yang sehat dan seimbang Id, Ego dan Superego-nya dapat menikmati hidup ini dan menghargai sekelilingnya, termasuk keindahan alam di sekitar kita.

Aku ingin memperkuat argumenku dengan teori yang diajukan oleh ahli geologi terkemuka, Charles Darwin. Menurut Darwin, “Manusia dicirikan tidak hanya dengan fisik yang khas, namun juga dengan sifat-sifat psikis tertentu.” Salah satu butir penjelasannya menyebutkan bahwa; manusia normal memiliki moral; dalam arti manusia yang beretika.

Secara jelas Darwin telah membuat definisi normal dan tidak normal pada diri manusia berdasarkan pada moral dan etika yang meliputi tentang adab bertingkah laku, cara berkomunikasi yang baik, cara menghargai orang lain, hak, kewajiban, serta menunaikan tanggungjawab atas apa yang telah diperbuat. Jangan sampai ketidaknormalan dalam beretika ini membuat manusia menjadi sederajat dengan hewan bukan?

Albert Camus, seorang filsuf terhormat dalam bukunya menyebut Nietzche yang dikenal dengan paham nihilisme-nya pernah berteriak dengan putus asa: “Hati nuraniku dan hati nuranimu tidaklah sama!”

Nihilis (bukan atheis) yang tidak mampu mempercayai sang kuasa saja bisa berbicara tentang hati nurani. Sementara orang-orang yang memiliki keyakinan ada sebagian dari mereka yang justru sudah kehilangan hati nuraninya hingga tega menjadi predator bagi sesamanya.

Dunia ini gila? Tidak, dunia ini sama saja dari dulu hingga sekarang… Hanya penghuninya yang terkadang memiliki ego yang tinggi, gila kekuasaan hingga menghalalkan segala cara dengan menggunakan topeng-topeng berwajah baik.

Persamaan diantara keduanya adalah sama-sama mengingkari untuk menerima dunia ini seperti apa adanya. Itu sebabnya manusia dari waktu ke waktu ingin merubahnya dengan caranya masing-masing. Kenyataannya mereka hanya mampu memolesnya diatas fondasi yang tetap sama. Lalu terus cakar-cakaran untuk berusaha menganti polesan tersebut.

Tulisanku ini mungkin agak panjang lebar dan sulit dimengerti bagi sebagian orang walaupun aku sudah berusaha menulis dengan bahasa yang ringan dan sederhana… Tidak masalah, karena seorang filsuf seperti Derrida pun pernah menyatakan bahwa;

“Tidak ada bahasa baik tertulis atau lisan, yang secara sempurna menjadi sarana transparan untuk menjelaskan makna.”

Mungkin kamu berpikir aku mencari pembenaran atas sikap dan prinsipku lewat berbagai dalil dan teori. Tapi, aku rasa semua orang berhak memiliki alasan kuat yang mendukung tindakan dan ucapannya hingga menjadi sebuah prinsip yang kuat. Sebab jika tidak kita akan jadi mudah goyah, gampang diprovokasi hingga akhirnya tidak lagi menjadi diri sendiri. Ini adalah salah satu dasar yang membuat aku berbeda dengan orang lain yang suka ikut-ikutan, dan membuatku tidak tergantung dengan orang lain.

Memiliki sikap dan prinsip yang kuat menbuatku percaya diri dengan semua yang aku putuskan, semua yang aku lakukan dimana pun aku berada. Aku tidak pernah takut sendirian, di tempat yang sangat asing sekali pun. Aku berani menyatakan pendapatku karena aku tahu memiliki dasar yang kuat dibalik itu semua. Aku berani melakukan hal-hal yang mungkin tidak pernah kamu bayangkan…

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 6.30 sore. Bayangan masakan Thailand yang lezat menari-nari di kepalaku… Rasa pedas dan harum rempah-rempah yang aku rindukan membuatku ingin segera menuju kesana… Garçon! L’addition, s’il vous plait!

___________________

___________________

NB:

Tulisan ini sengaja dibuat berbeda dengan tulisan-tulisan perjalanan dan ulasan cafe lainnya karena disini cafe hanya dijadikan backgroud dari isi tulisan. Tentunya lebih mudah bagi saya menulis review dan memberi informasi tentang traveling, kopi dan café lewat tulisan seperti biasanya, tetapi saya ingin ada beberapa yang lebih berbobot dengan memasukkan pemikiran dan unsur ilmu pengetahuan ke dalamnya.

Semua ditulis tetap dengan bahasa yang mudah dipahami. Penggunaan “Aku” dalam beberapa tulisan agar jarak penulis dan pembaca tidak terlalu jauh, dan semoga pembaca dapat lebih merasakan isi tulisan ini.

Saya juga berharap pembaca dapat memberikan komentar, kritik dan saran tentang tulisan ini lewat Twitter @RianaRaraKalsum atau ke Email:

rianapamuncak@gmail.com

Terimakasih… Happy reading!

Berkunjung Ke Villa Ephrussi De Rothschild di St. Jean Cap Ferrat, Perancis Selatan

Liburan musim semi tahun 2016 lalu saya lewatkan di beberapa kota di Italy, Monaco Monte Carlo, dan di Perancis Selatan, yaitu ke Nice, St. Tropez, St. Jean Cap Ferrat, Beau Lieu Sur Mer, dan Eze Village.
Salah satu tempat terindah yang saya datangi pada tanggal 24 May 2016 adalah Villa et Jardin Ephrussi de Rothschild di St. Jean Cap Ferrat, Perancis Selatan.
Villa Ephrussi de Rothschild terletak diatas ketinggian sebuah bukit dengan pemandangan spektakuler laut Mediterania yang berada di sekelilingnya dengan akses langsung ke pantai.

Pemandangan laut dari dalam Villa


Pemandangan dari bawah Villa

Villa milik Béatrice Ephrussi de Rothschild ini dibangun pada tahun 1907 hingga tahun 1912, dan terkenal karena mempunyai salah satu taman yang terindah di dunia.

Taman di Villa Ephrussi de Rothschild

Ada 9 taman di area Villa dengan berbagai tema berbeda. Yaitu Jardin Espagnol, Jardin Florentin, Roseraie atau Rose Garden, Jardin Japonaise, Jardin Lapidaire, Jardin Exotique, Jardin Provençal, Jardin à la Français dan Jardin de Sèvres.
Semua taman sangat indah, bercita rasa seni dan berselera tinggi. Favorit saya adalah Roseraie atau Rose Garden, sebuah taman mawar cantik yang menghadap ke laut Mediterania.

Villa Ephrussi de Rothschild bukan tempat untuk menginap, dan bisa didatangi oleh siapa saja. Bahkan Villa ini sering disewakan untuk acara-acara gala, party, high fashion show seperti, misalnya Bulgari dan acara pesta pernikahan.
Jika anda menyukai bunga dan keindahan, tempat ini sangat menyenangkan bukan?
Setiba di pintu utama, setelah membayar tiket masuk, pengunjung akan diarahkan untuk memutari taman-taman yang berada di sekeliling Villa.
Ada banyak jalan yang bercabang untuk menelusuri taman, tinggal mengikuti sesuai taman yang diminati atau mendatangi taman satu persatu.

Taman pertama yang saya masuki adalah Jardin Espagnola atau Spanish Garden. Mata langsung disuguhi pemandangan khas Taman Spanyol di pavilliun terbuka dengan penggunaan unsur air di berbagai tempat sebagai penghias taman hingga membuat udara panas menjadi sejuk seketika. Sungguh mengesankan…

Jardin Espagnola

Kemudian saya melanjutkan menuju taman berikutnya, yaitu Jardin Florentin. Taman berdesain Italia ini sangat cantik, dilengkapi dengan tangga melingkar di sekeliling tempat duduk yang dihiasi dengan pot bunga dan air mancur di kolam yang berhadapan langsung dengan laut. Benar-benar menakjubkan!

Jardin Florentin


Pemandangan laut dari Jardin Florentin

Disini saya sempat duduk sebentar sambil beristirahat, dan tentu saja tak melewatkan sesi berfoto foto di taman.
Semilir angin laut bertiup lembut di tengah panasnya cuaca. Tak mengapa, tempat ini terlalu indah untuk dilewatkan…


Menikmati pemandangan laut yang menawan

Dari Jardin Florentin saya langsung mengambil jalan lurus menuju ke Roseraie atau Rose Garden. Sebuah taman yang dipenuhi bunga mawar dengan beragam jenis dan berbagai warna. Sesaat saya terpaku, sungguh luarbiasa cantiknya…

Roseraie

Hamparan ribuan mawar berjejer indah disepanjang lereng bukit dengan pemandangan laut dibawahnya… Wangi bunga mawar memenuhi udara saat melangkah di taman yang sangat indah dan luas ini. Rasanya tak ingin beranjak dari tempat ini… Saya rasa tak seorang pun dapat menolak disuguhkan pemandangan sehebat ini…

Roseraie

Roseraie

Roseraie

Roseraie

Dipuncak bukit, tepat berada diatas Taman Mawar, berdiri sebuah kuil cinta yang dalam bahasa Perancis disebut Temple de l’Amour. Kuil cinta yang merupakan replika Trianon di Istana Versailles.
Kuil ini sangat romantis karena banyak pasangan mendeklarasikan cintanya disini.

Temple de l’Amour

Lokasi kuil cinta yang berada di puncak bukit ini juga berhadapan langsung dengan Villa Ephrussi de Rothschild. Dan diantara kuil dan Villa, terdapat sebuah kolam dengan air mancur yang dapat menari mengikuti irama musik klasik yang terdengar di seluruh penjuru taman.

Selain itu terdapat air terjun kecil yang mengalir dari bawah kuil cinta mengisi kolam-kolam sekaligus menjadi penyejuk bagi udara siang yang panas. Betul-betul heaven on earth!
Sebelum menuju ke Villa utama, saya memutari bagian sisi lain bukit untuk melihat laut dengan pemandangan yang berbeda. Pemandangan laut dari sisi sebelah Villa tak kalah indahnya… Spektakuler karena langsung menghadap ke laut lepas dengan kapal pesiar dan yacht yang menghiasi lautan biru.


Pemandangan dari atas villa


Pemandangan laut dari sekeliling villa

Panorama alam seperti ini mungkin yang membuat harga tanah di St. Jean Cap Ferrat termasuk salah satu dari 3 tempat yang termahal di dunia, dengan harga tanah 100 ribu Euro permeter persegi, dan bahkan bisa naik lebih tinggi lagi jika lokasinya strategis.
Banyak nama-nama terkenal memiliki villa indah di St. Jean Cap Ferrat karena pemandangannya yang fantastis dan tentunya mempunyai prestige tersendiri.


Taman Bunga di Villa Ephrussi de Rothschild

Hari sangat panas, dan lanscape villa yang turun naik bukit dengan luas berhektar-hektar membuat saya memutuskan untuk skip saja menikmati beberapa taman, hanya sekedar berhenti sejenak untuk membuat beberapa foto sebagai kenangan.

 Salah satu taman di Villa Ephrussi de Rothschild


“I have seen the majestic beauty of nature and the overwhelming perfection of.”
-Cote de Pablo

Sebelum menuju ke Villa saya sempat istirahat sejenak di taman yang terletak tepat di bagian belakang Villa sambil menikmati bunga-bunga indah disekitarnya.


Taman dibagian belakang Villa

Puas berfoto saya kemudian menuju ke bagian dalam Villa Ephrussi de Rothschild yang mewah bergaya renaissance.

Pintu masuk ke Villa Ephrussi de Rothschild

Bagian dalam Villa saat ini sudah dibagi menjadi beberapa bagian. Diantaranya, Museum, Boutique dan Salon de Thé.

Bagian pertama yang saya masuki adalah museumnya untuk melihat dekorasi dan koleksi benda seni bernilai tinggi dari great masters milik Béatrice Ephrussi de Rothschild, yang saat ini telah diberikan dan dikelola oleh Academie Des Beaux-Arts.

Bagian dalam Villa Ephrussi de Rothschild

Villa Ephrussi de Rothschild

Villa Ephrussi de Rothschild

Koleksi benda seni di Villa Ephrussi de Rothschild

Ruang tengah di Villa Ephrussi de Rothschild

Ruang tengah di Villa Ephrussi de Rothschild

Setelah mengelilingi seluruh bagian Villa yang indah, tentu saja saya tak melewatkan mampir minum kopi dan mencicipi es krim dan macaron lezat di Salon de Thé Villa Ephrussi de Rothschild.

Salon de Thé Villa Ephrussi de Rothschild

Kopi, Es Krim dan Macaron cantik di Salon de Thé Villa Ephrussi de Rothschild

Pemandangan Laut dari jendela Salon de Thé Villa Ephrussi de Rothschild


Teras Villa Ephrussi de Rothschild

Kunjungan saya ke Villa Ephrussi de Rothschild sungguh sangat spesial dan berkesan. Tempat yang luarbiasa indahnya di atas sebuah bukit yang dipenuhi bunga dan dikelilingi oleh laut di Perancis Selatan.
Saya berniat suatu hari nanti akan kembali kesini… C’est vraiment adorable place!

NB: Jika ingin mengetahui lebih banyak tentang Sejarah dan informasi Villa Ephrussi de Rothschild, bisa klik link berikut:

http://www.villa-ephrussi.com

Video Youtube by Drone in Nice CN

https://youtu.be/99BxWnik7So

Pertanyaan, Saran dan Kritik yang membangun silahkan dikirim ke email saya:
rianapamuncak@gmail.com
Terimakasih sudah membaca!

Café Le Hoche, Paris

Café Le Hoche

Perfect Espresso

Waiting for my coffee

Berada di Paris memang sangat menyenangkan… Apalagi bagi penggemar kopi… Deretan cafe memenuhi seluruh ruas-ruas jalan di Paris. Setiap cafe memiliki daya tarik dan ciri khas tersendiri… Favorit wisatawan tentu saja di Avenue des Champs Élysées, jalan paling terkenal di dunia. Ramainya pengunjung terkadang membuat antrian yang lama. Daripada membuang-buang waktu, alternatif lainnya kenapa tidak mencoba berbagai cafe cantik yang berada tak jauh dari Avenue des Champs Élysées?

Cafe menarik dan layak anda coba diantaranya adalah Café Le Hoche. Lokasinya di dekat Arc de Triomphe, monumen yang berada diujung Avenue des Champs Élysées. Arc de Triomphe dibagi atas 12 jalan terkenal yang masing-masing jalannya juga dipenuhi dengan cafe, restoran, butik, hotel dan apartemen mewah.

Salah satu jalan tersebut bernama Avenue Hoche. Jalan ini pada bagian ujungnya bertemu dengan jalan terkenal lainnya, yaitu Rue Faubourg Saint Honore. Jalan yang menjadi favorit para shopaholic sedunia. Café Le Hoche sendiri berada dipersimpangan Avenue Hoche dan Rue Faubourg Saint Honore, Paris.

Café cantik ini desainnya didominasi warna hitam putih sehingga semakin kelihatan elegan dan chic. Lokasinya yang strategis, karena juga berada di dekat Parc Monceau menjadikannya salah satu café favorit untuk disinggahi, baik oleh masyarakat lokal dan wisatawan yang datang dari seluruh dunia. Suasana Café Le Hoche sangat nyaman dan tidak terlalu ramai. Cocok buat menikmati sore yang indah di Paris sambil minum secangkir espresso yang nikmat.

Tunggu apalagi? Kalo ke Paris mampir ya guys…

Café Les Deux Magots, Paris

Café Les Deux Magots adalah salah satu dari tiga café prestisius yang paling berpengaruh di Perancis. Café lainnya adalah Café de Flore dan Café Le Procope. Ketiga café ini terletak di kawasan Saint Germain des Près, Paris.

Café bersejarah dan legendaris ini menjadi terkenal karena perannya sebagai tempat berkumpul para intelektual, politikus, sastrawan dan seniman. Di ketiga café ini mereka saling berdiskusi, bertukar informasi dan mencari ide hingga menghasilkan karya-karya yang terkenal hingga ke seluruh dunia.

Café Les Deux Magots

My Favorite Salad, Café Les Deux Magots

Kebiasaan masyarakat Perancis minum kopi di cafe masih berlangsung hingga kini, dan bahkan wisatawan yang datang pun mengikuti gaya hidup ala Perancis dengan duduk di teras cafe menikmati secangkir kopi sambil memesan makanan ringan seperti salad dan beragam jenis cake. Cafe di Perancis memang tidak menyediakan makanan berat, kecuali jika ada embel-embel restaurant atau bistro di cafe tersebut. 

Jika ingin berkunjung, terutama di musim liburan sebaiknya anda melakukan reservasi terlebih dahulu melalui situs resmi café Les Deux Magots. Makanan yang lezat, suasana yang nyaman, serta pelayanan yang ramah dan cepat membuat café Les Deux Magots hingga kini dapat terus mempertahankan reputasinya sebagai salah satu café prestisius di Paris.

MAKEUP, SKINCARE, DAN PERLENGKAPAN YANG WAJIB DIBAWA SAAT TRAVELING

Traveling adalah saat yang menyenangkan. Kita memiliki kesempatan untuk mendatangi berbagai objek wisata indah dan membuat dokumentasi foto-foto yang menarik di tempat yang kita sukai. Nah, siapa sih yang tidak ingin tampil menarik saat difoto? Siapa sih yang tidak ingin kulitnya tetap terawat selama perjalanan? Dan yang paling utama tetap sehat, bugar dan berenergi, ya kan?

Yes! Biarpun lagi liburan harus tetap cantik dong! Salah satu penunjangnya adalah menggunakan makeup dan skincare yang tepat. Artinya, gunakan makeup dan skincare sesuai iklim dan cuaca tempat yang akan kita datangi. Misalnya, bawa pelembab yang kadar airnya tinggi pada saat cuaca dingin agar kulit tetap segar dan tidak kering. Begitu pula saat musim panas, kurangi kosmetik yang berbahan dasar minyak dan berglitter agar tidak terlalu mengkilat saat berada di ruang terbuka.

Ketika liburan musim panas bulan Juli 2015 di Spanyol saya pernah mengalami hal ini hingga berakibat fatal pada kulit, akibat memakai obat dokter yang tidak cocok dengan iklim di luarnegri yang sedang sangat panas. Akhirnya muka saya jadi merah dan mengelupas.

Selain tidak bagus difoto, rasanya juga tidak nyaman, malah bisa bikin bad mood seharian. Sayangkan kalau sudah begini… Liburan jadi terganggu dan tidak maksimal menikmatinya… Yaaa namanya juga perempuan, hal-hal sepele bisa jadi demikian berpengaruh.

Setiba di Paris, saya segera konsultasi, dan dianjurkan menggunakan scrub yang dapat mengembalikan kondisi kulit saya. Dan dalam 2 hari kulit saya langsung mulus luusss tanpa cela… Hahahhaa… Duhh legaaaa…

SKINCARE



Pertama dan paling penting dibawa saat traveling adalah moisturizer (pelembab muka). Moisturizer ini besar sekali pengaruhnya terhadap kulit kita selama dalam perjalanan. Perubahan cuaca perlu disiasati dengan menggunakan moisturizer yang tepat. Jenis kulit saya adalah dry skin (kering), jadi saya menggunakan moisturizer yang kadar airnya tinggi (hydratant). Pilihan saya menggunakan produk dari Clarins dan Estee Lauder, dan sudah 3 tahun terakhir ini sangat cocok dan aman untuk kulit saya. Walaupun terkadang memakai obat dari dokter kulit, tetapi setelah perawatan selesai saya kembali lagi menggunakan produk Clarins dan Estee Lauder.
Selain menggunakan pelembab, saya juga membawa body lotion, oil, sunblock, dan pembersih wajah seperti susu pembersih, face tonic, kapas, tissue basah dan sabun cuci muka. Semua saya usahakan membawa dalam botol kecil agar segera habis selama perjalanan dan dapat membeli produk baru di kota yang saya datangi.

Buat yang lain, dapat menggunakan produk yang cocok dengan kulitnya masing-masing. Setiap kulit berbeda jenis dan perawatannya. Apa yang cocok buat saya, belum tentu cocok bagi orang lain, begitu pula sebaliknya. Mahal dan murahnya sebuah produk bukan berarti produk tersebut cocok di muka kita. Jadi yang terpenting kulit tetap sehat dan terawat selama perjalanan.

MAKEUP

Yeaayyy… Ini produk favorit saya! Rasanya paling antusias menyiapkan peralatan makeup yang dibawa, memilih warna, dan touch up manja di perjalanan hahahaha… Ssssttttt… Tapi kamu juga kan? Hayooo ngakuuuu…

Makeup yang dibawa buat liburan tentunya lebih simple, dan saya usahakan membawa makeup yang wadahnya kecil agar tidak berat di perjalanan. Uhmmm… Selain itu saya mempunyai misi mulia membeli makeup baru yang lagi heiiiitttsss di kota tujuan… Setuju ngga sama saya? Setuju dooonggg yaa…yaa…yaa… hehhehe…

Yuuk kita bongkar makeup apa saja yang saya bawa selama traveling…

1. Foundation

Foundation memiliki banyak fungsi, diantaranya dapat menyempurnakan makeup dan membuat makeup tahan lama di wajah. Selain itu foundation juga memiliki manfaat sebagai pelindung kulit dari sinar matahari dan cuaca yang berubah-ubah, serta iklim perasaan yang juga terkadang bisa berubah-ubah… Hahahha yang terakhir becanda ya!
Foundation favorit saya selama traveling adalah foundation berjenis cair, ringan dan mudah pengaplikasiannya. Foundation ini juga harus tetap kelihatan bagus, dan pastinya harus terlihat keren difoto juga dong… Nah, saya biasanya membawa foundation merek YSL Touch Eclat karena kelihatan bagus di dunia nyata dan di dunia tidak nyata eehh… maksudnya di dalam foto-foto Instagram dan media sosial saya yang lainnya…😄😄

Oiya, walaupun memiliki beberapa merek cushion tapi ketika saya gunakan traveling saat winter sepertinya kurang cocok untuk kulit saya yang berjenis kering. Terakhir saya beli cushion YSL di Paris, dan di saat udara dingin bikin kulit jadi makin kering… Alasan ini yang membuat saya jarang menggunakan bedak. Biasanya saya memakai bedak hanya dibagian tertentu saja, atau untuk membaurkan warna blush on.

2. Concealer

Produk andalan banget nihh guys! Concealer sangat membantu menghilangkan kantung mata, dan agar mata tetap terlihat cerah serta kelihatan fresh selama traveling. Saya selalu membawa 2 warna concealer dari merek MAC. Pertama yang berwarna lebih gelap dari kulit saya, dan kedua yang berwarna sama atau lebih terang dari warna kulit saya.

Produk yang juga bagus saat traveling adalah concealer dari Revlon. Saya punya 2 warna yang nude dan medium light (nomer 002 dan 003). Sekali oles langsung kantung mata tersamarkan. Asikkan!

3. Bedak

Sehari-hari saya tidak memakai bedak, dan membawa bedak hanya untuk membaurkan blush on, daaaan bercermin! Hanya itulah fungsi bedak bagi saya yaa dear friends… Bedak yang saya bawa untuk traveling adalah Chanel Vitalumier yang kadar airnya paling tinggi tapi tetap kurang nampol buat kulit kering saya…

3. Pinsil Alis 

Saat traveling saya hanya membawa 1 pinsil alis berwarna coklat merek Sephora atau MAC. Saya membuat alis seadanya saja mengikuti model alis yang sudah disulam. Simple banget kan…

4. Eyeliner 



Ada tiga warna eyeliner yang selalu saya bawa, hitam, biru dan putih. Tiga warna ini pokoknya saya banget deh! Mau lagi trend atau engga, intinya udah ngga bisa ke lain hati lagiiii… *Lebay Dikit*
Eyeliner membuat mata terlihat lebih ekspresif dan penampilan wajah secara keseluruhan menjadi lebih cerah. Yups… Apapun kondisinya, eyeliner solusinya! 
Eyeliner hitam yang sering saya gunakan merek Maybelline (saya sampai beli 3 sekaligus). Saya suka karena warna hitamnya yang tajam banget, ngga luntur dan pengaplikasiannya sangat mudah. Poin pentingnya eyeliner Maybelline ini ngga luntur walaupun mata melirik kesana kemari beribu-ribu kali… Yaiyalaaah… Kan judulnya traveling masa ngga lihat apa-apa… 

Eyeliner warna biru biasanya saya aplikasikan di bagian bawah mata agar mata saya terlihat cerah dan segar. Selain itu, terkadang mata yang kurang tidur dan lelah di perjalanan seketika terlihat fresh dengan warna-warna cerah di bagian mata.
Alasan lainnya, jika menggunakan eyeliner warna hitam di bagian bawah mata, saya merasa jadi terlihat agak galak. Sedangkan kalau ngga pakai eyeliner jadi terlihat pucat. Akhirnya saya menggunakan warna-warna cerah atau eyeshadow warna coklat muda.
Eyeliner biru yang saya bawa untuk traveling dari merek Yves Rocher, atau merek lain yang biasanya sudah setengah pakai agar segera habis di perjalanan. Kebiasaan sering keselip dan kehilangan makeup saat traveling membuat saya ngga membawa semua yang high brand. Paling sering kececer biasanya pinsil alis, eyeliner dan lipliner hehhehe…

Eyeliner warna putih wajib saya gunakan setiap makeup. Penggunaan warna putih di bagian dalam mata bawah ini membuat wajah secara keseluruhan lebih fresh. Apalagi di foto… Ughhh mantap jiwa!

5. Eyeshadow

Setiap traveling saya hanya membawa 1 palette eyeshadow warna-warna netral, dan 1 eyeshadow warna gold. Merek eyeshadow favorit saya Chanel atau YSL. Kedua merek ini menempel dengan baik di kulit saya, tahan seharian, dan tetap terlihat bagus diaplikasikan di segala cuaca dan musim apapun. Top banget deh!

Oiya, sedikit bercerita aja nihhh… Saya ngga sebutin merek yaa hehehe… Ketika liburan kemaren saya membeli palette eyeshadow yang sedang hits banget di kalangan pecinta makeup… Tapi apa yang terjadiiiii… Baru sekali pakai, palette-nya jatuh dan eyeshadow-nya hancur berantakan… *sediiiihhhh* Sepertinya palette tersebut hanya menang nama dan promosi yang gencar dan gahar, tapi kualitasnya zero huhh!!

6. Mascara dan Eyelash

Saya lebih suka menggunakan mascara yang bukan waterproof karena lebih cepat menghapusnya setelah seharian jalan-jalan. Terkadang kalau jetlag, saking ngantuknya saya bisa langsung tidur tanpa menghapus makeup. Buat saya, yang penting mascara-nya bisa membuat bulu mata terlihat lebih panjang dan tebal saja.

Mascara yang saya bawa selama traveling dari merek Rimmel. Wadahnya yang catching jadi gampang terlihat jika saya sedang terburu-buru bermakeup.
Untuk eyelash saya lebih sering membeli di kota tujuan alias sering lupa bawa… Saya menggunakan eyelash sekaligus untuk mata bagian atas dan bawah agar terlihat lebih ekspresif ketika difoto yang akan menjadi dokumentasi perjalanan saya. Terkadang saya tambah lagi mascara diatas eyelash biar semakin membahana sampai keluar galaksi bimasakti, gitu lho guys…

7. Blush On

Saya paling suka blush on warna pink. Membuat wajah saya jadi merona manja gitu yaa kaaaaannn…

Blush on yang sering saya bawa saat traveling dari brand MAC. Saya suka karena wadahnya simple dan tahan banting di segala kondisi. Apalagi MAC  memiliki banyak warna blush on cantik… Semua warnanya suka!

8. Lipstik dan Lipgloss

Ini dia produk favorit yang ngga mungkin terlupakan dan wajib banget saya bawa kemana pun saya pergi…
Ngga kebayang deh kalau benda satu ini terlupakan… Bisa kiamat dunia persilatan tante! Hahhah!

Lipstik favorit saya yaitu Chanel berwarna merah muda dan agak glossy. Sedangkan untuk lipgloss-nya saya menggunakan Chanel warna yang sama. Saya menggunakan jenis glossy karena kulit dan bibir saya jenisnya kering sehingga lipstik jenis matte membuat bibir saya terlihat semakin kering. Lagipula saya juga kurang suka jika bibir saya terlihat matte kecuali untuk di foto, atau situasi tertentu yang waktunya tidak lama. Setelah itu buru-buru saya tambahkan lipgloss lagi.  
Saat traveling saya jarang sekali bawa lipliner. Biasanya saya membeli lipliner di kota tujuan, dan kemudian langsung digunakan. Entah kenapa saya sering kehilangan lipliner di perjalanan, jadi saya ngga terlalu terobsesi dengan memiliki berbagai warna lipliner. Ujung-ujungnya nanti tercecer juga…

PERLENGKAPAN TRAVELING YANG JUGA WAJIB DIBAWA


1. Vitamin C

Selama traveling setiap hari saya mengkonsumsi vitamin C dosis tinggi 1000 mg agar selalu sehat dan penuh energi. Saya ngga bisa membayangkan jika traveling sendirian dari pagi sampai malam tanpa minum vitamin C, bisa-bisa seminggu udah drop… Cuaca yang berubah-ubah, landscape yang naik turun, atau bahkan terkadang harus jalan kaki mengitari istana yang sangat luas… Misalnya seperti saat saya berada di Maroko. Luas istananya berhektar-hektar, dan saya harus memutari seluruhnya baru bisa tiba di pintu keluar. Dan semua saya jalani di tengah panas 42 derajat celcius! Duhh! Pengen pingsan tapi ntar malu-maluin hahahaaa…

Semua bisa berjalan dengan baik karena saya ngga pernah lupa minum vitamin C 1000 mg selama liburan guys! Tapiiii… setelah liburan saya langsung stop karena juga tidak baik jika vitamis dosis tinggi dikonsumsi secara terus menerus.

2. Parfum

A woman’s perfume tells more about her than her handwriting.

-Christian Dior-

Setuju banget dengan pendapat Christian Dior di atas… Parfum bagi saya secara tidak langsung menunjukkan karakter seseorang. Dengan mencium wanginya saja orang dapat menebak karakter penggunanya. Itu sebabnya saya sering menggunakan parfum yang sama terus menerus walaupun saya juga mengkoleksi berbagai jenis parfum. Setiap bepergian biasanya saya akan membeli kembali parfum-parfum kesukaan saya ini. Dari semua parfum, favorit saya adalah Mademoiselle Chanel, dan parfum ini selalu setia ikut kemana pun saya pergi. Desain botolnya yang simple juga memudahkan saya saat dibawa traveling. 

3. Eyewear



Saya bisa bad mood jika traveling tanpa kacamata hitam. Selain berfungsi melindungi mata dari sinar matahari, kacamata hitam juga membuat penmpilan jadi lebih stylish. Makanya saya sering pake kacamata hitam dalam ruangan hehhehe… Eiitsss ada yang lupa guys! Kacamata hitam juga bisa jadi penangkal tatapan-tatapan genit para brondong, sekaligus emak-emak tukang nyinyir yang suka sirik ituuuhhhh… hihihi…


4. Softlens




Setiap bepergian kemana pun saya selalu menggunakan softlens sebagai pengganti kacamata karena mata saya minus 0,75. Yaaa…ngga lucu dong kalo judulnya traveling tapi pandangan kabur alias ngga jelas karena mata yang minus… Soooo softlens jadi benda wajib juga yang harus selalu saya gunakan.

5. Topi

Topi bisa membuat tampilan jadi stylish dan fashionable dalam sekejab. Baju yang simple sekali pun langsung terlihat modis ketika ditambah dengan topi. Jadi jangan ragu gunakan topi ya guys! Yang penting percaya diri dan be yourself! Yakin bahwa kamu keren, dan dunia akan melihat kamu juga keren… Okaaayyyy…

6. Wig

Omaigaaaad!! Don’t hate me because I am beautiful! Boleh aja dong pakai wig selama liburan, biar selalu terlihat rapi tanpa perlu banyak buang waktu meluruskan dan blow rambut. Jika kamu senang mengerjakannya sih tidak masalah, tapi saya paling ngga betah ngeblow rambut, belum lagi makeup, dan menyiapkan ini itu… Jadi saya pilih yang simple dan langsung terlihat keren dooonggg aahhh…

7. Scarf dan Shawl


Awalnya scarf dan shawl dibuat sebagai penghangat leher ketika cuaca sedang dingin atau berangin. Tetapi seiring perkembangan fashion, scarf dan shawl juga berfungsi sebagai aksesoris yang akan menambah chic dan stylish penampilan… Kini siapa saja, dimana saja, dan kapan saja, semua orang dapat menggunakan scarf dan shawl sebagai aksesoris. Ya, dengan menambahkan scarf atau shawl maka pemakainya seketika terlihat lebih fashionable!
Ketika traveling saya juga selalu menggunakan scarf dan shawl koleksi saya. Kebetulan saya mengkoleksi berbagai scarf dan shawl dengan berbagai model, dari yang etnik, unik hingga stylish. 

8. Accessories

Riana Rara Kalsum wears top, skirt, accessories from Chanel Boutique

Aksesori merupakan salah satu faktor penunjang utama agar penampilan tetap modis dan keren. Entah itu kalung, gelang, anting dan beragam aksesori lainnya. Baju yang modelnya simple dapat menjadi luarbiasa keren dengan tambahan aksesori yang tepat. Jadi tunggu apalagi? Gunakan koleksi aksesorimu saat traveling ya guys!

Dear beautiful friends… Intinya saat traveling, nikmatilah perjalanan tersebut… Bersenang-senanglah… Lakukan hal-hal yang membuat hari kamu bahagia… Jangan takut bereksperimen dengan makeup dan style yang kamu suka dan betul-betul ingin mencobanya! Sekali lagi, yang penting tetap percaya diri dan jadi diri sendiri… Berani bersikap berbeda dari yang biasa-biasa saja itu dapat terlihat super keren! Percayalah ada banyak orang tulus yang akan lebih menghargai kita dengan sikap tersebut, guys! 

Sekian dulu tulisan saya tentang makeup, skincare, dan perlengkapan saat traveling. Semoga bermanfaat, dan ikut happy membacanya yaa… Saya senggaja menulis dengan gaya yang fun sebagai rasa kangen pembaca (ge-er) yang sudah lama menantikan tulisan baru saya di Blog ini (makin ge-er) 😄😄🤣🤣🤣

Okay guys… Smile, have fun and enjoy life! xoxo

LIBURAN KE LUZERN, SWISS

Bulan Maret 2017 saya kembali berlibur ke Swiss (Switzerland), salah satu destinasi liburan favorit saya di Eropa. Panorama alamnya yang memukau membuat saya jatuh hati dan selalu ingin kembali kesana… Diantara kota yang saya datangi di Swiss kemaren, keindahan Luzern (Lucerne) begitu menarik perhatian… 

Kota Luzern memiliki danau cantik di pusat kotanya. Disekeliling danau dipenuhi bangunan-bangunan abad pertengahan yang masih terawat dengan baik. Sedang di kejauhan tampak berjejer gunung salju yang tinggi menjulang. Sungguh fantastis!
Lokasi kota Luzern berada pada posisi yang strategis, yaitu di bagian tengah Swiss, sehingga mudah dicapai dari kota-kota yang berada disekitarnya. Saya sendiri saat itu datang dari Basel, sebuah kota di Swiss yang berbatasan dengan Jerman. Hanya perlu waktu sekitar 1 jam menggunakan kereta dari Basel ke Luzern. Pembelian tiket kereta dapat dilakukan online, atau lewat mesin-mesin elektronik yang banyak tersedia di stasiun kereta. Semua serba cepat, modern dan jadwalnya tepat waktu. Setelah mendapat tiket, saya tinggal mencari kereta menuju ke Luzern, lalu langsung masuk tanpa ada pemeriksaan tiket. Beberapa saat kemudian, sekitar 15 menit setelah kereta berjalan baru petugas datang untuk memeriksa tiket. 

Pemandangan di perjalanan

Pemandangan di perjalanan

Sepanjang perjalanan ke Luzern saya disuguhi pemandangan indah… Mata seperti dimanjakan oleh hijaunya padang rumput, bunga-bunga indah, pepohonan nan rimbun, danau-danau berair jernih, dan rumah penduduk yang nyaman dengan halaman luas di alam terbuka. Saya merasa bersyukur dan beruntung, setidaknya diberi kesempatan untuk menikmati karunia Tuhan yang luarbiasa ini…
Tak terasa sudah satu jam berlalu, kereta yang membawa saya pun berhenti di Luzern. Tak sabar dan antusias bercampur menjadi satu… Begitu banyak yang ingin saya explore dalam kunjungan singkat sehari di Luzern.

Stasiun Kereta di Luzern

Dengan perasaan bahagia saya berjalan keluar stasiun. Cuaca pagi ini cerah, walaupun masih musim dingin. Langit berwarna biru terang dengan sinar matahari yang hangat… What a beautiful day! Saya begitu menikmati hari yang indah… Berjalan, berfoto, berjalan, berfoto, dan begitu terus sepanjang hari… hehehee…

A little tranquil lake is more significant to my life than any big city in the world

-Munia Khan-



Birunya air laut langsung terlihat di depan stasiun kereta… pemandangannya sangat indah… Rasanya tak ingin mengedipkan mata barang sedetik pun… Ya, saya sangat menyukai alam dan bangunan bersejarah yang bersatu dalam kealamian. Bangunan-bangunan abad pertengahan terlihat cantik sekaligus kokoh berdiri ratusan tahun di pinggir danau Luzern.

Danau Luzern

Danau Luzern

Danau Luzern

Saya kemudian berjalan ke arah jembatan untuk menuju pusat kota. Di sepanjang jembatan panorama Luzern terlihat sempurna… Sebuah kesempurnaan dalam keindahan alam… Dikejauhan deretan gunung salju tampak begitu menawan…
Dan begitu memandang kebawah jembatan, air danau Luzern seperti menyihir setiap mata yang memandang. Tampak beberapa ekor angsa putih berenang di air yang jernih. Cantik sekali… Kontras dengan warna biru danau dan cahaya sinar matahari yang memantul dan berpendar keemasan…

Beberapa kapal berlayar di danau Luzern yang tenang. Latar belakangnya bangunan-bangunan tua yang indah, membuat saya tak berhenti membidikkan kamera di sepanjang jembatan yang saya lalui.

Pemandangan dari Jembatan Danau Luzern

Pemandangan dari Jembatan Danau Luzern

Danau Luzern

Setiba di pusat kota Luzern saya berinisiatif untuk beristirahat sejenak di sebuah cafe. Saat itu agak sulit mencari cafe yang kosong. Semua teras cafe yang berada di pinggir danau dipenuhi pengunjung. Akhirnya setelah berjalan-jalan sebentar saya dapat juga sebuah meja kosong. Secangkir kopi panas menjadi pilihan saya siang itu… Perlahan saya menyeruput kopi sambil menikmati sepotong cake yang lezat… Rasanya menyenangkan sekali minum kopi dengan latar belakang panorama alam yang spektakuler… 

Tiba-tiba seorang pria berpenampilan perlente dengan setelan jas yang duduk di meja sebelah saya menyapa dengan sopan, menanyakan saya berasal dari mana. Pria ini terkesan baik dan tampaknya beretika, sehingga saya menjawab dengan sopan pula bahwa saya berasal dari Indonesia. Wajahnya terlihat kaget karena mengira saya berasal dari ras Kaukasia. Pernyataan ini sudah sangat sering saya dengar, jadi saya pun menanggapinya biasa saja… Walaupun kadang saya berpikir entah apa yang membuat sebagian orang berpendapat begitu… Di Eropa yang sudah maju ini, ras dan warna kulit terkadang masih juga ditanya dan diperdebatkan.

Beliau lalu mengatakan bahwa saya memiliki mata yang sangat indah, dan minta izin untuk membuat foto wajah saya… (ini juga sudah sangat sangat sering saya dengar 🙄) Saya kemudian mengizinkannya mengambil foto saya close up dari depan dan dari samping.
Pria ini bercerita bahwa dirinya adalah seorang pelukis dan sedang mengadakan exposition di Luzern. Selama kami berbincang-bincang, beberapa warga asli Swiss terlihat menyapa dan menyalami pria ini. Kebetulan saya juga menyukai lukisan, terutama aliran naturalisme dan romantisme. Jadi perbincangan saat itu nyambung juga… Menyenangkan sekali berdiskusi banyak hal tentang berbagai aliran lukisan dan pelukis-pelukis terkenal. Membahas lukisan-lukisan Rembrand hingga Picasso… Walaupun Picasso bukan favorit saya, tapi saya cukup mengenal karya-karyanya. Beliau juga menyatakan menghargai pengetahuan saya karena tidak banyak orang yang dapat memberikan pendapatnya tentang berbagai jenis aliran lukisan, jika tidak betul-betul tertarik terhadap seni lukis.

Yang membuat saya terkejut, beliau ternyata adalah pelukis beraliran surealisme… Saya diperlihatkan foto-foto lukisan dan dirinya dalam sebuah exposition. Ya, tentu saja saya menghargai berbagai karya seni dengan beragam alirannya… Walaupun menurut saya pribadi, aliran surealisme ini bertentangan dengan logika. Sebuah aliran perlawanan dalam seni lukis… Sejujurnya surealisme agak sulit dimengerti, dan saya kurang paham makna-makna yang tersirat dalam lukisannya… Tapi itulah seni, setiap seniman bebas mengekspresikan imajinasinya. Tak sedikit pula orang yang mengapresiasinya karyanya. Buktinya hingga hari ini beliau dapat bertahan, dan hasil karyanya dipamerkan dalam berbagai expotition. Sebuah pencapaian luarbiasa dalam bidang seni… Di titik ini saya kagum dan berpikir bahwa apapun pilihan kita, jika dilakoni dengan sungguh-sungguh maka akan membuahkan hasil yang gemilang.

Sebelum pamit meneruskan perjalanan, saya diberi kenang-kenangan sebuah sketsa yang dibuat beliau berikut signature namanya. Sketsa tersebut bergambar mata yang berada dalam sebuah kubis. Saya pun mengucapkan banyak terimakasih atas diskusi yang menarik siang ini.

Musée de l’Art Lucerne


Luzern

Hari mulai beranjak siang. Saya memutuskan masuk ke jalan-jalan kecil disekitar danau. Ternyata isinya deretan butik-butik mewah yang menjual berbagai merek jam tangan, perhiasan, dan pakaian dari desainer ternama. Restoran dan cafe-cafe ikut memenuhi area pedestrian tersebut. Pengunjung yang berjalan-jalan disini pun tak kalah ramainya, bahkan agak terlalu padat sehingga saya merasa kurang nyaman. Keramaian membuat saya kurang bisa menikmati esensi dari tempat yang saya datangi. Akhirnya saya memilih keluar dan kembali ke pinggir danau Luzern dengan terlebih dahulu makan siang disebuah restoran.

Danau Luzern yang berwarna biru jamrud memang memiliki magnet tersendiri, pesonanya membuat saya betah berlama-lama… Luzern bukan danau yang dipinggirnya ada villa-villa seperti di Lake Como, Garda atau Maggiore Italia, tapi sebuah kota yang memiliki danau di dalamnya! Justru inilah yang menjadi daya tarik Luzern… So pack your bags dan segera datang kesini ya guys!