PENGALAMAN KEHILANGAN PASPOR DI PARIS

Setiap perjalanan liburan selalu menyisakan cerita… Bahagia itu pasti… Betapa menyenangkannya menyaksikan dan menikmati tempat-tempat indah langsung dihadapan mata… Tetapi terkadang kita juga tidak dapat menghindari kejadiaan naas yang terjadi diluar dugaan dan kuasa manusia. 
Sebenarnya saya agak berat menulis ini… Tapi di Blog yang isinya khusus untuk traveling dan cafe ini, saya tidak ingin hanya menyajikan cerita bahagia liburan saja. Kesannya saya hanya memberi mimpi tanpa memberitahu realita suka dan duka selama liburan. Bagaimana pun anda harus tahu agar siap jika hal-hal buruk terjadi dan tahu bagaimana cara untuk menghindarinya.
Dalam beberapa tulisan sebelum ini saya sering menulis perlu persiapan mental yang kuat jika traveling seorang diri. Kenapa? Karena kita tidak pernah tahu kejadian apa yang akan menimpa selama perjalanan.

Ketika merencanakan liburan tentu kita berharap dan membayangkan liburan akan menyenangkan dan berjalan lancar. Rencana sudah dibuat, tempat-tempat yang akan didatangi rutenya sudah dihapal dengan baik. Persiapan sudah matang, dan barang-barang yang penting juga sudah diamankan. Tapi ingat selalu sebuah pepatah yang mengatakan; “Manusia bisa berencana tapi Tuhan juga yang akan menentukan.”

Pepatah ini bukan isapan jempol. Saya sudah merasakan sendiri sebuah kejadian tidak menyenangkan pada saat liburan di Eropa bulan Maret 2017 kemaren.
Sering traveling sendiri membuat saya sangat percaya diri dan terkadang menggampangkan sesuatu.

Kejadian ini bermula ketika berbelanja di penghujung liburan saya di Paris. Setelah berbelanja pihak kasir biasanya menanyakan paspor untuk mengurus tax barang belanjaan. Terakhir berbelanja hari sudah malam, dan karena akan segera kembali ke hotel saya mencemplungkan dompet paspor ke dalam tas pertama yang tanpa ritsliting. Biasanya saya meletakkan dompet paspor di dalam tas kedua yang ukurannya lebih kecil daripada tas pertama yang ukurannya lebih besar. Tas kedua saya ini ada ritslitingnya, tapi bertali pendek sehingga saya masukkan ke dalam tas besar bertali panjang tanpa ritsliting.

Saya tidak menyadari lagi hingga keesokan harinya tiba di bandara. Sekitar jam 17.00 sore waktu Paris, saat akan check in dan bersiap mengeluarkan paspor, saya terkejut karena dompet paspor sudah tidak ada di dalam tas pertama dan tas kedua. Saya membongkar dan mengeluarkan seluruh isi tas, tapi tidak juga menemukan dompet paspor saya. Lalu saya diminta ke pinggir ruangan oleh petugas bandara, dan mengecek seluruh koper saya untuk menemukan dompet paspor tersebut. Satu demi satu seluruh koper dibuka dan dompet paspor tidak juga ditemukan.

Saat itu artinya saya tidak mungkin bisa keluar Perancis tanpa paspor. Saya kemudian diarahkan oleh petugas ke counter airlines yang saya gunakan untuk menunda penerbangan saya dan membuat jadwal penerbangan baru. Dengan perasaan kesal dan marah saya lalu membatalkan kepergian saya pada hari itu. Yang membuat makin jengkel tidak ada satu pun kursi kosong hingga 3 hari ke depan alias full dan KBRI akan tutup selama weekend. Sementara tidak ada satu pun identitas yang melekat pada diri saya. Tanpa identitas saya tidak bisa check in di semua hotel di Paris. Dengan bantuan petugas jaga maskapai penerbangan lalu saya dihubungkan melalui sambungan telepon pada seorang teman di KBRI Paris yang akan membantu saya untuk mengurus surat jalan pulang pengganti paspor di KBRI Paris. Dalam hal ini kemudian pihak KBRI sangat responsif dan sangat cepat memproses surat izin pulang saya.

Sambil mengurus penalti tiket dan telepon sana sini, tanpa saya sadari hand bag saya raib entah dimana. Saya tidak habis pikir kemana handbag yang selalu berada disamping saya bisa ikutan menghilang. Akhirnya saya mencari petugas informasi bandara untuk melaporkan kehilangan. Ternyata petugas informasinya tutup, dan saya harus ke petugas informasi lain. Dari sana saya malah disuruh melapor ke kantor polisi bandara. 

Setiba di kantor polisi bandara, petugasnya kemudian menghubungi polisi lain yang ternyata sudah berkumpul di depan bandara. Entah bagaimana ceritanya handbag saya sudah tergeletak di depan pintu masuk bandara. Terjadi kepanikan karena handbag tersebut tidak ada identitas. Polisi-polisi dengan rompi anti bom berjaga di dekat tas tersebut. Mereka mengira itu bom! Saya pucat pasi dan makin shock… Rasanya badan saya ikutan lemas dan mau pingsan saja… 

Kemudian saya disuruh mematikan ponsel dan mendekati hand bag tersebut. Saya jelaskan itu memang handbag saya dan isinya hanya jaket, syal dan coklat! Saya tetap disuruh membongkar isi tas tersebut di tempatnya dengan dikelilingi petugas kepolisian anti teror dengan rompi-rompi anti bom.
Hadehhh mangkel banget rasanya… Setelah terbukti handbag tersebut isinya sesuai yang saya bilang diatas, lalu saya disuruh masuk kembali ke ruangan polisi untuk di-interview. Saya dianggap telah membuat kepanikan dan membuat repot dengan handbag saya yang tanpa identitas tersebut. Apalagi saya tidak mempunyai identitas alias paspor saya hilang.
Untung para polisinya baik dan percaya sama saya. Saya malahan justru dibuatkan surat kehilangan paspor agar saya tidak perlu repot-repot lagi mengurusnya di Paris. Sesekali mereka bercanda, mungkin karena saya sudah mangkel banget… Bahkan saya diledek karena bulu mata palsu saya lepas… Tidak menunggu lama lalu saya diperbolehkan kembali ke Paris… Duhh saya benar-benar bersyukur banget! Terimakasih pak polisi ganteng… ehh… 

Jam 2 malam saya tiba di Paris. Tampang saya sudah bete banget… Saya kembali sadar bahwa saya tidak bisa mendaftar di hotel tanpa identitas. Saya kemudian mampir ke sebuah cafe, lalu menghubungi seorang teman dari KBRI lewat aplikasi WhatsApps. Tak lama saya dijemput dan ditolong menginap di sebuah apartemen kosong bertingkat 3 (milik pribadi) yang sangat mewah dilengkapi kolam renang dan ruang party pribadi yang berada tepat di depan Arc de Triomphe, disamping Avenue des Champs Elysées.

Terimakasih untuk apartemen pribadinya yang indah.

Untuk teman-teman di Paris yang sudah membantu saya, di saat saya tidak mempunyai identitas, saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya… Juga kepada pihak KBRI Paris saya mengucapkan banyak terimakasih… Semoga kejadian buruk tidak terulang kembali pada saya.

PS. Pesan moral dari tulisan ini adalah:

1. Hati-hati menyimpan paspor di dalam tas. Letakkan paspor di dalam dompet khusus paspor lalu simpan di dalam saku tas yang ada ritslitingnya. Bila perlu gunakan rantai untuk menyangkutkan dompet paspor ke ritsliting tas. Ingat bahwa kehilangan paspor akan menyusahkan anda di negara lain, terlebih bila KBRI berada jauh dari lokasi anda berada.

2. Bawa tas yang ada ritslitingnya, dan ujung ritsliting berada di depan. Apabila pergi traveling sendiri ke tempat-tempat yang sekiranya kurang aman, sebaiknya tidak berpakaian terlalu mencolok dan bermerek karena akan menarik perhatian dan mengundang maling, kecuali benar-benar berani dan bisa menanggulangi keadaan jika terjadi sesuatu.

3. Beri name tag di setiap tas dan koper, dan di dalamnya masukkan kartu nama atau identitas pribadi.

4. Tetap tenang dalam kondisi apapun. Kepanikan saya saat kehilangan paspor telah membuat saya mengalami kesialan lain, yaitu kehilangan handbag juga yang akhirnya malah semakin memperpanjang masalah.

5. Jangan menyalahkan orang lain. Kejadian buruk yang menimpa terjadi karena keteledoran dan sikap kurang hati-hati saya sendiri. Saya juga tidak ingin berlarut-larut menyalahkan diri sendiri. Yang harus saya lakukan kedepannya adalah fokus, teliti dan lebih hati-hati agar kejadian ini tidak terulang kembali.

6. Percaya diri tapi tetap waspada. 
Hingga hari ini saya masih tidak mengerti dimana hilangnya paspor saya. Selama liburan kemaren, saya berkali-kali dikira warga Rusia oleh orang berbeda, dan di tempat yang berbeda pula (lebih 10 kali). Mudah-mudahan hilangnya paspor saya tidak ada kaitannya dengan ini.

Selain itu jangan mudah percaya pada orang lain (berdasarkan pengalaman pribadi), Percaya pada diri sendiri dan ikuti hati nurani.
Apapun itu, jangan lengah dan harus selalu hati-hati dan waspada dalam menanggapi sesuatu. Mudah-mudahan anda dapat mengambil hikmah dari tulisan ini dan tidak mengalami kejadian yang sama. 

FONDATION LOUIS VUITTON, PARIS

Fondation Louis Vuitton dibuka untuk publik pada bulan Oktober tahun 2014. Bangunan seluas 3800 meter persegi ini dirancang oleh arsitek terkenal Frank Gehry dan pembuatannya disponsori oleh perusahaan raksasa Louis Vuitton. Desain Fondation Louis Vuitton terlihat fantastis dengan gaya kontemporer, atau disebut juga gaya arsitektur deconstructivism dengan ciri-ciri bangunan yang dibuat tidak simetris dan tidak ada keharmonisan pada permukaan bentuk dan struktur.

Fondation Louis Vuitton adalah sebuah galeri dan museum seni budaya. Bangunan ini juga menjadi wadah kreatifitas, serta sering mengadakan pameran seni dari karya-karya seniman kontemporer. Seluruh isi dan barang yang dipamerkan di Fondation Louis Vuitton tidak ada kaitannya dengan rumah mode Louis Vuitton. Tidak satu pun koleksi Louis Vuitton dapat ditemukan di galeri dan museum seni ini.

Fondation Louis Vuitton merupakan bangunan spektakuler yang didesain dengan sangat cermat dan memiliki presisi yang tinggi. Hampir seluruh bangunan dirancang menggunakan elemen kaca dengan warna-warna yang menarik. Sedang di bagian bawah terdapat sebuah kolam dengan sistem air yang turun melewati puluhan anak tangga. Seorang penjaga siaga berdiri diujung kolam selama jam buka Fondation Louis Vuitton.

Pengunjung yang masuk ke bagian bawah akan ditemani oleh musik aliran zein yang menenangkan sepanjang perjalanan, sehingga dapat mengapresiasi dan menilai benda-benda seni yang dipamerkan dari sudut pandang masing-masing.

Fondation Louis Vuitton juga memiliki fasilitas cafe, yaitu Café Le Frank dengan arsitektur modern dan kontemporer yang disediakan bagi pengunjung yang ingin beristirahat sambil menikmati makanan dan minuman. Cafe ini juga dirancang oleh arsitek Frank Gehry menggunakan ornamen kaca dan hiasan ikan yang digantung dibagian langit-langit cafe. Dari sini pengunjung dapat memandang Jardin d’Acclimatation yang berada di luar Fondation Louis Vuitton. Pilihan lainnya adalah duduk di teras cafe yang langsung berada di area taman dengan pemandangan menakjubkan langsung ke arah Fondation Louis Vuitton dan Jardin d’Acclimatation. Jadi jika anda ke Paris jangan melewatkan untuk mampir dan menikmati sebuah pengalaman istimewa berada di sebuah tempat spektakuler yang mencatat sejarah seni modern dan kontemporer dunia.

Bar Madonnina, Milan

Bar Madonnina lokasinya berada tepat di belakang Duomo, gereja paling terkenal di Milan. Letaknya yang strategis membuat Bar Madonnina selalu ramai dipenuhi pengunjung. Dari Bar Madoninna pengunjung dapat melihat langsung Duomo dan jalan yang dipenuhi oleh toko-toko dan gallery. Favorit saya duduk diterasnya karena bisa sekalian cuci mata hehehe…

Bar Madoninna lebih mirip sebuah restoran dibanding bar yang ada di Indonesia. Sebutan Bar di Italia untuk nama lain tempat minum kopi. Disini selain kopi dan cake juga disajikan beragam kuliner khas Italia. Untuk kopi tak perlu khawatir karena hampir semua bar, cafe dan restoran di Italia menyajikan kopi yang nikmat dan dibuat oleh barista pilihan. Kopi favorit saya jenis cappucinno, dan saya sering memesannya disetiap waktu walau di Italia tak lazim meminum cappuccino setelah jam 10 pagi. Namanya juga suka…gimana dong? Hehehe… Sesekali ada juga yang melihat dengan pandangan heran kalau saya pesan cappuccino pada sore hari, tapi cappuccino di Italia rasanya juara dan sayang untuk dilewatkan! 

Coffee Time

Minum kopi sambil baca buku adalah dua hal yang sangat menyenangkan. Coffee lovers dapat melakukannya dimana saja, di rumah, di cafe, dan bahkan di perjalanan sambil killing time. Entah sudah berapa buku saya selesaikan sambil minum kopi favorit, membuat rasa suka saya terhadap kopi kian hari kian bertambah. 
Biasanya saya minum kopi dengan tambahan krem, atau kopi susu di pagi hari, siangnya minum espresso atau black coffee, dan malamnya kembali minum kopi dengan krem atau kopi susu. Ada yang kurang lengkap jika tak ada buku di dekat saya saat minum kopi untuk waktu yang cukup lama. Beruntung saat ini dimana-mana ada toko buku, tapi kalau sedang di rumah saya lebih sering membeli buku secara online. 

Buku yang bagus menurut saya adalah buku yang memberi informasi, mencerahkan, membuka pikiran, dan pembaca dapat mengambil pelajaran dari buku yang dibacanya. Tentu saja sesekali tidak apa-apa kita membaca buku lainnya sebagai hiburan atau selingan saja. Yang penting jangan malas membaca ya! 

Benedict Coffeebar

Ketika berada di Grand Indonesia saya berkesempatan minum kopi di Benedict Coffeebar. Coffeebar berkonsep minimalis ini mempunyai beragam varian kopi premium dari daerah-daerah di Indonesia yang diolah menjadi aneka jenis minuman kopi. Sebagai orang Indonesia saya ikut bangga karena negara kita adalah salah satu negara produsen kopi terbesar di dunia dan juga penghasil kopi berkualitas terbaik yang sudah diakui oleh negara-negara lain.

Saya memesan Coconut Latte di Benedict Cofffebar. Kopi dengan taburan dehydrated coconut dan gula melaka syrup ini sungguh sangat nikmat… Diracik ala Indonesia membuat kopi ini mempunyai cita rasa luarbiasa. Aroma harum dari campuran kopi, susu, dehydrated coconut, dan sirup gula melaka begitu menggoda selera. Flavor kopinya memang agak hilang karena ada tambahan dehydrated coconut dan sirup gula melaka, tapi ini yang justru menjadikan Coconut Latte unik.

Sebagai penggemar kopi saya senang sekali dapat mencoba beragam jenis kopi dengan berbagai rasa dan keunikannya. Begitu pula dengan cafe-cafe yang saya kunjunginya, semua mempunyai ciri khas masing-masing dan meninggalkan kesan dengan keberagaman jenis suguhan kopinya.

Kopi Marco @ Marco Padang Peranakan

Salah satu kopi favorit saya adalah Kopi Marco Padang Peranakan. Awalnya saya diajak oleh seorang sahabat untuk mencoba kopi ini, kemudian disarankan untuk memesan kopi susu panas. Setelah itu akhirnya malah jadi ketagihan. Kopi susu ini memang berbeda dari biasanya. Kopi susu panas Marco aromanya lembut, rasa manis dari susu mendominasi tapi tidak menghilangkan flavor kopi, dan bodynya kental. Berbeda dengan Café au lait atau coffee cream yang light dan lebih cair.

Saya bukan ahli kopi, hanya penggemar minuman kopi, jadi cara penilaian saya mungkin berbeda dari yang ahli. Tapi, bukan mustahil jika suatu saat nanti saya ingin belajar lebih serius tentang cara pembuatan kopi dan cupping. Sepertinya menarik ya!

Marco Padang Peranakan lokasinya di Grand Indonesia. Restoran dengan konsep modern ini cukup manarik, sayangnya karena berada di dalam mal jadi tidak ada teras dan ruang terbuka. Selain itu tempat duduk pengunjung terlihat dari luar, dan untuk duduk di bagian dalam harus reservasi dulu. Kebanyakan pengunjung yang datang memang untuk makan karena menu masakan Padang Peranakannya enak. Untuk makanannya saya suka iga bakar, gulai kambing, sate padang dan nasi Saiyo. Jika ingin mencoba sesuatu yang berbeda dari masakan Padang biasa, restoran ini bisa jadi alternatif pilihan.