SUATU SORE DI CAFE LA BELLE POULE, PARIS

Bulan Maret yang dingin… Winter belum juga berakhir. Langit kelabu, sesekali membiru, hingga akhirnya pudar ditelan kabut…

Aku berjalan pelan di sepanjang avenue Hoche. Salah satu dari 12 jalan ternama yang membelah Arc de Triomphe yang berada di ujung avenue des Champs Élysées. Cuaca yang mendung membuatku berniat mampir sejenak di sebuah café. Pilihanku jatuh pada café La Belle Poule. Terasnya terlihat nyaman dengan penutup kaca disekelilingnya guna melindungi pengunjung dari cuaca dingin. Lampu-lampu bercahaya kuning menghias di sepanjang plafon cafe membuat suasana sore yang dingin menjadi lebih hangat.

Aku memesan secangkir kopi. Tak ada makanan, karena makanan hanya disajikan pada jam makan malam, yaitu jam 7 malam waktu setempat. Lagipula rencananya nanti aku akan dinner di restaurant Thailand yang berada tak jauh dari tempat ini dengan alasan klise, kangen nasi dan masakan berempah dengan bumbu khas yang pedas.

Hujan akhirnya turun membasahi kota Paris, namun tak sedikit pun mengurangi kecantikannya… Dari balik kaca aku memandang rintik-rintik hujan. Sekilas mirip tirai kristal, indah namun tak dapat disentuh…

“Voila! Votre café modemoisele”

Aku bergeming ketika kopi disajikan pelayan di meja. Kemudian segera mengucapkan terimakasih, dan memasukkan sepotong gula ke dalamnya. Hal yang mungkin tak akan dilakukan penikmat kopi sejati karena akan merusak cita rasanya.

Ahh biarlah aku menikmati kopi dengan caraku… Kenikmatan orang kan berbeda-beda… Yang penting nyaman dan bahagia walaupun tidak dengan cara yang sama…

Aku bersyukur bahwa café ini tidak terlalu penuh oleh pengunjung, sehingga dapat lebih menikmati kopi dan suasana sekitarku. Sayangnya tak lama kemudian datang serombongan anak muda memenuhi 4-5 meja di sekelilingku. Sepertinya salah satu dari anak baru gede ini ada yang merayakan ulang tahunnya, sehingga suasana jadi berisik dan agak sedikit menggangguku. Mereka berbicara sambil berteriak-teriak dari satu meja ke meja lainnya sambil sesekali tertawa kencang.

Aku yang menyukai kesendirian jadi merasa terasing di tengah keramaian. Seringkali aku terpaksa berada dalam kondisi seperti ini. Sebenarnya tidak terlalu masalah jika tidak ada suara berisik karena ada juga café yang ramai tapi pengunjungnya sibuk dengan diri sendiri, atau berbicara hanya dengan 1-2 orang sehingga tidak mengganggu sekitarnya. Atau mungkin hanya introvert sepertiku yang terganggu?

Carl Gustav Jung mungkin ada benarnya… Psikolog terkenal yang menggagas tipe kepribadian manusia ini mengatakan bahwa seorang introvert cenderung menarik diri dari kontak sosial dan merasa nyaman dengan dirinya sendiri. Mereka tidak anti sosial karena mereka sesekali tetap bergaul, tetapi hanya mau dengan orang-orang yang telah dikenalnya dengan baik. Introvert dalam kesehariannya lebih memilih di rumah daripada bertemu banyak orang di keramaian yang justru akan membuatnya merasa terasing dan menguras energinya.

Dan aku… Dalam sebuah kondisi sesekali juga berbincang dengan orang yang baru aku temui. Aku beruntung sering bertemu orang yang memiliki wawasan luas dan pintar di bidangnya, walaupun 1-2 ada juga yang menyebalkan dan mencari orang yang bisa dimanfaatkan. Aku menyebutnya pengecut-pengecut bodoh (ngga boleh ketawa bacanya ya!). Aku tidak bermaksud mengumpat dengan indah, walaupun yang tersurat terlihat seperti itu.

Hhmm… Jam masih menunjukkan pukul 5 sore… Aku merapikan syalku, lalu memesan secangkir kopi lagi untuk menghabiskan sisa waktu hingga saat dinner tiba. Kemudian mengamati sekitarku sambil berpikir dan mencoba memahami “Mengapa kita berbeda dalam berprinsip dan mengadopsi nilai-nilai kehidupan” dari sudut pandang beberapa filsuf dan psikolog terkenal yang pernah aku baca bukunya.

Favoritku adalah Sartre, seorang eksistensialis asal Perancis. Menurut Sartre, “Orang lain adalah neraka bagi diriku.” Sartre menegaskan bahwa dirinya tidak merasa bebas dan merdeka oleh kehadiran orang-orang yang berada disekitarnya. Keberadaan orang lain membuat dirinya menjadi obyek, dan mereka subjeknya. Sartre adalah seorang pemuja kebebasan sejati, tak heran ia begitu mengagung-agungkan kemerdekaan menjadi diri sendiri, dan memilih tidak terikat dengan berbagai hal yang ada disekelilingnya.

Pemikiran Sartre yang juga terkenal yaitu “L’etre-pour-soi” yang diartikan sebagai pengada yang sadar akan diri sendiri. Individu dianggap secara total memiliki sikap atas dasar dirinya sendiri. Sedangkan “L’etre-en-sois” adalah pengada yang tidak sadar akan dirinya sendiri sehingga tidak memiliki pendirian dan tidak punya sikap, serta tidak sadar memiliki tanggungjawab. Hewan bahkan dikategorikan juga ke dalam “L’etre-en-sois.” Duhh ngeri sekali yaa kalau ada manusia seperti ini… Tak ada bedanya dengan hewan!

Aku meneguk kopiku yang sudah mulai dingin sambil membiarkan jari-jariku terus memeluk badan cangkir…

Aku jadi teringat Freud, seorang psikolog, filsuf, dan juga penulis yang dikenal karena membagi manusia dalam kategori Id, Ego, dan Superego. Menurut Freud ketiga hal tersebut harus seimbang dalam kehidupan manusia yang sehat. Disini aku justru sangat tertarik dengan ungkapannya, “It is impossible to escape the impression that people commonly use false standards of measurement that they seek power, success and wealth for themselves and admire them in others, and that they underestimate what is of true value in life.”

Secara singkat, orang-orang egois dan munafik itu eksis dalam kehidupan nyata. Mengejar ambisi kekuasaan sekuat tenaga tanpa menyadari banyak hal lain yang berharga dalam hidup ini. Meremehkan orang lain yang memiliki cara pandang berbeda karena dibutakan kesombongan dan kekuasaan. Hal ini disebabkan karena ketidakmampuan ego mengatasi desakan dominasi Id. Secara psikis mentalnya sudah tidak sehat.

Tentu saja tidak semua orang seperti itu… Orang yang sehat dan seimbang Id, Ego dan Superego-nya dapat menikmati hidup ini dan menghargai sekelilingnya, termasuk keindahan alam di sekitar kita.

Aku ingin memperkuat argumenku dengan teori yang diajukan oleh ahli geologi terkemuka, Charles Darwin. Menurut Darwin, “Manusia dicirikan tidak hanya dengan fisik yang khas, namun juga dengan sifat-sifat psikis tertentu.” Salah satu butir penjelasannya menyebutkan bahwa; manusia normal memiliki moral; dalam arti manusia yang beretika.

Secara jelas Darwin telah membuat definisi normal dan tidak normal pada diri manusia berdasarkan pada moral dan etika yang meliputi tentang adab bertingkah laku, cara berkomunikasi yang baik, cara menghargai orang lain, hak, kewajiban, serta menunaikan tanggungjawab atas apa yang telah diperbuat. Jangan sampai ketidaknormalan dalam beretika ini membuat manusia menjadi sederajat dengan hewan bukan?

Albert Camus, seorang filsuf terhormat dalam bukunya menyebut Nietzche yang dikenal dengan paham nihilisme-nya pernah berteriak dengan putus asa: “Hati nuraniku dan hati nuranimu tidaklah sama!”

Nihilis (bukan atheis) yang tidak mampu mempercayai sang kuasa saja bisa berbicara tentang hati nurani. Sementara orang-orang yang memiliki keyakinan ada sebagian dari mereka yang justru sudah kehilangan hati nuraninya hingga tega menjadi predator bagi sesamanya.

Dunia ini gila? Tidak, dunia ini sama saja dari dulu hingga sekarang… Hanya penghuninya yang terkadang memiliki ego yang tinggi, gila kekuasaan hingga menghalalkan segala cara dengan menggunakan topeng-topeng berwajah baik.

Persamaan diantara keduanya adalah sama-sama mengingkari untuk menerima dunia ini seperti apa adanya. Itu sebabnya manusia dari waktu ke waktu ingin merubahnya dengan caranya masing-masing. Kenyataannya mereka hanya mampu memolesnya diatas fondasi yang tetap sama. Lalu terus cakar-cakaran untuk berusaha menganti polesan tersebut.

Tulisanku ini mungkin agak panjang lebar dan sulit dimengerti bagi sebagian orang walaupun aku sudah berusaha menulis dengan bahasa yang ringan dan sederhana… Tidak masalah, karena seorang filsuf seperti Derrida pun pernah menyatakan bahwa;

“Tidak ada bahasa baik tertulis atau lisan, yang secara sempurna menjadi sarana transparan untuk menjelaskan makna.”

Mungkin kamu berpikir aku mencari pembenaran atas sikap dan prinsipku lewat berbagai dalil dan teori. Tapi, aku rasa semua orang berhak memiliki alasan kuat yang mendukung tindakan dan ucapannya hingga menjadi sebuah prinsip yang kuat. Sebab jika tidak kita akan jadi mudah goyah, gampang diprovokasi hingga akhirnya tidak lagi menjadi diri sendiri. Ini adalah salah satu dasar yang membuat aku berbeda dengan orang lain yang suka ikut-ikutan, dan membuatku tidak tergantung dengan orang lain.

Memiliki sikap dan prinsip yang kuat menbuatku percaya diri dengan semua yang aku putuskan, semua yang aku lakukan dimana pun aku berada. Aku tidak pernah takut sendirian, di tempat yang sangat asing sekali pun. Aku berani menyatakan pendapatku karena aku tahu memiliki dasar yang kuat dibalik itu semua. Aku berani melakukan hal-hal yang mungkin tidak pernah kamu bayangkan…

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 6.30 sore. Bayangan masakan Thailand yang lezat menari-nari di kepalaku… Rasa pedas dan harum rempah-rempah yang aku rindukan membuatku ingin segera menuju kesana… Garçon! L’addition, s’il vous plait!

___________________

___________________

NB:

Tulisan ini sengaja dibuat berbeda dengan tulisan-tulisan perjalanan dan ulasan cafe lainnya karena disini cafe hanya dijadikan backgroud dari isi tulisan. Tentunya lebih mudah bagi saya menulis review dan memberi informasi tentang traveling, kopi dan café lewat tulisan seperti biasanya, tetapi saya ingin ada beberapa yang lebih berbobot dengan memasukkan pemikiran dan unsur ilmu pengetahuan ke dalamnya.

Semua ditulis tetap dengan bahasa yang mudah dipahami. Penggunaan “Aku” dalam beberapa tulisan agar jarak penulis dan pembaca tidak terlalu jauh, dan semoga pembaca dapat lebih merasakan isi tulisan ini.

Saya juga berharap pembaca dapat memberikan komentar, kritik dan saran tentang tulisan ini lewat Twitter @RianaRaraKalsum atau ke Email:

rianapamuncak@gmail.com

Terimakasih… Happy reading!

L’Apres Midi à Unisex Bar, avenue des Champs Élysées Paris

Unisex Bar berada di jalan terkenal avenue des Champs Élysées, Paris. Lokasinya berada tak jauh dari hotel Marriott Champs Élysées, dan butik Chanel yang baru. Tempat yang strategis ini membuat Unisex Bar selalu ramai dipenuhi pengunjung.

Sebutan Bar di Paris adalah tempat untuk makan dan minum cepat yang langsung dikonsumsi di tempat. Biasanya pengunjung yang datang minum kopi atau minuman lainnya, dan segera keluar setelah selesai minum. Selain itu bar biasanya juga dilengkapi dengan alunan suara musik dengan pencahayaan yang tidak terlalu terang.

Unisex Bar bukan tempat minum kopi dan makan favoritku… Dari eksterior dan interiornya yang bergaya modern dengan dominasi warna merah cerah saja sudah tak menarik perhatianku. Unisex Bar tidak berkesan “Perancis” sama sekali. Tapi entah kenapa, hampir setiap hari di Paris aku selalu mengunjunginya. Salah satu alasan yang paling masuk akal mungkin karena jarak hotelku berada tak jauh dari tempat ini sehingga aku leluasa datang kapan saja.

Aku memesan secangkir kopi pada seorang garçon, sebutan pelayan dalam bahasa Perancis. Pria berwajah Italia ini sepertinya masih magang sehingga agak canggung mengerjakan tugasnya. Ia berusaha berbicara dalam bahasa Inggris yang patah-patah, mungkin dikiranya aku tak dapat berbahasa Perancis. Aku lalu berkata agar ia berbicara dalam bahasa Perancis saja. Raut wajahnya tampak lega.

Aku paling suka duduk di bagian teras sambil memandang panorama kota Paris yang indah. Walaupun untuk duduk di teras pengunjung harus membayar lebih mahal karena pemiliknya harus membayar sewa penggunaan tratoar pada pemerintah Perancis. Sepertinya pengunjung tidak terlalu peduli karena bagian teras merupakan favorit sehingga selalu saja ramai, bahkan di musim dingin sekalipun.

Unisex bar lebih mirip sebuah cafe karena pengunjung yang datang senang minum kopi dan makan sambil duduk berlama-lama, tidak seperti lazimnya bar dimana setelah minum kopi mereka segera membayar dan pergi. Mungkin karena berada di daerah turistik, jadi tidak ada yang terlalu peduli ini bar atau cafe.

Aku kembali meneguk kopiku… Sudah tidak panas lagi, mungkin karena cuaca yang dingin. Aku senang menikmati saat-saat sendiri di tempat yang berbeda-beda… Kesempatan berpikir dengan sudut pandang baru, berdialog dengan diri sendiri, sekaligus menambah wawasan baru tentang berbagai hal yang berbeda…

Begitu pula ketika aku berada disini, di tempat yang tidak aku sukai tetapi selalu aku datangi… Apakah manusia memang begitu? Melakukan hal yang tidak disukainya tanpa beban? Melawan kehendak hatinya karena alasan-alasan sepele? Mungkin ada ribuan jawaban yang berbeda-beda… Setiap kepala, isinya berbeda-beda pula… Betapa rumitnya dunia!

Ah masa? Aku bergumam dalam hati… Aku santai saja tuh melakukan hal yang tidak aku sukai… Tapi aku kemudian berpikir, tergantung dari apa dulu yang kita lakukan… Selama tidak merugikan orang lain, tidak ada salahnya bukan?

Pikiranku jadi melebar ke hal lain… Aku jadi ingat banyak orang melakukan kejahatan yang juga mungkin bertentangan dengan hati kecilnya tapi tetap dilakukan. Bagaimana bisa? Padahal sudah tahu perbuatan tersebut ada resikonya? Apakah alasannya sebanding jika tahu resikonya? Ini tidak masuk akal bagiku, dan bagimu juga kan?

Saking komplitnya pemikiran manusia, jadi tumbang tindih, sehingga saat menimbang keputusan jadi rancu dalam membuat pilihan. Di dalam setiap pilihan pun, baik atau buruk pasti ada resikonya. Pilihlah yang resikonya paling baik… Itu teorinya… Kenyataannya manusia sering mengikuti kata hatinya. Entah egois, atau super ego-nya yang dominan.

“Mademoselle, vous voulez encore un café?”

Pelayan ganteng berwajah Italia tiba-tiba muncul dan membuyarkan pikiranku.

“Non, merci! L’addition s’il vous plait!”

Aku segera membayar kopiku dan melanjutkan perjalanan… Setiap tempat memiliki cerita dan kenangan tersendiri, mungkin ini yang membuat perjalananku menakjubkan!

KOPI SOLOK ASNEL CAP GELAS TANGKAI

Hello coffee lovers! Kemaren saya mendapat oleh-oleh kopi tradisional dari Solok, Sumatera Barat. Kopi Asnel cap Gelas Tangkai merupakan biji kopi robusta murni pilihan yang diproses secara tradisional. Tempatnya sudah berdiri puluhan tahun hingga pemiliknya pun sudah turun temurun.

Aroma yang keluar dari kopi dengan medium roasted ini sangat khas dan harum. Flavornya pun memiliki keunikan seperti kopi Sumatera Barat lainnya yang terkenal karena kondisi alam dan kontur tanahnya. Body kopi tidak terlalu kental, dan tidak meninggalkan rasa asam sama sekali. Cocok diminum sore dan malam hari karena jenis kopi robusta tidak sekuat arabika, jadi tidak menganggu jam tidur. Kecuali anda ingin begadang, ya beda lagi ceritanya…

Bagi masyarakat Solok, selain nikmat, kopi ini memiliki banyak kenangan karena sudah berdiri bertahun-tahun dan hingga kini masih mempertahan cara-cara tradisional dalam proses roasting sehingga rasa khasnya tidak berubah. Kopi Asnel Cap Gelas Tangkai masih menggunakan manual brewing agar ketajaman rasa kopi dan karakteristik dari kopi muncul. Jika terbiasa menyeduh dengan alat pembuat kopi, maka terasa sekali kekhasan dan nikmatnya kopi Asnel Cap Gelas Tangkai.

Bagi Coffee Lovers yang lagi kangen kampung halaman, wajib coba kopi dari kampuang nan jauah di mato iko!